M Khoirul Anwar KH
M Khoirul Anwar KH Pekerja Teks Komersial

Pencatat Fenomena

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Memulihkan Kreativitas Menulis dengan Kayu Putih Aroma

13 Januari 2018   02:26 Diperbarui: 13 Januari 2018   12:01 1494 0 1
Memulihkan Kreativitas Menulis dengan Kayu Putih Aroma
(Pemulih Kreativitas/Dok. Pribadi)

"Bagaimana cara mengawali tradisi menulis?"

"Seperti apa cara memelihara kreativitas menulis?"

"Apa yang musti dilakukan untuk mengatasi kemacetan menulis (writer's block)?"

Itulah beberapa pertanyaan yang tak pernah absen diajukan tiap kali saya diberi kesempatan mengisi pelatihan menulis.  Dari mulai siswa menengah pertama hingga mahasiswa pasca-sarjana, pertanyaan yang diajukan takkan pernah beranjak jauh dari itu. Ke manapun kaki melangkah dan lembaga apapun yang tengah disinggahi, pertanyaan itu akan senantiasa menjadi menu wajib. Mengapa demikian?

Harus diakui, menulis adalah laku yang demikian dekat dengan masalah psikologis ketimbang kognitif. Remaja yang tengah tersandung asmara akan tiba-tiba menjadi pujangga yang bisa membuat berlarik-larik puisi untuk pujaan hatinya. Pun juga ketika ia patah hati. Mendadak ia akan menjadi penyair gelap yang bersajak tentang perih dan pengkhianatan.

Inilah mengapa seperempat masalah menulis berkaitan dengan psikologis penulis. Seperempat lainnya masalah teknik menulis, seperempat berikutnya adalah wawasan, dan seperempat terakhir adalah gagasan (Putu Wijaya, 252: 1999). Dari sini kita mafhum, kondisi psikologis menempati tempat yang cukup penting dalam menulis --kendati bukan segalanya.

Sebab itu, mereka yang situasi psikologisnya sedang baik, lazimnya akan memacu penuh daya pikirnya untuk menuangkan gagasan melalui sederet narasi yang jernih. Sebaliknya, jika kondisinya tengah semrawut, output tulisan yang dihasilkan juga tak jauh beda. Bahkan dalam beberapa kasus tak sedikit yang mengkambing-hitamkan kondisi psikologis untuk tak menulis sama sekali. Golongan terakhir ini lazimnya bersembunyi di bawah ketiak moody.  

"Moodku sedang encok". "Moodku sedang tak bisa berdamai dengan tuts keyboard." Dan banyak pembenaran lain untuk tak menulis dengan cara mengkambing-hitamkan mood. Padahal mood sebenarnya perkara pikiran. Sama sekali tak berkaitan dengan situasi pedalaman. Sayangnya, waham pikiran sedemikian kerap dijadikan terdakwa yang menjegal kreativitas menulis seseorang.

Walau pun itu gejala manusiawi yang wajar, tapi jika terus dibiarkan tentu tak baik untuk perkembangan kreativitas menulis ke depan. Karena penulis sejati takkan pernah dikuasai mood, waham, dan racun negatif pikiran lainnya. Oleh sebab itu, ini beberapa kiat yang kerap saya sampaikan di banyak kesempatan ketika menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu.

(Mengisi Materi Menulis di IAIN Cirebon/Dok. Pribadi)
(Mengisi Materi Menulis di IAIN Cirebon/Dok. Pribadi)
Pertama, tentu saja membaca. Menulis tanpa diiringi tradisi membaca hanya akan menghasilkan tulisan yang hampa ide dan kosong isi. Paling jauh, tulisan seperti itu hanya sekadar menjadi luapan ekspresi yang datangnya semata dari rasa dan emosi. Dan sejujurnya, tulisan yang seperti ini akan sulit menarik perhatian pembaca. Karena fitrah manusia memang selalu menginginkan ide segar dan inovasi yang mendobrak.

Kedua, menjadikan diri sebagai seorang pembaca fenomena yang peka. Kepekaan adalah hal mutlak yang niscaya musti dimiliki oleh setiap penulis. Dari kepekaan itu akan lahir sebuah gagasan subjektif untuk meneropong fenomena objektif yang berseliweran di kanan-kiri sang penulis.

Ketiga, senantiasa "berpikir negatif". Jika saat ini merebak motivator yang selalu berteriak agar selalu berpikir positif (positive thinking), maka penulis harus bertolak dari premis itu. Karena segala hal akan mudah diurai urat-uratnya jika yang dipakai adalah kerangka negativitas. Dalam arti memandang semua fenomena yang terjadi tak berjalan semestinya. Jika disederhanakan mungkin bisa dirangkum dalam kalimat: "ada yang salah dari semua ini".

Keempat, berangkat dari lokalitas. Dari sesuatu yang kita alami dan resapi sehari-hari. Dalam bahasa yang populer adalah: think globally, act locally. Jauhkan tradisi menulis persoalan dengan model narasi besar semisal: "Tumbangnya Kapitalisme di Indonesia". Tulisan seperti ini lazimnya akan berakhir dengan hamparan teori melangit yang kurang berpijak pada realitas konkret. Berangkatlah dari persoalan riil yang kita temukan di sekitar. Observasi lapangan, mengamati kondisi sekitar, karenanya menjadi hal yang penting.

Kelima, mulailah dari menulis buku harian (diary). Untuk menjadi penulis, resep paling jitu sebenarnya dengan memulai menulis buku harian dari sekarang. Menulis diary tentu bukan hanya soal menumpahkan pikiran dan perasaan yang teramat pribadi. Melainkan juga ikhtiar untuk selalu berusaha jujur pada diri sendiri. Kadang hanya di depan diary-lah kita bersikap jujur, bebas, dan apa adanya. Lewat buku harian pula, ranah sosial banyak yang terekam. Sebab, di sana kita juga bisa menulis soal wajah bangsa dan masyarakatnya. Perjumpaan antara pikiran-perasaan dan realita dunia seperti itu terkadang melahirkan tulisan yang tak hanya menyentuh, tapi juga bisa menjadi inspirasi bagi khalayak ramai.

Anne Frank (The Diary of Young Girl), Soe Hok Gie (Catatan Harian Seorang Demonstran), Mochtar Lubis (Catatan Subversif), Ahmad Wahib (Pergolakan Pemikiran Islam) adalah beberapa buku catatan harian yang berhasil menginspirasi banyak pembaca hingga menjadi bacaan abadi sampai detik ini. Sepertinya mereka memahami betul peribahasa Latin: scrifta manent, verba volant (apa yang diucap akan hilang ditelan zaman, apa yang ditulis akan abadi hingga kapanpun).

(Berkarya ditemani Kayu Putih Aroma/Dok. Pribadi)
(Berkarya ditemani Kayu Putih Aroma/Dok. Pribadi)
Keenam, tulislah sekarang juga! Semua resep yang saya tulis di atas akan menjadi sia-sia jika hanya menjadi hamparan teori tanpa praksis. Sebab, sejatinya tak ada resep yang lebih baik untuk jadi penulis, kecuali dengan menulis sekarang juga. Maka, tulislah apa yang Anda pikirkan. Jangan pikirkan apa yang akan Anda tulis.

Ketujuh, jika di tengah proses penulisan mengalami writer's block berhentilah sejenak. Tinggalkan semua aktivitas menulis. Dengarkan musik, pergi berkebun, bercengkrama dengan orang sekitar, mancing, atau sekadar lari-lari kecil. Pemberhentian di sini tentu tak diniatkan sebagai pelarian. Melainkan hanya sekadar halte untuk menghela jeda agar pikiran bisa refresh dan ide segar menghampiri lagi.

Ketujuh resep ini merupakan stimulus generik yang berkaitan langsung dengan mental dan pikiran. Lalu bagaimana dengan stimulus tubuh agar senantiasa fresh? Kendati kerap diabaikan oleh banyak penulis, poin yang satu ini sebenarnya tak kalah penting dengan ketujuh resep di atas. Saya masih percaya dengan peribahasa lawas yang mengatakan men sana in corpore sano: dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Berangkat dari keyakinan itu, saya senantiasa menggunakan minyak Kayu Putih Aroma untuk menghalau beberapa kemungkinan efek negatif yang kerap muncul lantaran pola menulis yang kurang baik. Khususnya Kayu Putih Aroma yang bercitarasa Lavender. Sebab penulis lazimnya bekerja di malam hari dan duduk berjam-jam di depan laptop bertemankan kopi. Tentu pola hidup yang demikian sebenarnya jauh dari kata sehat. Dari sinilah minyak Kayu Putih Aroma mendapatkan relevansinya yang tak terbantahkan. Apalagi kini musim penghujan tengah menderu rerata wilayah di Indonesia. Kehadiran minyak Kayu Putih Aroma kian menemukan titik urgensinya.

Ini seperti yang saya alami beberapa waktu lalu ketika mendapat undangan mengisi workshop menulis di Jakarta. Saat itu, minggu (17/12/17), saya baru saja tiba dari petualangan riset di Yogyakarta dengan kondisi masuk angin hebat akibat terserang hujan tanpa henti dan pola makan yang tak teratur. Tak dinyana, hari selasa (19/12/17) saya mendapat undangan mengisi workshop menulis di pesantren yang didirikan presiden keempat republik Indonesia. Acara workshop menulis itu merupakan rangkaian acara peringatan wafat (haul) sang presiden yang diadakan Jumat (22/12/17).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2