Mohon tunggu...
lukmanbbs
lukmanbbs Mohon Tunggu... lukmanbrebes

Ngaji pikr dan dzikir

Selanjutnya

Tutup

Politik

Perilaku Pemilih Pilkades

24 April 2019   07:35 Diperbarui: 24 April 2019   08:29 0 1 1 Mohon Tunggu...
Perilaku Pemilih Pilkades
Dokpri

PRILAKU PEMILIH PILKADES  DI KAMPUNGKU
Randusanga Kulon merupakan  salah Desa di Kabupaten Brebes, yang insyaAllah  pada  hari Minggu, tanggal  16 Juni 2019,   melaksanakan Pilkades (Pemilihan Kepala Desa), gelombang pertama. 

Namun  pembicaraanya Pilkades  di masyarakat sempat tertutup sesaat oleh pemilu serentak 17 April 2019 yang lalu. Seiring waktu  tetap saja,  obrolan Pilkades muncul di tengah-tengah keasyikan pembicaraan para politisi kampung, yang dapat dikatakan tidak kalah ramai dengan para politisi nasional.

Dalam pembicaraan  mencari  informasi  pola prilaku pemilih,  bersama teman-teman yang saya  temui  di warung kopi maupun wedangan ala  "Cipok" ( Moci karo ndopok),  pinggir tambak, sawah  dan depan rumah,  cukup gayeng juga dan sangat baik untuk dijadikan tulisan, sebagai pengingat dan bukti goresan hasil obrolan.

Dari hasil obrolan mantan team sukses Kades dan yang akan menjadi team sukses nantinya. Baik team yang telah sukses mengegolkan kandidatnya maupun yang Gatot (Gagal Total), dalam melakukan penggiringan massa ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) untuk memenangkan kandidatnya, menurut saya dapat terbagi menjadi 3 (tiga) kelompok.

Kelompok Pertama
Kelompok pertama ini, dapat dikategorikan kelompok pemilih  yang cukup berani, karena pemilih berprilaku terus terang  dengan menyatakan dukungannya. Kelompok ini  menurut saya,  akan menjadi  gerbong terdepan dalam mengusung calon kepala desa. Dalam masyarakat kampung, pendukung terus terang biasanya berasal dari kerabat dekat (saudara),  team sukses, tetangga, dan pengikut fanatik golongan yang dianut calon.

Ada juga mereka yang terus terang dalam dukunganya, karena memiliki hutang budi terhadap calon.  Ada pula karena memiliki masalah pribadi dengan lawan dari calon kepala desa yang didukung, dan tidak bisa dipungkiri  lagi, tambahan kelompok yang bermain judi pada pemilihan kepala desa ikut memanaskan suasana tahapan menjelang pencoblosan. Sepertinya taruhan uang dalam setiap pemilihan kepala desa menjadi penambah ramai  obrolan tersendiri  di ruang yang tersembunyi maupun terbuka.

Yang lebih uniknya lagi, ada yang terus terang menentukan pilihannya, karena calonya ganteng atau cantik. Masih muda dan kaya. Menurut saya, dalam hal tingkat pendidikan calon kurang mempengaruhi penentuan pilihan  dari para pemilih. Mungkin karena tingkat pendidikan belum mampu membuat kepercayaan memimpin desa dihadapan masyarakat desa saya.

Pada sisi para pemilih yang menginginkan perubahan di desanya, biasanya  akan terus terang dalam penentuan pilihan calon kepala desa. Argumentasi yang dimilikinyapun tidak akan terkalahkan dengan selembar amplop yang menjadi serangan fajar, bagi para calon untuk meraih suara pemilih sebanyak-banyaknya.

Kelompok Kedua
Kelompok yang kedua  biasanya diisi oleh mereka yang tidak terus terang dalam menentukan pilihan calonnya atau dapat disebut pemilih yang diam saja dalam menentukan dukungan terhadap calon pimpinan di desanya.

Kelompok ini dapat menjadi incaran bagi para calon, untuk dapat mendulang suara. Karena kelompok tersebut sangat rentan  menentukan pilihan  dengan mendapatkan bayaran. Namun menurut saya tidak semua, karena ada juga prilaku pemilih yang tidak mau mengatakan  terus terang bukan karena ingin mendapatkan uang. Terbukti sebagaian para tokoh agama, masyarakat, pengusaha, akan lebih memilih diam saja dari pada  menentukan pilihannya dengan terus terang. Hal ini dimaksud untuk menjaga kondusivitas lingkungan tempat tinggalnya dan juga agar lingkungannya menjadi aman-aman saja. Tidak ada keributan setiap hari setelah muncul calon kepala desa hingga pelaksanaan pemilihan.

Pemilih yang tidak terus terang dapat juga berasal dari, para pemilih yang bingung menentukan pilihanya karena tidak ada calon yang disukai, namun ia harus tetap menentukan pilihan. Pemilih yang masih bingung dalam penentuan pilihannya, dimungkinkan menurut saya akan masuk dalam golongan diam saja atau tidak terus terang dalam penentuan siapa yang menjadi pilihannya.

Kelompok Ketiga
Kelompok ketiga ini, bisa dikatakan kelompok yang terus terang menentukan pilihannya namun sebenarnya tidak mendukung, istilah dalam perfileman sebagai mata-mata atau teliksandi.

Kelompok mata-mata biasanya jumlahnya sedikit. Namun orangnya sangat kebal omongan, pinter menjilat,  dapat mengetahui kelebihan, kelemahan musuh dan menginformasikannya, dan tidak semua orang bisa menjadi mata-mata, hanya orang-orang pilihan saja.

Tulisan ini hanya catatan hasil obrolan semata, barang kali ada kesalahan mohon dimaafkan. Kalau boleh tahu, kalau anda sendiri sebagai pembaca, lebih suka menjadi tipe pemilih yang mana? Cukup dijawab di hati saja. Wassalam.
(Lukman NH)