Mohon tunggu...
Tri Lokon
Tri Lokon Mohon Tunggu... Human Resources - Karyawan Swasta

Suka fotografi, traveling, sastra, kuliner, dan menulis wisata di samping giat di yayasan pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Pulau Lihaga, Layakkah untuk Wisata Edukasi?

15 April 2018   10:02 Diperbarui: 18 April 2018   14:43 2803
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Yuk berangkat, perahu sudah bersandar. Oh ya jangan lupa tamu saya dibawa ke mangrove," teriak Roli kepada motoris perahu bermesin ganda 40 PK.

Suara mesin perahu, berkuatan ganda 40 PK, memecah air laut meninggalkan keramaian pelabuhan Likupang. Michelle dan Ludo bergeser duduknya dari buritan menuju ke dek depan perahu untuk mengamati lebih saksama pertumbuhan tanaman magrove. Dalam benaknya, apakah mungkin siswa diajak menanam pohon magrove? Kalau bisa, lokasi mana yang cocok untuk penanaman pohon bakau (mangrove)?

Perahu berlayar mengelilingi kawasan mangrove Likupang. Sayangnya tak ada lokasi yang bisa untuk berlabuh. Lalu kami melanjutkan menuju ke pulau Lihaga.

Setelah berlayar sekitar 40 menit, awak perahu melempar jangkar untuk berlabuh. Teriknya sinar matahari yang menerpa pasir putih, makin membuat gerah badan. Saat kaki menyentuh air laut pantai, terasa airnya hangat.

Desa Bulutui (dokpri)
Desa Bulutui (dokpri)
Pondok untuk istiirahat (dokpri)
Pondok untuk istiirahat (dokpri)
Kami lalu menuju salah satu pondok dan meletakan barang bawaan di atas meja kayu. Sejenak kami duduk dan merencanakan untuk snorkeling di bagian Barat pulau. Sementara itu, saya melihat aktivitas banana boat keliling pulau. Wisatawan lain, sebagian makan di pondok dan sebagian berenang di air laut biru jernah dan berfoto ria di seputaran pantai.

"Bagus. Terumbu karang dan ikan-ikannya masih banyak. Cocok untuk tempat snorkeling buat siswa-siswa nanti. Hanya harus ada pengawasnya," ungkap Michelle memperhatikan aspek keselamatan dalam snorkeling.

Snorkeling (dokpri)
Snorkeling (dokpri)
Mencoba terbang (dokpri)
Mencoba terbang (dokpri)
Tak hanya itu, kami berusaha mengelilingi pulau atas ajakan Michelle, yang baru pertama kali datang ke Pulau Lihaga. Saya dan yang lain sudah pernah menyambangi pulau ini. Buat Michelle, kalau hanya diceritakan tentang kondisi alam pulau, belum cukup. Karena itu, minta diantar keliling pulau. Akses satu-satunya adalah menyisir mulai dari pantai berpasir hingga bebatuan.

sampah (dokpri)
sampah (dokpri)
Sampah (dokpri)
Sampah (dokpri)
Dalam perjalanan keliling pulau, tak sedikit ditemukan sampah menumpuk, terutama sampah plastik bekas minuman dan makanan. Slogan "jangan membuang sampah sembarangan" perlu ditulis dengan huruf besar-besar, agar pulau Lihaga ini lama-lama tidak menjadi pulau sampah. Bahkan, jika penuh sampah, Lihaga tidak bisa lagi menjadi daya tarik wisatawan khususnya wisman. Siapa peduli? Entahlah.

Jarum jam menunjuk angka 3. Kami bersiap untuk kembali ke Pelabuhan Likupang. Sebelum sampai ke pelabuhan, kami singgah di Desa Bulu Bulutui. Di desa itu, kami diterima oleh Hukum Tua (Lurah) Desa Bulutui, Likupang, Minahasa Utara. Dalam dialog, ternyata warga desa mayoritas nelayan. Ada yang melaut malam hari dan ada yang siang hari.

Dermaga desa Bulutui (dokpri)
Dermaga desa Bulutui (dokpri)
Selain ikan, Bobara, Goropa, Kakap Merah, Kakak Tua, yang diminati nelayan adalah Gurita dan Sotong. Alasannya, nilai jualnya tinggi. Per kilo harga Gurita atau Sotong bisa sampai 25 ribu.

"Sayang, kondisi sekarang sudah lain dengan dulu. Gurita apalagi Sotong langka didapat. Kemungkinan besar karena habitat mereka untuk berkembang-biak sudah rusak. Perubahan iklim berpengaruh dalam siklus hidup kedua binatang itu. Padahal warga disejahterakan oleh Gurita," kisah Aswadi Sahari, Hukum Tua Desa Bulutui.

Gurita, hasil tangkapan nelayan Bulutui (dokpri)
Gurita, hasil tangkapan nelayan Bulutui (dokpri)
Kedua tamu asing saya, tampak serius memperhatikan cerita Pak Aswadi. Lalu menyambungnya dengan bertanya soal pendidikan anak, kesehatan dan mencoba memikirkan seandainya siswa-siswa nanti dibawa ke desa ini, apa manfaatnya dan bagaimana proses belajarnya.

Setelah mendapat informasi, serta membeli Sotong sebesar 2,6 Kg plus 4 ekor ikan, dengan harga 100 ribu, kami pamit pulang. Kepastian berkunjung ke Desa Bulutui, tergantung dari pembahasannya nanti.

Pulau Lihaga (dokpri)
Pulau Lihaga (dokpri)
Bisakah pulau Lihaga dan desa di sekitarnya menjadi lokasi wisiata edukasi dari siswa-siswa mancanegara? Tunggu saja nanti hasil keputusan dari tim OIA Experiential Asia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun