Mohon tunggu...
Leya Cattleya
Leya Cattleya Mohon Tunggu... Asisten Pribadi - PEJALAN

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Gaya Hidup Nomaden: Dari Masa Prasejarah, Zaman Modern, hingga Era Milenial

10 Juni 2019   08:50 Diperbarui: 11 Juni 2019   07:15 4048
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kelompok Kochi Afganistan ( Robert J Gallbraith)

Beberapa contoh di atas menggambarkan standar dan gaya hidup kelompok Nomaden yang memiliki keterikatan anggota kelompok mereka yang kecil, yang hidupnya tergantung pada sumber daya hutan dan alam serta seni asli. Mereka pada umumnya egaliter dalam relasi sosialnya, mau bekerajsama atau kooperatif.

Mereka bergerak dan berpindah untuk mendapatkan sumber daya yang mereka butuhkan. 

Mereka memaknai kehidupan berpindah lebih tinggi dari sekedar ingin memiliki dan akumulasi materi. Ini seperti yang disebut oleh James Woodburn sebagai pencari hasil tercepat 'immediate-return foragers', mereka yang mengumpulkan makanan dan materi untuk kebutuhan regular dan mengkonsumsi hasilnya saat itu juga, daripada menyimpan dan menguasai makanan itu.

Nomaden di Kalimantan, antara Riset Barat dan Konteks Budaya Lokal 

Dalam konteks Kalimantan, Buku dari Sellato and P.G. Sercombe ini menggarisbawahi bahwa gaya hidup nomaden ini terefleksi dan berakar dalam nilai nilai dan perilaku serta praktek yang dijalankan oleh mereka, bahkan yang sudah menetap dan mengadopsi beberapa praktek budidaya.

Buku ini menengarai bahwa kehidupan nomaden di Kalimantan tidak selalu menerapkan kebiasaan yang berkelanjutan, misalnya membuka hutan dengan cara membakar.

Di sini saya sebetulnya menemukan awal perdebatan. Hutan Kalimantan tidak punah oleh kebiasaan masyarakat nomaden yang jumlahnya sedikit, relatif dengan luasan pulai Kalimantan. Kebiasaan membakar hutan untuk membuka lahan baru justru diadopsi oleh korporasi yang membuka hutan dengan wilayah yang luas. Ini tentu membawa dampak yang merugikan.

Juga, punahnya burung burung sebetulnya terjadi karena adanya 'trafficking' dari satwa liar ke luar pulau Kalimantan yang dilakukan baik oleh orang lokal maupun oleh pendatang.

Buku ini memberi simpulan soal heterogenitas masyarakat Dayak yang disebut tidak selalu menjunjung perdamaian. Buku ini menuliskan bahwa terdapat masyarakat yang punya budaya memenggal kepala orang sebagai bagian dari budaya mereka.

Saya melihat terdapat aspek budaya yang terlewat pada buku ini. Saya memahami bahwa pada masa transisi dan memulai kehidupan sosial dengan kelompok masyarakat luas, respons masyarakat Dayak dalam bentuk 'mengayau' dilakukan karena posisi yang terdesak, secara sosial dan ekonomi serta budaya. Ini tentu memerlukan pemahaman yang berbeda dibandingkan dengan nilai 'head hunter' pada masa lama.

Adalah menarik membaca pandangan barat yang menganggap masyarakat nomaden Kalimantan yang dianggap tidak memahami secara penuh kondisi tanaman hutan tropisnya. Buku ini memberi argumentasi bahwa masyarakat nomaden tidak memanfaatkan semua atau banyak jenis tanaman yang ada di hutan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun