Mohon tunggu...
Lintang Prameswari
Lintang Prameswari Mohon Tunggu... Content Writer

Bukan penulis, hanya menulis.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi | Bila Beruntung, Kita 'Kan Menjadi Dua Bandit yang Saling Mencintai

29 Januari 2020   14:55 Diperbarui: 29 Januari 2020   18:51 252 22 10 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi | Bila Beruntung, Kita 'Kan Menjadi Dua Bandit yang Saling Mencintai
ilustrasi (sumber: KOMPAS/TOTO SIHONO)

Bila nanti aku cukup beruntung,
Aku mau jatuh cinta lagi.
Melipat usia yang menua dalam berbagai bentuk cerita,
Tentang apa yang menjadi inginku,
Dan kau tak lelah untuk memahami itu.

Aku ada bersama kisah tentang negeri yang pernah -- dan akan -- bahagia. 
Di tengah-tengahnya nanti, 
Akan ada banyak kejadian yang melibatkanmu. 
Jadi jangan mudah mengeluh akan sikapku, 
Yang kerapkali mengusik kepalamu dengan pertanyaan... 
demi pertanyaan.

Aku percaya, aku akan cukup beruntung.
Pada waktunya nanti, cinta akan datang kembali.
Menodai kertas-kertas kosong yang sedari lama tak ku sentuh dengan kasih,
Ia terlihat cukup lelah mendengar keluh kesah tentang perlawanan,
Seorang perempuan tak tahu diri yang kerjanya memprotes dan marah-marah.

Aku takkan mengeluh dengan keringat-keringat yang membasahi bajumu, 
Ketika kita berkeliling kota mencari sesuap nasi dengan lauk ikan teri. 
Aku kan senang berdesakan di dalam kereta menuju Depok, Bekasi, Yogyakarta hingga Surabaya, atau negeri-negeri yang lainnya, 
Bersama isi dompet yang mungkin tinggal sisa, kau boleh mengajakku dengan atau tanpa rencana. 
Asal aku boleh kembali, mencari sisa yang lain untuk terus hidup lagi.

Aku jarang membeli barang-barang kecantikan,
Tetapi mungkin ruang tamu akan penuh dengan buku-buku yang bertema Revolusi Kuba,
Atau sejarah Orba yang sampai sekarang masih melenggangkan pendudukan kekuasaan,
Dan memperdebatkan tentang siapa saja yang boleh dan tidak boleh berbicara,
Atau sekedar bersuara, meski baru sampai huruf A.

Aku tak perlu meminta pembalasan akan cinta agar semuanya jadi setimpal, 
Tak juga sudi berdebat mengenai siapa gerangan yang paling banyak berkorban di antara kita, 
Karena menyuruhmu menetap bukan menjadi kewajibanku, 
Begitu pula melepasmu, mutlak menjadi hakku. 
Terakhir kali aku mendengar tentang pengorbanan, 
Rumah-rumah dibakar karena akan dijadikan tanah investasi. 
Lalu ku mencium ledakan gas air mata, 
Dan adik kecil yang dilempar kesana kemari hanya karena membawa bendera. 
Siang ini ku dengar gambarnya bersama merah putih telah berganti warna. 
Biru, senada dengan pengusung yang merasa menjadi laut dalam yang selalu haus menelan kekuasaan. 
Topik itu, akan menjadi pembuka perbincangan makan malam kita ketika tak ada lagi nasi yang bisa ku sajikan di meja makan dan berganti dengaan singkong rebus bersama teh pahit teman kita di masa tua,

Gigi-gigi yang menyerah setelah sekian lama mengunyah kebohongan... 
demi kebohongan.

Hingga tiba waktu ketika kau dan aku telah sama-sama beruntung,
Maka sepenuhnya ku biarkan malam demi malam menjadi milikmu,
Milikku,
Agar terbagi di antaranya...
Menjadi milik kita.

Cuplikan film Sang Penari, dari indonesiafilmcenter.com
Cuplikan film Sang Penari, dari indonesiafilmcenter.com

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x