Mohon tunggu...
Lisa Kiranti
Lisa Kiranti Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Kebermanfaatan Folklor Lisan sebagai Media Pendidikan

20 April 2021   12:49 Diperbarui: 20 April 2021   13:32 1662
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bahasa. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Jcstudio

Pembahasan

Folklor lisan dapat menjadi media strategis untuk menyampaikan ide yang cemerlang. Pada media pendidikan, folklor dikaitkan dengan materi pelajaran. Kebermanfaatan folklor adalah membantu guru dalam menyampaikan materinya. Contoh mata pelajaran yang memanfaatkan folklor lisan adalah mata pelajaran seni dan Bahasa Indonesia. Media pendidikan dimanfaatkan sebagai alat bantu memberikan informasi yang menarik dan kreatif. Jika pembelajaran sudah mencapai titik di mana adanya antusias dari siswa maka fungsi media pendidikan telah tercapai.

Pendapat saya, melalui folklor lisan maka secara langsung kita telah melestarikan budaya lokal turun-temurun dari lelulur. Bukankah ini bagus? Mari kita perhatikan generasi muda sekarang yang mulai melupakan warisan leluhur dari nenek moyang. Jika mereka lupa, maka lama-kelamaan identitas budaya kita akan terancam dan bahkan hilang.

Folklor bukan hanya didapatkan dari pembelajaran di sekolah saja, tetapi lingkungan keluarga pastinya menjadi wadah yang paling dekat dalam folklor lisan. Sebagai contoh ungkapan yang berasal dari suku Batak, yang berbunyi:

Adong sinuan

Adong gotilon

Yang memiliki makna apabila kita berbuat baik, maka kita menerima hal yang baik juga. Ungkapan ini sama dengan ungkapan yang familiar sering kita dengar yakni "ada ubi ada talas, ada budi ada balas."

Berdasarkan ungkapan di atas bisa diperjelas bahwasanya melalui folklor lisan sebagai media pendidikan dapat menumbuhkan sikap baik. Beberapa orang akan menganggap bahwa ungkapan ini akan berlaku bagi hidupnya jika dipraktekkan. Selain media pendidikan terjalankan, ada juga nilai karakter yang terkandung. Ungkapan adat atau daerah jika kita sering simak dan sebarkan maka lama-kelamaan akan mengurangi rasa terancam punah. Folklor ungkapan bisa disampaikan saat proses belajar-mengajar dengan harapan siswa belajar dan menanamkan kebaikan yang terkandung.

Seorang guru bisa mengambil cerita rakyat yang berasal dari daerahnya. Misalnya cerita rakyat 'Terjadinya Danau Toba dan Pulau Samosir'. Cerita rakyat suku Batak ini sangatlah melegenda di provinsi Sumatera Utara. Cerita rakyat ini telah banyak ditampilkan dalam media pembelajaran. Alkisah cerita rakyat ini mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Toba dan putri dari kayangan. Pernikahan ini akan dilakukan dengan syarat bahwa Toba harus merahasiakan identitas istrinya. Waktu berlalu dan pernikahan mereka menghasilkan seorang anak yang bernama Samosir. Hingga pada suatu hari, klimaks dari cerita rakyat ini adalah Samosir sang anak memakan masakkan titipan ibunya untuk ayahnya. Kejadian ini membuat Toba langsung naik darah dan memaki anaknya. Tanpa sengaja dia pun mengumpat bahwa menyebut Samosir anak ikan. Toba telah melanggar janji dan membuat istrinya kecewa. Berbagai permintaan maaf tidak digubris. Setelah, kepergian putri pulang ke kayangan, maka turunlah hujan yang deras. Lama-kelamaan terbentuklah danau yang disebut 'Danau Toba'.

Cerita rakyat di atas menunjukkan bahwa pentingnya untuk menjaga janji dan tidak melanggarnya. Nasihat kedua adalah janganlah mengumpat sembarangan kepada orang, karena hal tersebut dapat membuat orang sakit hati, marah, dan kecewa.

Media pendidikan yang memanfaatkan folklor lisan seperti ungkapan di atas setelah diberikan kepada siswa, maka kita dapat meminta anak-anak untuk menceritakan cerita rakyat dan ungkapan yang pernah mereka dengar. Pembelajaran ini mengasah keberanian, percaya diri, dan wawasan. Kebermanfaatan folklor lisan adalah media pendidikan terbaik untuk memperkenalkan seni dan bahasa. Untuk pemakaian ungkapan tradisional sebagai media pendidikan dapat digunakan ketika pembelajaran menjelaskan konsep nilai dan norma sosial budaya dalam bidang pelajaran antropologi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun