Mohon tunggu...
Luna Septalisa
Luna Septalisa Mohon Tunggu... Long-life learner

Lahir 1 September 1994 | Perempuan Introvert | Suka membaca, menulis, dengar musik, berenang | Amatiran yang masih belajar menulis | kunjungi : https://lunaseptalisa.wordpress.com/ (blog pribadi) | email : lunasepta@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Fesyen Artikel Utama

Thrifting, Antara Tren dan Kepedulian terhadap Isu Lingkungan

5 Desember 2020   10:47 Diperbarui: 5 Desember 2020   12:44 512 31 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Thrifting, Antara Tren dan Kepedulian terhadap Isu Lingkungan
ilustrasi orang berbelanja pakaian bekas-dressember.org

Ingin tampil gaya namun uang pas-pasan? Daripada harus berutang untuk membeli pakaian mahal demi tampil gaya, thrifting atau membeli pakaian bekas bisa jadi alternatif yang menarik untuk dicoba. Bahkan sekarang ini thrifting telah menjadi tren di kalangan anak muda. 

Selain menjadi tren, thrifting ditengarai sebagai salah satu cara menyelematkan lingkungan dari polusi akibat limbah pabrik tekstil dan sampah pakaian bekas. Di masa pandemi seperti saat ini, thrifting juga dapat dilakukan secara daring. Beberapa online shop mulai menawarkan pakaian bekas dengan berbagai model, jenis dan merek. 

Kita pun bisa menjual pakaian-pakaian yang sudah tidak terpakai atau tidak muat lagi di badan. Selain membuat lemari terlihat tidak sumpek, kita juga bisa memperoleh uang tambahan dari menjual pakaian bekas. 

Lalu, kapan sebenarnya tren ini mulai booming? Bagaimana thrifting berpengaruh terhadap kelestarian lingkungan hidup?

Asal-usul Thrifting

Thrifting (thrift) berasal dari kata thrive yang berarti berkembang atau maju. Sementara thrifty diartikan sebagai cara menggunakan uang dan barang lainnya secara baik dan efisien. Dari sinilah, thrifting dapat dimaksudkan sebagai kegiatan membeli atau berburu barang bekas. 

Sejarah dan Perkembangan Thrifting

Thrifting ternyata bukan hanya tren yang baru berlangsung 1-2 tahun belakangan. Kegiatan ini bahkan sudah ada sejak zaman revolusi industri. Tepatnya pada akhir abad ke-19. 

Pada masa itu mulai dikenalkan mass production clothing (produksi massal pakaian) sehingga harga pakaian sangat murah. Oleh karena itu, masyarakat menganggap bahwa pakaian adalah barang sekali pakai lalu dibuang (disposable). 

Seiring dengan pertumbuhan populasi perkotaan, banyak barang bekas yang dibuang dan akhirnya menumpuk. Melihat fenomena itu, komunitas Gereja Protestan, Salvation Army memutuskan untuk mengumpulkan barang-barang yang tersebut dan dibagikan kepada masyarakat kurang mampu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x