Mang Arip SN
Mang Arip SN Guru

Learning to write, writing to learn

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Guru, Medsos dan Sikap Politik

12 Mei 2017   23:17 Diperbarui: 12 Juni 2018   01:09 353 0 0

Jika anda tertarik karena judul yang saya buat, mungkin anda telah salah klik, maaf, :)Dari judulnya saja mungkin anda sudah menduga arah tulisan ini, yang mungkin akan membahas bagaimana hubungan antara ketiganya, atau mungkin juga akan membahas pengaruh medsos terhadap sikap politik guru atau bahkan mungkin tak berkaitan sama sekali antara isi dengan judul. Saya sendiripun sebenarnya belum tahu secara pasti arahnya, yang terbersit ketika membuka laman ini hanya "saya lagi pengin nulis", gagasan yang ada pun spontan muncul setelah ingat beberapa status dan pendapat rekan-rekan guru yang ada di medsos khususnya grup WA dan FB.Tidak perlu saya ungkap berapa grup yang saya ikuti dan berapa lama atau berapa banyak teman medsos yang saya amati, bagaiman metode pengamatan saya, apakah secara mendalam atau hanya secara sekilas, karena ini bukan karya ilmiah yang harus memenuhi unsur-unsur tertentu sebagaimana yang digariskan oleh sebuah karya ilmiah, sekali lagi saya tegaskan bahwa saya hanya sedang ingin menulis.Sebagaimana warga masyarakat dan profesi yang lain, gurupun terdiri dari banyak karakter yang dipengaruhi oleh berbagailatar belakang. Meskipun pada umumnya guru mendapat stigma sebagai warga negara yang relatif terdidik dan memiliki tingkat kematangan berfiki yang lebih maju dibanding warga masyarakat pada umumnya, tetapi pada kenyataannya gurupun ternyata tidak bebas dari pengaruh-pengaruh yang mengelilinginya.Pengaruh media ternyata tidak pandang bulu, kekuatannya untuk mempengaruhi pola pikir, pandangan dan bahkan kepribadian seseorang tidak sebatas hanya pada orang-orang dengan latar belakang tertentu, tetapi merambah semua orang dengan latar belakang apapun. Stigma bahwa guru adalah sebuah profesi yang disandang oleh seseorang dengan kepribadian yang matang dan tidak mudah terpengaruh olehkeadaan linkungan serta segudang nilai positif lainnya yang melekat dalam diri seorang guru tidak sepenuhnya benar. Fakta bahwa banyak guru yang melakukan tindakan menyimpang hampir tak terhitung jumlahnya, baik penyimpangan yang besar maupun yang kecil.Bukan bermaksud mendiskreditkan profesi guru, saya hanya sedang menuangkan isi pikiran saya, -yang juga sudah terpengaruh oleh media-,Dalam pergulatan politik di Indonesia, selama ini guru diposisikan agar bersikap netral dan dihimbau untuk tidak terlibat dlam politik praktis, baik sebagai perorangan maupun secara organisasi. Apapun tujuannya, himbauan dan harapan atau bahkan perintah ini lebih banyak ditaati oleh guru dengan sukarela. Sebagaimana kebijakan-kebijakan yang lain, sebaik apapun kebijakan itu disusun tetap saja ada efek yang menyertainya. ebagian besar guru menjadi bersikap agak kurang peduli dengan politik, menganggap pembicaraan politik sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan secara terbuka.Kecenderungan sikap ini hampir selalu tampak dalam setiap obrolan di media sosial. setiap kali ada seseorang yang mengajukan topik politik maka penanggapnya sangat sedikit sekali dan hampir pasti akan muncul himbauan dari seseorang untuk menghentikan saja topiknya diganti dengan topik yang lain. Dalih yang muncul tidak jauh dari himbauan-himbauan dan arahan yang pernah diterima, salah satunya adalah agar guru lebih fokus bekerja mendidik siswa dengan lebih profesional dan tidak memihak berdasarkan latar belakang politik tertentu.Menurut hemat saya, sikap-sikap seperti ini justru bertentangan dengan profesionalisme guru. Sikap yang kontra produktif dengan hakikat pendidikan sebagai "sesuatu yang mencerahkan". Seorang guru yang profesional mestinya bisa memisahkan serta bisa menempatkan sesuatu sesuai porsinya, mana kepentingan yang berkaitan dengan profesinya dan mana yang berkaitan dengan kepentingan pribadinya.Profesionalisme SemuMungkin saja dalih profesionalisme hanyalah sebatas tameng untuk mencari aman agar terhindar dari konflik yang mungkin terjadi dan membahayakan dirinya. Guru yang seperti ini adalah mereka yang pro status quo, yang nyaman dengan keadaan yang sudah terjadi. fakta bahwa masih banyak guru yang tidak menguasai IT jadi salah satu bukti bahwa alasan profesionalisme hanyalah isapan jempol belaka. Apapun alasannya, jika seorang guru di jaman serba digital ini tidak menguasai IT maka bisa dipastikan guru tersebut akan kesulitan menyelesaikan tugas administrasi pembelajarannya. Padahal sudah jelas bahwa administrasi pembelajaran adalah salah satu tugas keseharian seorang guru profesional. Sedikit contoh lagi, dari sekian ribu kompasianer, coba kita hitung berapa persen yang berprofesi guru, kemudian dari grup "Sejuta Guru Ngeblog" di FB asuhan Sang guru Blogger kita, berapa anggotanya ? Juga dari grup guru yang lain yang jumlahnya mungkin ratusan bahkan ribuan, jarang sekali membicarakan aspek-aspek profesionalisme dibandingkan membicarakan keadan sehari-hari.Pluralisme Semu Penekanan agar guru selalu mengangkat semangat plurasime, kesetaraan, demokrasi dsb dalam proses pembelajaran ternyata dalam keseharian di medsos tidak seperti itu. guru takut membicarakan perbedaan yang berkaitan dengan SARA. Khawatir akan menyebabkan salah satu pihak ada yang merasa tersinggung apabila membicarakan sesuatu yang berbau SARA. Bukannya menyalahkan sikap seperti ini, namun sebagai pribadi yang dewasa dengan profesi yang sama dan tahu batas-batas etika diskusi, mestinya justru lebih enak dalam menyampaikan opini secara terbuka, mendiskusikannya b ahkan berdebat beradu pendapat dan argumentasi serta opini.\Dari beberapa contoh kontraproduktifisme di atas, yang paling saya herankan dan saya sayangkan serta sangat disesalkan adalah masih banyaknya teman guru yang melakukan copas artikel, istilah, gambar, konten milik orang lain (dengan penuh kebanggaan), bahkan ada juga yang gemar menyebar HOAX dan tanpa tahu bahwa itu adalah HOAX serta apa itu HOAX (Karena baru beberapa bulan pegang android yangakun WA-nya dibuatkan oleh pelayan konter)._______________________________________________________________________________________#Mohon maaf yang sebesar-besarnya nih teman-teman guru, saya buka sedikit dapur kita