Mohon tunggu...
Karina Lin
Karina Lin Mohon Tunggu... profesional -

Seorang manusia biasa yang suka menulis. Mencintai dan hidup untuk menulis.

Selanjutnya

Tutup

Healthy

BPJS Kesehatan dan Asa bagi Odapus

30 Agustus 2015   23:52 Diperbarui: 30 Agustus 2015   23:52 1196
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Hanya butuh dua menit, si petugas telah menemukan amplop yang dimaksud dan segera menyerahkannya kepada saya. Tak langsung saya buka amplop hasil cek darah tadi. Saya putuskan untuk kembali duduk di ruang tunggu dan baru membukanya. Saya menghela nafas dan perlahan mengintip kertas di dalam amplop. Sembari mengucap doa dan harapan, saya beranikan untuk melihat hasil cek darah imunoserologi, dan hasilnya…

“Jadi gimana, dok ?” Tanya saya saat berada dalam ruang pemeriksaan. Dokter berkacamata itu menelusuri secara cepat hasil cek darah imunoserologi saya. Terus terang, saya nggak tahu apa yang sedang dipikirkannya sekarang. Namun sekejap kemudian, sulas senyum tersungging di bibirnya. Ya, menurut hasil cek darah imunoserologi itu, saya dinyatakan negatif lupus. Sebenarnya saya masih belum yakin ketika membaca sendiri hasil cek darah ini pasca menerimanya dari petugas laboratorium RSUS.

Saya baru yakin ketika internis saya, mengatakan sendiri bahwa hasil cek darah tersebut negatif. Tak terkatakan bagaimana meluapnya kebahagiaan yang menyesak di hati saya kala itu. Saya jabat tangan pak dokter cukup erat dan masih juga saya mengulang pertanyaan kepadanya demikian: “jadi saya negatif kan, dok ?”

Walau saya dinyatakan negatif, ia tetap meresepkan obat kepada saya. Tiga jenis obat yang diresepkan dalam pemeriksaan pertama, ia resepkan kembali. Ditambah satu jenis multivitamin. Dalam menebus resep obat-obatan dari pemeriksaan yang kedua ini, saya tidak menggunakan biaya sendiri. Saya tidak menggunakan kartu BPJS Kesehatan. Total biaya yang harus saya bayarkan dalam pemeriksaan yang kedua ini lebih dari 200 ribu rupiah.

*

Mengalami bagaimana rasanya didiagnosa lupus atau SLE sungguh memberikan hikmah tersendiri bagi saya. Terutama pada pentingnya menjaga kesehatan dan bergaya hidup sehat. Pada sisi lain, saya jadi mengenal yang namanya BPJS Kesehatan. Terus terang, selama menjalani pemeriksaan dan pengobatan terhadap diagnosa penyakit lupus atau SLE ini, saya cukup terbantu. Seperti dalam pasal obat-obatan. Sudah menjadi rahasia umum jika uang yang harus dikeluarkan untuk satu kali berobat ke rumah sakit bisa lebih dari seratus ribu rupiah.

Sementara kita, dalam mengobati suatu penyakit biasanya tak cukup satu kali berobat saja. Bisa dua hingga tiga kali, bahkan pada level penyakit yang berat, bisa berkali-kali. Selain itu, tipe rumah sakitnya pun berpengaruh. Setelah cukup akrab dengan program BPJS Kesehatan ini, saya baru tahu ternyata rumah sakit memiliki tipe-tipe. Penetapan tipe terhadap sebuah rumah sakit dilandaskan pada kelengkapan fasilitas penanganan penyakit, ukuran rumah sakit, dan sebagainya. Perbedaan tipe antara rumah sakit yang satu dengan rumah sakit yang lain, sudah pasti berbeda pula dalam tarif pengobatan dan perawatannya.

Saya dalam hal penanganan diagnosa lupus ini awalnya dirujuk ke RSA yang bertipe C. Kemudian berbekal surat rujuk pengantar, diteruskan ke RSUS yang bertipe B. Seandainya saya tidak menggunakan kartu BPJS Kesehatan kala melakukan penangan terhadap diagnosa penyakit ini, sudah pasti dana yang harus saya keluarkan mencapai ratusan ribu bahkan mungkin satu jutaan.

Tetapi, dengan menggunakan kartu BPJS Kesehatan – saya (tetap) mengeluarkan biaya. Hanya saja, biayanya tak sampai berdigit enam-lah. Artinya biaya untuk check-up dan obat-obatan bisa diminimalkan.

Meskipun demikian, program BPJS Kesehatan bukan tanpa kekurangan. Saya mencoba fair – berimbang ketika sedari awal memutuskan untuk berbagi pengalaman seputar menggunakan kartu BPJS Kesehatan selama penanganan diagnosa penyakit lupus saya. Paling terasa ialah mengenai cek darah imunoserologi, yang mana pasien yang bersangkutan harus membiayai sendiri cek darah tersebut dan biayanya memang tidak murah.

Lebih jauh lagi mengenai lupus atau SLE, faktanya penyakit satu ini sesungguhnya tergolong penyakit mematikan. Tingkat keganasannya setara dengan penyakit kanker yang menggerogoti tubuh bagian dalam dari pengidapnya. Perbedaannya, penyakit kanker telah akrab dikalangan masyarakat kita. Mereka tahu bahwa penyakit kanker ialah penyakit kelas berat. Biaya pengobatan untuk penyakit kanker tidaklah ringan. Namun, seorang pengidap kanker masih memiliki kans untuk menyembuhkan penyakitnya itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun