Mohon tunggu...
Livia Berliana
Livia Berliana Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Filosofi Stoikisme Khas Nusantara yang Digagas Eyang Semar

23 September 2022   19:12 Diperbarui: 25 September 2022   15:30 716 12 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
ilustrasi Semar. Sohieb Toyaroja, Game of Thrones, 2mx180cm, oil on canvas, 2018. (Sohieb Toyaroja via kompas.com) 

Stoikisme agaknya menjadi mazhab filsafat yang popularitasnya menanjak pesat belakang ini. Virus Stoik yang diprakarsai oleh Zeno itu selalu menjadi perbincangan hangat, terutama pada kalangan remaja yang mulai melek akan kesehatan mental. 

Barangkali, semuanya bermula karena buku best seller berjudul Filosofi Teras yang ditulis oleh Henty Manampiring. Buku itu telah menjadi stimulus untuk membawa arus besar penyebaran filosofi Stoikisme.

Stoikisme ini berisikan nilai-nilai adi luhung. Kalau saja diimplementasikan dengan baik, maka akan membuat hidup ini tenang, seperti Marcus Aurelius yang berhasil berdamai dengan diri sendiri secara mutlak. 

Konklusinya, Stoikisme adalah alat untuk mengejawantahkan kehidupan menjadi tenang, tidak terpaku pada kefanaan duniawi, serta tidak menggantungkan eksistensi terhadap hal-hal eksternal di luar kendali pribadi. 

Filosofi semacam ini bagai tameng pelindung jiwa bagi orang yang menguasainya. Karena, sekalipun ada cobaan paling tajam, jiwa dan raganya tak mungkin bisa terluka.

Ketika berbicara filsafat --termasuk Stoikisme -- pasti selalu saja ada relevansi yang erat dengan Yunani. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Yunani identik dengan budaya keintiman berpikir, serta banyak memproduksi filsuf-filsuf terkemuka. 

Namun, sebetulnya di tanah Nusantara juga ada filsafat kehidupan yang digagas oleh Eyang Semar, dan coraknya sangat mirip sekali dengan Stoikisme. 

Tokoh wayang berperut buncit itu memberikan tiga pilar filosofis sebagai kunci ketenangan hidup dan kesehatan mental untuk menjaga kewarasan. Tiga pilar itu adalah Tadah, Pradah, dan Ora Wegah.

Kita semua pasti pernah banyak meminta kepada Tuhan melalui doa-doa yang dipanjatkan, namun lupa mensyukuri nikmat-nikmat yang telah kita dustakan. Ketika doa itu tidak sesuai harapan, terkadang kita jatuh terkapar penuh kemurungan. Itulah masalah universal manusia. 

Semar datang menawarkan konsep bernama Tadah untuk meluluhlantakkan problematika tersebut. Tadah itu artinya jangan banyak meminta apa pun, tetapi seharusnya banyak berterima kasih. Begitulah kira-kira istilah kasarnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan