Mohon tunggu...
Luna Septalisa
Luna Septalisa Mohon Tunggu... Administrasi - Pembelajar Seumur Hidup

Nomine Best in Opinion 2021 dan 2022 | Penulis amatir yang tertarik pada isu sosial-budaya, lingkungan dan gender | Kontak : lunasepta@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Yuk, Kenalan dengan Colorisme, Saudara Dekat Rasisme!

25 Juli 2020   09:24 Diperbarui: 28 Mei 2021   17:51 6323
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Yuk, Kenalan dengan Colorisme (image by u m5d2lywo from pixabay)

Colorisme di Berbagai Negara di Dunia

Di Asia Timur, terutama di Jepang, China dan Korea Selatan menganggap bahwa orang-orang berkulit putih status sosialnya tinggi karena tidak banyak melakukan pekerjaan-pekerjaan lapangan. 

Sedangkan orang-orang berkulit gelap sering dianggap sebagai orang-orang kelas bawah. Wanita-wanita berkulit putih sering dianggap lebih cantik dan melambangkan feminine beauty. 

Colorisme di Asia sendiri sebenarnya cukup banyak tersirat dalam dongeng anak-anak. Misalnya, dalam cerita-cerita rakyat China, dimana tokoh dewi-dewi, putri-putri kerajaan atau tokoh protagonis biasanya digambarkan berkulit putih. 

Baca juga : Indonesia Terbiasa dengan Perbedaan Warna Kulit dan SARA

Di India, persoalan colorisme punya kaitan erat dengan sistem kasta dan ketika India dikuasai oleh Persia, Mughal dan Inggris. Jika seseorang berasal dari kasta Brahman dan berkulit terang, maka ia akan lebih dipandang dalam masyarakat. 

Apabila mereka berkulit gelap namun dari kasta tinggi, mereka masih bisa tetap mendapatkan privilese dibandingkan mereka yang berkulit gelap namun berasal dari kasta sudra (kasta terendah),misalnya. 

Ketika masa kolonialisme Inggris di India, colorisme telah menyebabkan wanita-wanita berkulit terang mendapatkan kesempatan kerja yang lebih besar dibandingkan wanita-wanita berkulit gelap. Selain itu, orang-orang berkulit gelap sering tidak diperbolehkan masuk ke restoran atau institusi pendidikan. 

Di Amerika Serikat, colorisme terkait erat dengan sistem perbudakan yang dilakukan oleh orang-orang kulit putih terhadap orang-orang kulit hitam dan penduduk asli Amerika, yaitu orang Indian. Warna kulit dapat menentukan seberapa ringan atau berat pekerjaan yang akan dilakukan oleh para budak.

Budak yang berkulit terang bisa mendapatkan pekerjaan-pekerjaan domestik yang cenderung lebih ringan. Sementara budak berkulit gelap diberikan pekerjaan-pekerjaan kasar. Bahkan ada suatu tes untuk mengukur tingkat kecerahan kulit seseorang yang akan dipekerjakan di rumah-rumah orang kulit putih. Namanya Brown Paper Bag Test. Jadi, kalau seseorang punya warna kulit yang lebih gelap dari brown paper bag tersebut, ia tidak akan diterima di rumah orang-orang kulit putih. 

Colorisme di Indonesia 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun