Mohon tunggu...
Lintang Panjer Sore
Lintang Panjer Sore Mohon Tunggu...

Ingin menjadi insan yang baik, meskipun bukan yang terbaik.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

I am Not an Angel

18 Maret 2016   13:13 Diperbarui: 18 Maret 2016   13:40 0 3 0 Mohon Tunggu...

                I am not an Angel
              Lintang Panjer Sore


Berawal dari pertemuan di siang itu, yang sememangnya sudah kita rencanakan jauh-jauh hari. Tepatnya sesaat setelah kau membuka daun pintu rumahmu lebar-lebar dan mempersilahkanku masuk untuk duduk sejajar denganmu. Aku memutuskan untuk keluar dari rumah seorang nenek dan memilih rumahmu sebagai rumah keduaku, setelah kita berdua sepakat untuk saling memberi dan menerima. Jujur tak dapat aku tutupi, saat pertama kali aku melihatmu, kelak, akan ada kebijaksanaan yang aku peroleh. 

Ada kedamaian, ketenangan dan keselamatan yang akan aku dapat. Dari tanganmu yang santun, senyummu yang tak pernah surut, ramahmu yang bersahabat dan nada bicaramu yang seperti seorang ibu. Tak membedakan siapa aku dari keluargamu.

Mungkin inilah jalan hidupku di tanah orang, yang telah digariskan oleh Tuhan. Setelah dua tahun empat bulan perjalananku yang tak luput dari batu sandungan dan krikil tajam, akhirnya aku bisa sampai di sini, di rumahmu dan padamu yang akan memberikan semua hak-hakku atas pengabdian yang akan kuberikan.
“Dear,” begitulah pertama kali kau memanggilku. Sungguh, sejujurnya aku malu dengan panggilan yang kau tujukan padaku. Namun aku tak bisa membantah, karena aku tahu mungkin ianya lebih nyaman dan gampang untuk kau sebut daripada harus memanggil namaku yang mempunyai awalan huruf I dan R yang mungkin akan membuat lidahmu kesleo menjadi il.

“This is your room,” ucapmu sembari memegang kedua pundakku saat kau tunjukan sebuah ruangan yang lumayan besar. Kusapukan pandangan dari sudut ke sudut ruang dan berakhir pas di tengah ruangan, sebuah tempat tidur single dengan balutan kain penutup kasur warna biru membuat mataku berkaca-kaca. Sebuah TV 24 inc dan meja makan yang tertata rapi menambahkan lagi di kedalaman langit hati ini mulai gerimis. Tiba-tiba bayangan dua tahun silam tersibak.

Di sebuah gudang kecil yang terdapat tumpukan barang dan peralatan rumah, di atasnya terdapat sebuah tempat tidur yang luasnya hanya selebar dan sepanjang badan. Di sanalah tempat di mana kulelapkan mata, untuk menghilangkan segala penat setelah seharian penuh bergelut dengan pekerjaan demi mengumpulkan dolar. Tempat untuk kumenghadap Tuhan dengan cara yang aku bisa, yaitu menjalankan salat lima waktu dengan cara duduk karena sempitnya ruangan yang tidak memungkinkaku untuk berdiri tegap, karena jarak tempat kumerebahkan badan dengan langit-langit ruang hanya berjarak kurang dari satu meter.

“Dear, if you really want to help me, answer me soon, don't make me wait too long,” suaramu telah mengembalikan pikiranku dari bayangan dua tahun silam.


“I won't make you wait, I'll give you the answer right now. I'll work for you, helping you and take care of your family. I want to serve you here, in your home,” ucapku dengan penuh kemantapan hati telah membuat bibirmu menyunggingkan senyum lebar lalu kau meneruskan kalimatmu , “ and your second home as well, Dear.” Yang kembali membuat langit hatiku merinai.

Tak terasa masa dari berawalnya pertemuan kita telah menggiring perjalananku beranjak sampai ke delapan bulan kemudian. Entah kenapa jangka waktu delapan bulan rasanya begitu singkat. Apakah karena hatiku telah berada di antara keluargamu, atau karena hari-hari yang berlalu selalu ada dirimu untuk menyemangati aku, atau karena rumahmu terasa seperti rumahku juga. Yah, mungkin karena itu, aku hampir tidak merasakan kitaran waktu yang telah beranjak pergi.

Dear my angel, please prepare oatmeal for tomorrow Sir's breakfast. Enjoy your holiday, and have a nice day. See you at night. Thanks. Setiap kali membaca kalimat yang sengaja kau tuliskan untukku, hati ini sangat terharu. Rangkaian kata yang kau tuturkan lewat tulisan, sedikitpun tak mengurangi rasa hormatmu sesama insan seperti aku yang merasa siapalah diri di matamu. 

Dan dalam tulisanmu kau memanggilku Angel, hingga saat ini tiada yang berubah atas panggilan itu. Tiap kali kau berteriak memerlukan aku, mencariku lewat telpon, menyapaku di pagi hari dan menginginkan keberadaanku untuk mendekat serta mendengarkan cerita masalalumu, dengan keluarga, teman atau lingkungan sekitarmu, kau selalu memanggilku dengan panggilan Angel.

“Angel, please listen to me,” ucapmu di sela-sela kesibukanku membenahi ruang tidur. Seperti biasa sambil mondar-mandir menata ruangan, aku selalu mendengarkan cerita yang akan kau mulai. “You know, three nights I can't sleep well, Sir always keep moving and tremble, scratching for whole night. And when he’s suddenly mumble or something, it's so frightened me,” ucapnya dengan nada takut dan bercampur agak kesal.
“So, it's better for you to take a nap at noon,” jawabku singkat. 


“Well, I'll try. But it seems that I need to separate him from me. It's unbearable anymore.” Ucapmu yang semakin kesal. Entah kenapa setelah mendengar nada suaramu yang seolah menggerutu, hatiku terdorong minta izin untuk berbicara, “Mom, can I say something.”
“Yes, say,” perintahmu singkat.


"If mom wanted to break up the bed with Sir, I think it is unfair for him. Because as I know, the couple should always be there when needed each other. From the smallest to the biggest thing though, as a wife should be at his side. Well as the incidence of these last few nights, when sir keep moving in the middle of the night, scratching his body, 

and so forth, try with gently tone mom asked what was wrong, and reassure him, if necessary, help him to scratch his limbs felt itching for him.” Entah darimana datangnya, aku berani mencelotehkan kalimat tersebut, walau dengan hati yang sedikit takut. Takut jika kamu salah mengartikanya, dan membuatmu murka atas kelancanganku berbicara karena terlalu ikut campur tentang kehidupanmu.

Namun celotehku kau bilang sangat berarti. Dan kau nyatakan, itulah bukti dari kepedulianku denganmu. Dengan keluargamu.
”Dear, you are an angel who fall from heaven to save me. Thanks you so much for listening to every words I've said."
Ucapmu sembari memeluk tubuhku. Dan mendaratkan satu kecupan di kepalaku.
“Mom, can I ask you?”
“Of couse.”
“Why, you call me Angel?”
Kau malah tersenyum lalu mencubit hidungku atas pertanyaan yang aku lontarkan padamu.
“Before you here, the days was very difficult to me, though I had hired a servant. But she wasn't like you. I still had to do many jobs. But now you came. So my hand's free and I can continue my dance. I hope you stay a little longer.”

 Penjelasanmu bagaikan hujan di musim semi. Namun aku sadar, aku bukan bidadari sesempurna yang kau katakan. Aku hanyalah insan yang tak luput dari salah dan cela. Jika suatu ketika nanti bahasa lisanku membuatmu luka, bahasa tubuhku membuatmu tak nyaman dan bahasa mataku tak lagi teduh, hanya satu kata yang ingin aku tengadahkan darimu, plese forgive me, Mom.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x