Mohon tunggu...
Trilita Apriani
Trilita Apriani Mohon Tunggu... Guru - Menulis sambil belajar

Pengajar, hoby menulis, travelling, dunia mengajar dan menyukai budaya lokal yang unik

Selanjutnya

Tutup

Palembang

Wajah Sungaiku di Tanjung Sakti Kini

27 Juli 2021   10:01 Diperbarui: 27 Juli 2021   10:32 31 5 0 Mohon Tunggu...

Dulu, sungai tersebut dijadikan sumber kehidupan baik untuk memasak, mandi, mencuci, bahkan kakus  dan sumber pengairan untuk irigasi sawah. Setiap pagi dan sore hari maka akan tampak  keramaian masyarakat sekitar di sungai tersebut, yang biasa kami sebut ayek manak. Ibu-ibu sibuk mencuci plus mandi, anak-anak mandi sembari bermain sebelum berangkat sekolah, dan sebagian juga terlihat menimba air dengan menggunakan derigen untuk diangkat ke rumah yang tidak jauh dari sungai tersebut.

Berjalannya waktu pemandangan tersebut sudah tidak terlihat lagi kini, yang terkadang sangat dirindukan dimana sungati merupakan pemandangan nuansa asri pedesaan yang khas yang terasa menyejukan hati jika berada di tempat tersebut.

Kini, masyarakat tidak lagi terlihat di sungati baik pagi maupun sore hari, mereka tidak perlu lagi ambil air subuh-subuh sebelum sungai tercemari untuk kebutuhan makan atau minum, tidak lagi teriakan  anak-anak yang tengah mandi sambal bergurau Bersama teman-temannya. Dan juga tidak ada lagi terlihat ibu-ibu mencuci sembari bercengkrama menceritakan tentang masakan mereka pada hari itu. Dan tidak dapat lagi bercermin di sungai tersebut, karena tidak lagi airnya sudah tidak lagi bersih dan bening seperti puluhan tahun lalu.

Saat ini wajahnya sudah  terlihat kusam, kotor dan tidak lagi dihiraukan oleh masyarakat setempat, seoalah tidak lagi dibutuhakan. Untuk masak saat ini mereka tinggal buka keran air dari dapur, untuk mandi sudah tersedia kamar mandi dilengkapi dengan keran air yang dapat dibuka kapan saja.  

Ironisnya, mereka sudah benar-benar sudah diambang kelewat batas, menjadi sungai sebagai tempat saluran akhir tempat pembuangan limbah rumah tangga, dan bahkan menjadi sungai sebagai tempat membuang sampah. Mereka sudah kehilangan hati nurani, dan tidak menjaga dan merawat sungai sebagai sumber daya alam yang harus dijaga dan dilestarikan.

Kini sungainya sudah terlihat kotor, dangkal dan banyak sampah disekitar sungai bahkan di aliranpun terdapat sampai plastik dan sampah rumah tangga yang sengaja dibuang ke sungai agar memudahkan mereka membuaang sampah.

Seharunya setiap masyarakat walaupun sungai tidak lagi dijadikan sebagai sarana kebutuhan sehari-hari untuk masak dan mandi, tetap harus dijaga dan dilestarikan, untuk menjaga ekosistem alam, tidak terjadi  banjir, sebab dengan banyaknya sampah terjadi penyempitan sungai, yang dikhawatirkan jika hujan turun deras dapat terjadi banjir,

Untuk itu juga diharapkan peran pemerintah desa untuk menjadi alat pengawasan agar masyarakat turut menjaga dan melestaraikan keasrian sungai, dan dapat menjadikan sebagai tempat  tetap  wisata alam yang alami.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN