Mohon tunggu...
Tri Lokon
Tri Lokon Mohon Tunggu... Human Resources - Karyawan Swasta

Suka fotografi, traveling, sastra, kuliner, dan menulis wisata di samping giat di yayasan pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Bertemu Fajar di Puncak Temboan Rurukan

12 Maret 2017   17:30 Diperbarui: 13 Maret 2017   04:00 3148
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tomohon adalah negeri khayangan dengan janji keindahan alamnya bagi pelancong yang berlibur ke Manado. Kota sejuk pegunungan itu tak hanya berbalutkan suburnya tanaman hortikultura dan aneka bunga.

Kepada setiap pelancong, Tomohon memberikan gratis udara bersih tanpa henti yang mengalir dari hutan perbukitan di kaki Gunung Mahawu(1324 m) dan Gunung Lokon (1580 m). Puncak Temboan di desa Rurukan (800 mdpl) salah satu objek wisata yang menyuguhkan alam eksotik saat matahari terbit.

Janji bertemu dengan sang fajar di Puncak Temboan itu, membuat saya harus bangun subuh. Ini gegara Leo, fotografer dari Yogya. Dia tamu sekolah yang sedang menggarap "yearbook" kelas 9.

Yuda, Pradah, Leo, Chena, dan saya siap meluncur ke Puncak. Sisa rasa kantuk masih menggantung di mata. Tapi biarlah. Minggu subuh (12/3) masih gelap. Dinginnya udara Tomohon terasa di badan. Nggak heran, jaket jadi andalan untuk melawan dingin. Suhu udara rata-rata 20 derajat Celsius.

Sang Fajar dari Timur dan Gunung Klabat (dokpri)
Sang Fajar dari Timur dan Gunung Klabat (dokpri)
Hanya butuh waktu 15 menit dari pusat kota, kami tiba di Puncak Temboan, Tomohon Timur. Mobil berhenti di jalan wisata Temboan karena ada palang besi menutup jalan.

"Ya berhenti di sini. Kita jalan sebentar ke arah pondok itu" kata saya kepada Leo dan teman lainnya untuk turun dari mobil.

Dengan hanya melompat, kami bisa menerobos masuk ke dalam. Lolongan anjing peliharaan warga, menyambut kedatangan kami. Masih terdengar suara binatang malam sayup-sayup menemani langkah kami.

Leo, Pradah, Chena dan saya asyik menenteng kamera dan tripod. Tetiba di depan rumah pondok, semua bawaan di taruh di atas meja. Lalu kamera dipasang di tripod. Langit masih gelap. Garisan pedaran lampu kota Tondano masih terlihat jelas kelap-kelipnya.

Kapas Kabut di atas Bukit Wawo (dokpri)
Kapas Kabut di atas Bukit Wawo (dokpri)
Mendongak ke langit, tampak gerombolan awan menggelanyut di sebelah Timur. Sosok Gunung Klabat masih tampak hitam. Berdiri gagah bak raksasa yang masih terlelap.

Jarum jam menunjuk pada angka lima lebih lima belas. Ufuk Timur mulai berubah warna dari gelap menjadi terang deangan perpaduan cantik warna biru, jingga, merah dan kuning.

Chena, satu-satunya cewek, mulai gelisah dengan setingan kamera. Leo membantunya dengan memasang setelan "bulb" untuk tiga menit. Namun, Chena tak puas melihat hasilnya. Diubah setingan kameranya ke model "slow speed" 30 detik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun