Listhia H Rahman
Listhia H Rahman pelajar/mahasiswa

❤ Student at Postgraduate Program of Public Health (Nutrition), Faculty of Medicine, Universitas Gadjah Mada ❤ Bachelor of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Diponegoro University ❤ "Kalau tidak membaca, bisa menulis apa" ❤ line : listhiaaa ❤ listhiahr@gmail.com❤

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

Menebus Kehadiran di Kompasianival 2017 dan Terima Kasih!

23 Oktober 2017   19:21 Diperbarui: 24 Oktober 2017   14:23 1720 19 20
Menebus Kehadiran di Kompasianival 2017 dan Terima Kasih!
dijepret oleh mas Granito Ibrahim

Kompasianival 2017 sudah berakhir sabtu malam lalu, namun bagi saya rasanya masih belum selesai jika saya belum menuliskan ceritanya.

Sebelumnya, pada awal tulisan ini saya hanya ingin mengingatkan bahwa mungkin (atau memang beneran bukan) yang akan kalian baca bukanlah cerita-cerita mengenai serangkaian acara Kompasianival. Bukan. Justru saya akan banyak berkisah tentang apa-apa yang terjadi di luar itu yang juga tak kalah seru. Seru? Haha. Semoga sih.

Mari diawali dengan "Galau"

Galau. Barangkali satu kata itu sudah cukup mewakili apa yang saya rasa ketika Kompasianival segera datang. Entah mengapa, rasa-rasanya galau ini memang jadi syndrome saya menjelang Kompasianival sih. Ibaratnya nih, niat datang sewaktu pengumuman kompasianival baru diluncurkan itu skornya sempurna 100, kemudian makin kesini lama-lama rasanya makin berkurang, makin menciut menjelang hari H-nya jadi 50:50. Duh.

Sebabnya pun sebenarnya itu-itu lagi.Misal karena jadwal kuliah yang tidak bisa ditebak, bingung cari teman perjalanan, dan yang selalu jadi alasan klasik yaitu kehabisan tiket karena terlalu mepet. Oya, sebab ketigalah yang membuat Kompasianival jadi makin gregetnya tuh.

Berbicara soal tiket. Seperti jadi kebiasaan kalau Kompasianival, saya selalu menunda dan menunda sampai tahu-tahu kehabisan aja. Kejadian itu pun terulang lagi di tahun ini, di h-2 kompasianival 2017 saya sama sekali belum memegang tiket apapun. Di hari itu jugalah saya sempat mantap untuk memang tidak datang alias absen di Kompasianival tahun ketiga saya berada di Kompasiana. Bahkan untuk menginformasikan ketidakdatangan saya dan agar tidak di arep-arep, saya sempat menuliskan kode-kode keabsenan itu di medsos milik saya. #pedebangetyadiarep

Meski sudah mantap tidak hadir, rasanya ternyata memang ada yang masih selalu mengganjal atau mungkin karena saya tidak benar-benar mantap untuk tidak datang? Bingungi deh. Di h-1 nyatanya saya masih saja terbayang-bayang dan galau lagi. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk bertanya kepada penasihat terbaik saya, kakak, juga beberapa teman yang suka curhat. Waktu itu kakak sempat menyarankan tidak perlu datang karena nanti takut saya kecapekan apalagi juga tahu saya belum punya tiket apa-apa. Sedangkan beberapa teman dekat memberi jawaban sebaliknya, "perlu dong!"

Dan disitulah pergulatan batin kembali terulang. Lebay yes!

***

Tanggal berganti, dua puluh satu. Pagi itu saya masih di Jogja, masih leyeh-leyeh di kos. Padahal di Jakarta sana, detik-detik Kompasianival berjalan mundur, siap dimulai. Beberapa kompasianer ternyata ada yang belum menyerah untuk memastikan kedatangan saya lagi, "Mbak listhia, beneran gak datang?"

Kasih tahu gak,ya. Haha.

Kurang dari 24 Jam di Jakarta

Penerbangan saya jam satu siang. 

Ya, akhirnya saya putuskan untuk datang meski tidak lalu datang utuh menghadiri setiap sesi acaranya. Di h-1 malam itu, saya mantap untuk memesan tiket walau harganya sudah tak indah lagi.

Jogja-Jakarta, tidak sampai satu jam saya mendarat di Halim perdana kusuma. Namun baru sekitar pukul empat saya baru benar-benar mendarat di kamar hotel yang saya pesan di malam yang sama juga, di h-1 acara, dengan harga yang lebih indah jika dibandingkan dengan pesawat.

Sesampainya di hotel, saya tidak langsung bergegas untuk menuju ke mall Lippo --tempat berlangsungnya acara. Apalagi langsung mandi. Tidak. Saya sempat merasa 'mager' dan memilih tidur-tidur syantik.

Hingga jelang pukul lima sore, tiba-tiba ada yang meningatkan. "Nih lho, mbah tedjo bentar lagi.." Kemudian karena merasa disadarkan, saya segera bersiap-siap. Apalagi memang tujuan saya yang juga memotivasi untuk datang ke Kompasianival 2017 adalah keberadaan wayangisme kepunyaan Mbah Sujiwo Tedjo. hehe!

Sekitar pukul enam lebih, saya sudah ditunggu seseorang di depan hotel. Seseorang yang setia mengantar saya kemana-mana. Babang ojol alias ojek online. Sesampainya di mall, ternyata ada yang sempat membuat saya bingung. Sebab kata babang ojol, kalau mau masuk mall harus lewat sini, naik tangga, lewat lorong dan blablabla. Baiklah, selesai membayar saya segera menuruti nasihatnya. Dan.... nyasar! Haha. Lupa. Saya lupa memperhatikan petunjuk arah. Seharusnya ke kiri saya mengambil kanan.

Setelah berada di jalan yang benar. Saya menuju meja registrasi. Di sana sudah ada mbak-mbak cantik yang lalu membantu saya memasangkan gelang dan juga memberikan saya dompet kartu atau card wallet. Barang yang setidaknya berguna sekali bagi saya yang suka lupa naruh KTM dan SIM!Terimakasih.

Selesai registrasi, saya mencoba 'menyapu' pandangan di sekitar saya. Eh kemudian malah saya jadi sedih. Sedih karena keterbatasan pengelihatan (mata minus) saya jadi agak sulit mengenali orang-orang disekitar saya. Efek malam hari yang gelap rasanya yang memperparah pengelihatan saya ini deh. Hiks.

Sadar diri. Saya dengan pedenya memilih maju saja dulu di sekitar panggung. Apalagi sekarang Mbah tedjo juga sedang tampil. Eh, kemudian saya jadi sedih lagi. Sedih, karena tidak lama setelah saya mendapat posisi untuk menonton, pertunjukan usai. Hiks.

Lanjut ke sesi berikutnya. Saya memilih pergi dari kawasan Kompasianival. Sebabnya ya itu tadi, saya sulit mengenali dan mendeteksi orang-orang di sekitar. Saya memilih ke lantai 1, melihat keramaian Kompasianival di tengah kesepian saya. Halah.

Cukup lama saya nongkrong sendiri di lantai satu. Mencuri curi pandang barangkali ada yang bisa dikenal. Sayang, hasilnya nihil. Haha. Rasa haus, yang kemudian membuat saya turun kembali, menuju ke kawasan Kompasianival dan berharap ada yang bisa saya kenali wajah-wajahnya.

Terima kasih untuk Kompasianer yang Mendukung!

Saat haus sedang saya tebus, di panggung utama sedang berlangsung pengumuman penghargaan, Kompasiana award 2017. Menjadi salah satu nomine, membuat saya juga jadi berharap. Walau tidak terlalu mengejar harus menang, karena menjadi nomine pun sudah senang.

Best in specifict interest jatuh kepada....

Saya sudah berada di pinggir panggung sewaktu pengumuman di bagian ini. Saya tidak menyangka nama yang kemudian disebut pembawa acara adalah nama yang sudah saya hafal benar.

Alhamdulilah.

Menjadi nomine padahal tidak saya duga, apalagi kemudian menjadi satu yang terpilih.

Kompasianer,
Kalian memang suka mengejutkan, ya.
Maafkan jika tidak ada yang bisa saya berikan untuk membalas semua kebaikan kalian yang telah mendukung saya. Semoga kalian tidak menyesal pernah memilih saya. Doakan semoga saya bisa konsisten untuk membagi informasi dan untuk tidak jadi hilang. Amin.
Bagi yang belum berkesempatan,
Jangan lalu kecewa dengan tidak menulis. Kejarlah keajaiban itu dengan sabar.
Terima kasih semua kompasiana, kompasianer, semuanya.
Oya, yang sudah siap-siap mau menggantikan saya di panggung jika benar-benar menang, maafin ya, ternyata saya di Jakarta.

MUUUACH!

Salam,

Listhia H Rahman