Mohon tunggu...
Leya Cattleya
Leya Cattleya Mohon Tunggu... Asisten Pribadi - PEJALAN

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Ibu Ratmi dan Anglo, Antara Mata Pencaharian dan Nostalgia

20 Januari 2019   12:01 Diperbarui: 21 Januari 2019   12:42 1152
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Peristiwa gempa Yogyakarta pada tahun 2006 meluluhlantahkan Bantul dan sekitarnya. Para pengrajin di Kasongan mengalami kerugian yang besar. Barang barang rusak. Dengan dukungan beberapa pihak, pengrajin bangkit. Namun, perkembangan gerabah tidak terlalu baik. Selain pengrajin harus memasarkan sendiri, sifat gerabah yang gampang pecah membuat pengrajin hanya bertahan untuk menjual di wilayah sekitarnya saja.

Bagi kita, Anglo bisa saja merupakan produk nostalgia. Tetapi, bagi orang orang seperti Ibu Ratmi, pengrajin gerabah, pengusaha warung dan angkringan, dan juga pembatik tulis, Anglo adalah barang penting yang mendukung kehidupan mereka. 

Referensi : 

  1. Kompas, "Lebih Sedap Pakai Arang dan Anglo", 13 April, 2008
  2. Lilyk Eka Suranny, "Traditional of Kitchen Equipment as Cultural Heritage Richness of Indonesia Nation (tahun tidak ditemukan)
  3. SP Gustami, The Arts Journal yang berjudul Craft Arts and Tourism in Ceramic Art Village of Kasongan in Yogyakarta (2014)


HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun