Mohon tunggu...
MAKRIPUDDIIN
MAKRIPUDDIIN Mohon Tunggu... Guru - Guru

Sebagai seorang guru jiwa selalu meronta untuk membantu siswaku meraih kesuksesan, tidak perduli lelah dan letih bagi saya mereka adalah teman sekaligus rasa bangga saya ketika melihat mereka berhasil meraih mimpinya. Bisa dibilang sudah menjadi bagian dari hobi selain membaca, menulis dan nonton film animasi. Berbagi cerita dengan siswa, mendengar kegundahan dan membantu mereka untuk berani melawan rasa takut mereka memiliki makna tersendiri.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Aku Berharap Dia adalah Ayahku

3 Desember 2022   12:52 Diperbarui: 6 Desember 2022   19:35 122
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Assalamualaikum, Ayah pergi ke sawah dulu ya"

"waalaikumsalam" jawab bunda, Sambil mencium tangan ayah.

Ayah segera menuruni anak tangga, langkah kakinya penuh keyakinan dan bertenaga. Walau usianya yang sudah tua, beliau tak pernah lupa untuk membawa senjata andalannya, yaitu sebuah jangkul tua yang selalu dipikul di pundaknya yang sudah rapuh, terlihat jelas tulang dadanya yang menonjol, karena kulit yang sudah mulai mengkerut.

Bunda kembali ke dapur untuk mempersiapkan sarapan. Aku yang dari tadi memperhatikan sosok laki-laki tua, pekerja keras untuk keluarganya, menjadi kagum dengan semagat yang dimilikinya.

"Nanti saya ingin seperti beliau, selalu semangat untuk keluarga", bisikku dalam hati.

Beliau selalu berangkat ke sawah, setelah menyelesaikan solat subuh berjamaah di masjid dan minum segelas air putih, sang surya saja masih bersembunyi di balik selimut awan seakan begitu menikmati dinginnya pagi. Orang-orang kampung sepertinya masih berada di peraduan, karena tidak ada yang lalu lalang.

Tumben tak terdengar ayam jantan yang saya pelihara tidak berkokok, biasanya suara mereka terdengar seperti alunan musik di pagi hari. Saya yang sedari tadi siap dengan pakaian seragam sekolah, kembali membaca materi pelajaran, untuk persiapan hari ini biar ada gambaran ketika guru menjelaskan. Kebiasaan ini sudah saya lakukan sejak duduk di sekolah MTs, setelah selesai membaca beberapa materi, saya menuju dapur di mana ibu sedang bergelut dengan cobek yang terbuat dari tanah liat, saya mencium aroma jeruk purut yang sangat khas, tak terasa air liur menerebos keluar di selah-selah bibir, karena tak tahan mencium aroma sambel plecing yang dibuat bunda. Saya telan kembali seolah tak terima jika jatuh begitu saja. He.. he... he...

Setelah semua bahan dihaluskan menjadi satu, mulai dari cabai, tomat, terasi, garam dan bumbu penyedap dan paling penting adalah perasan air jeruk yang menggugah selera makan. Kemudian kangkung yang sudah direbus terlebih dahulu dengan air garam, setelah belah, disobek agar tidak terlalu panjang, dengan tujuan untuk memudahkan kita menyantapnya.

"Tada...  plecing kangkung khas Lombok siap dinikmati" kata bunda dengan mengikuti gaya ala-ala chef master. Tenang, untuk ayah, bumbunya sudah dipisahkan agar tidak terkesan sisa. Sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada suami, hal ini biasa dikatakan kepada adik perempuan saya.

Berharap jika kelak jadi isteri harus memberikan penghormatan dan bisa menghargai jerih payah dan pengorbanan suami. Senang mendengar nasehat bunda kepada adik perempuanku.

"Apakah nanti saya akan mendapatkan isteri yang akan menghormati dan menghargai saya?"

Bersambung... 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun