Mohon tunggu...
Maimai Bee
Maimai Bee Mohon Tunggu... Novelis - Penulis

Hai. Saya Maimai Bee, senang bisa bergabung di Kompasiana. Saya seorang ibu rumah tangga yang mempunyai tiga orang putra. Di sela waktu luang, saya senang membaca dan menulis. Salam kenal.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Mati Suri (Bagian 4)

3 November 2022   13:09 Diperbarui: 3 November 2022   13:15 144
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Semakin dekat ke puri, hawa dingin berkurang. Tampak dua penjaga berbaju zirah berkilau menghadangku. Mereka menatap jubah hitamku sekilas. "Namamu tidak ada dalam daftar," kata penjaga sebelah kanan.

"Ya, tapi aku sudah berada di sini sekarang," jawabku menguatkan diri. "Aku ingin bertemu Tuan Hakim."

Penjaga sebelah kiri menggeleng. "Seharusnya kau kembali ke dunia. Waktumu belum tiba."

"Dia menyingkap tudungku dan melihat wajahku. Dia tidak bisa pulang tanpa restu Tuan Hakim," ujar Finn tersengal-sengal dari atas kuda, sepertinya berbicara menguras banyak tenaga. Kugenggam tangannya, sinar matanya kian meredup.

"Tolonglah, Tuan. Aku harus bertemu Tuan Hakim," desakku tak sabar. Aku sungguh takut Finn akan menghilang dan tak tertolong. Pria itu sudah semakin lemah.

Penjaga itu saling pandang. Lalu salah satu mengangguk. "Sepertinya Finn sudah banyak mengorbankan jiwanya untuk menolongmu," ujarnya sambil membuka gerbang tinggi. Temannya menahan tali kekang kuda Finn.

"Tidak, aku harus pergi bersamanya!" seruku merampas tali itu dari tangan penjaga.

"Dia tidak boleh pergi dengan kuda," jawab sang penjaga.

"Aku akan memapahnya," jawabku tegas berusaha menurunkan Finn dari punggung kuda.

Setelah beberapa saat, kedua penjaga itu membantuku. Aku berjalan tertatih-tatih memapah Finn. Tubuhnya yang tinggi besar bersandar padaku. Pria itu tidak terlalu berat, karena hanya rangka tengkorak tanpa otot dan lemak.

Kami tiba di sebuah ruangan putih yang luas, awan seputih kapas melapisi permukaan lantainya. Tampak sosok yang diliputi cahaya putih menyilaukan duduk di atas singgasana yang berkilauan. Aku menunduk tak sanggup memandangnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun