Mohon tunggu...
Mahendra Paripurna
Mahendra Paripurna Mohon Tunggu... Administrasi - Berkarya di Swasta

Pekerja Penyuka Tulis Baca, Pecinta Jalan Kaki dan Transportasi Umum yang Mencoba Menatap Langit

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Renungkanlah, Pesan Berbagi Akan Terasa Begitu Bermakna, Saat Kita Sedang dalam Kesulitan

31 Desember 2020   07:45 Diperbarui: 31 Desember 2020   07:51 288
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Illustrasi berbagi - pixabay.com

Sepertinya sang dokter memiliki kecurigaan yang sama denganku. Ia menjadwalkan kami berdua untuk melakukan test swab keesokan harinya. Kami sekeluarga disarankan untuk mulai melakukan isolasi mandiri sampai hasil swab keluar.

Sesampainya di rumah agar tidak disalahkan, aku langsung menginformasikan ke pengurus lingkungan dan tempatku bekerja. Perihal kondisiku dan perintah dokter agar aku dan keluarga melakukan isolasi mandiri dan juga test swab.

Di sini aku mulai gamang. Bagaimana dengan kebutuhan makan sehari-hari keluargaku nanti. Masak anak-anak dan isteriku harus menahan lapar. Aku sempat berpikir akan nekat keluar mungkin pada malam hari untuk membeli kebutuhan kami.

Berita isolasi keluarga kami ternyata menyebar cepat lewat group whatsapp. Beberapa tetangga bertanya dan mensupport kami melalui ucapan penyemangat dan juga doa.

Aku baru merasakan betapa pesan 'Berbagi Kebahagiaan' demikian bermaknanya ketika seseorang berada dalam kesulitan. Jika sebelumnya aku sempat memberi bantuan tetangga yang dulu sempat isolasi dengan barang yang kuanggap 'remeh temeh'. Aku baru menyadari sekecil apapun pemberian kita bahkan mungkin hanya berupa ucapan dan doa, sangat besar sekali manfaatnya bagi orang yang sedang mengalami cobaan dan kesulitan.

Siang itu, pintu pagar rumah mulai sering diketuk. Ada saja tetangga yang mengirimkan kue-kue kecil hingga makanan besar dengan mencantolkannya di pagar rumah kami. Terharu dan bahagia sekali rasanya. Ternyata masih banyak orang yang peduli kepada keluarga kami.

Dok.pribadi
Dok.pribadi

Keesokan harinya aku dan puteriku datang kembali ke puskesmas untuk melakukan swab. Ternyata sudah banyak antrian pasien yang akan melakukan test swab. Saat itu ada 30 orang yang menunggu. Aku dan puteriku berada di urutan terakhir. Seusai swab kami diminta pulang dan menunggu informasi berikutnya di rumah. Puskesmas akan mengabari kami hasilnya melalui pesan whatasapp.

Selama menunggu hasil swab, setiap hari ada saja yang memberikan bantuan makanan. Mulai dari bubur ayam, soto ayam, sayur sop dan juga ada yang mengirimkan lauk pauk, mulai dari ayam bakar hingga telor mentah. Pokoknya kebutuhan makanan kami benar-benar terjamin.

Selain itu yang lebih membuat haru biru, ada juga salah satu tetangga yang menyempatkan diri memesankan obat-obatan herbal melalui layanan pengiriman JNE yang sedang mengusung slogan 'JNE 3 Dekade Bahagia Bersama'. Mulai dari kapsul Habbatusauda, Serbuk Qusthul Hindi, Madu, Sari Kurma dan juga Minyak Kayu Putih dari salah satu pondok pesantren.

Dok.pribadi
Dok.pribadi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun