Mohon tunggu...
Mahir Martin
Mahir Martin Mohon Tunggu... Guru, Aktivis dan Pemerhati Pendidikan

Penulis: Satu Tahun Pembelajaran Daring, Dirayakan atau Disesali? (Penerbit Deepublish, 2021); Hikmah Pandemi Covid-19 Relevan Sepanjang Masa (Guepedia, 2021); Motto: Reflection Notes: Ambil hikmahnya...

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"Lupa" Merayakan Hari Anak Nasional

24 Juli 2020   10:31 Diperbarui: 24 Juli 2020   10:38 73 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Lupa" Merayakan Hari Anak Nasional
Ilustrasi anak-anak(THINKSTOCKS/DRAGONIMAGES) via kompas.com

Hari ini tanggal 24 Juli. Tak ada yang istimewa memang di tanggal ini, yang istimewa adalah satu hari sebelumnya, tanggal 23 Juli. Kemarin diperingati sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Aduh, saya lupa merayakannya. Mungkin karena terlalu fokus dengan memikirkan pandemi yang tak kurun berakhir.

Ya, setiap tanggal 23 Juli di Indonesia diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Tanggal 23 Juli dipilih karena pada hari itulah disahkan undang-undang tentang kesejahteraan anak. Hari anak sebenarnya diperingati berbeda-beda di seluruh dunia. 

Tahun ini HAN harus diperingati dari rumah karena virus masih mengancam kita semua. Seharusnya hari ini dirayakan dengan gembira oleh anak-anak, dengan bermain dan berlarian maupun mengadakan karnaval di sekolah.

Konsiderasi Lupa Merayakan Hari Anak Nasional

Terlepas dari nilai historisnya, mungkin tidak banyak orang yang mengingat tanggal 23 Juli itu diperingati sebagai HAN. Termasuk saya yang lupa dengannya.

Mengenaskan memang ketika kita melupakan hari yang penting buat anak-anak ini. Hari yang seharusnya bisa kita rayakan dengan anak-anak kita. Hari dimana seharusnya kita bisa meluangkan waktu dengan mereka. Apalagi di era pandemi seperti ini dimana kita banyak menghabiskan waktu dirumah, seharusnya momen ini tidak terlupakan.

Sebenarnya ada dua konsiderasi yang bisa kita ambil ketika kita "lupa" merayakan Hari Anak Nasional. Pertama, kita melupakannya karena memang bagi kita setiap hari adalah hari yang istimewa buat anak-anak kita. Setiap hari adalah hari anak bagi kita.

Saya teringat postingan status wa teman yang menuliskan, "Main dulu dengan anak sebelum bekerja". Menurut saya, postingan ini sangat inspiratif karena mengingatkan kita bahwa bermain dengan anak adalah hal yang seharusnya rutin kita lakukan, sebagaimana rutinitas kita berangkat bekerja.

Bahagialah bagi orang tua yang sudah bisa menerapkan sebuah sistem yang baik dalam kehidupannya, terutama dalam hal membangun kedekatan emosi dengan anak-anaknya. 

Konsiderasi kedua adalah bahwa kita memang benar-benar melupakan anak kita. Jangankan merayakan hari anak, bermain dengan anak saja terkadang kita tidak sempat. Inilah yang tidak semestinya. Apa mungkin ini terjadi? Jawabannya sangat mungkin terjadi. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan prioritas dan cara berpikir seseorang. 

Misalnya, ada seseorang yang lebih memprioritaskan karir dan pekerjaan dalam hidupnya. Hal ini menyebabkan karir dan pekerjaan menjadi hal utama yang harus dilakukan, yang lain adalah prioritas setelahnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x