Mohon tunggu...
Lisa Noor Humaidah
Lisa Noor Humaidah Mohon Tunggu... Penikmat buku dan tulisan

Tertarik pada ilmu sosial, sejarah, sastra dan cerita kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Pengalaman ke Curug Seribu

6 April 2021   15:23 Diperbarui: 6 April 2021   18:42 165 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pengalaman ke Curug Seribu
Curug Seribu, 2 April 2021 (Sumber: koleksi pribadi)

Kalau kamu suka hiking dan wisata alam, salah satu tempat yang tepat dikunjungi adalah kawasan curug atau air terjun di kaki Gunung Salak, kawasan taman nasional Halimun. Di antara sekian curug yang ada, menurut beberapa artikel online yang saya baca, Curug Seribu selain menawan, medannya paling menantang. Karena belum pernah ke Curug yang lain, saya tidak bisa membandingkan apakah memang Curug ini yang paling menantang. Paling tidak setelah mendatanginya langsung, medannya memang lumayan memacu adrenalin. 

Perjalanan kita mulai dari jam 6 pagi. Bertemu dan berangkat bersama dari daerah Puspitek, Tangerang Selatan. Kami bertiga mengendarai Mobil SUV Nissan X-Trail milik salah satu teman seperjalanan. Setelah melewati Pasar Parung, Google Map mengarahkan untuk belok ke kanan menghindari arah Darmaga Kota Bogor. Kami ikuti dengan asumsi mungkin karena terlalu padat dan macet. Jalan yang dilalui memang tidak padat tapi cukup sempit. Mobil kami harus berhenti atau paling tidak waspada jika ada mobil besar dari arah berlawanan. Selain pemandangan rumah penduduk, sesekali melewati kawasan hutan kelapa sawit.

Ternyata jalur yang kami pilih ini melalui pasar. Cukup merepotkan karena banyak pedagang dan pembeli memenuhi bahu jalan. Alhasil cukup lama keluar dari area ini. Mungkin satu jam kami tersendat. Lepas dari pasar adalah jalan Raya Bogor menuju wilayah wisata curug di kawasan gunung Salak.

Jalan menuju curug tidak terlalu lebar. Pemandangan di sisi kanan dan kiri cukup menyenangkan, lebih banyak sawah dan kebun. Sepanjang mata memandang hamparan hijau sawah dan tanaman, juga lembah bebatuan yang mengelilingi. Sesekali muncul rumah -- rumah warga yang tampak asri. Jalan menanjak tapi tidak terlalu tajam berkelok. Semakin mendekati kawasan curug, kesejukan mulai terasa. Tekanan udara yang berbeda mulai terasa di telinga.

Tiba lah kita di pintu gerbang selatan kawasan curug. Tidak ada tanda yang menyolok, hanya gardu kecil sebelah kiri dan beberapa balok kayu dan drum bekas sebagai portal. Beberapa orang menghentikan mobil kami, perempuan setengah baya berjilbab menghampiri dan menanyakan ada berapa orang di dalam mobil. Ia menyampaikan selamat datang di kawasan wisata curug. Ia menginformasikan biaya masuk sebesar 12 ribu rupiah per orang. Total bertiga dikenai 35 ribu rupiah. Tidak ada tiket atau tanda terima. Sepertinya hanya mobil kami yang berhenti. Terlihat beberapa motor di depan. Dari penampilan, nampaknya untuk tujuan yang sama, hiking.

Dari pintu masuk ini kemudian kami melewati rumah penduduk yang cukup padat dan rumah-rumah villa terbaca dari papan informasi yang dipasang.

Salah satu teman perjalanan yang pernah mengunjungi lokasi ini sebelumnya menginformasikan, jika mau melewati hutan pinus sebaiknya masuk melalui pintu di sebelah Timur. Waktu perjalanan pulang terkonfirmasi benar. Pemandangan lebih mengasyikkan walaupun jalan lebih sempit, bahkan bahu jalan yang tidak landai. Bahaya sekali jika mobil bergeser terlalu ke pinggir. Kemungkinan terperosok besar.

Kami tiba di area Curug Seribu sekitar jam 10 pagi. Total 4 jam perjalanan! Di lokasi, tersedia pilihan tempat parkir yang cukup luas dan aman. Juga toilet dan warung makan yang menyediakan makanan dan minuman cepat saji dan sederhana termasuk mie rebus dan nasi goreng. Keperluan hiking yang lain juga ada seperti sandal jepit.

Di area Curug Seribu terdapat juga curug yang lain bernama Ratu. Menurut Pak Dadang pemilik warung, Curug Ratu medannya lebih landai dan mudah dijangkau. Curug Seribu sebaliknya. Ia mengonfirmasi Curug Seribu lebih indah dan menawan. Tentu saja kami tetap ke tujuan awal kami datang. Sempat tercetus akan mengunjungi Curug Ratu setelahnya. Tapi Pak Dadang menyangsikan itu. Sebab menuju Curug Seribu membutuhkan usaha  yang tidak mudah. Baiklah.

Dua teman saya menyarankan untuk makan terlebih dahulu. Mie rebus instan bukan pilihan yang terbaik tapi sepertinya cukup membantu mengganjal perut sampai kembali lagi. Mengingat tidak ada  yang menjual makanan di area curug. Saya juga membawa bekal beberapa buah kurma. Sepertinya cukup untuk memberikan tambahan energi. Tentu saja air minum mineral jangan sampai lupa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x