Mohon tunggu...
Abdul Azis
Abdul Azis Mohon Tunggu... Wiraswasta
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Abdul Azis, adalah seorang penikmat seni, dari seni sastra, teater, hingga tarian daerah terkhusus kuda lumping. Berasal dari kota Kediri

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Jangan Berlebihan

25 September 2020   07:05 Diperbarui: 25 September 2020   07:29 41 13 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jangan Berlebihan
Dokpri 2015


1//
Ada pepatah kuno yang mengatakan
"Cinta adalah sesuatu yang tidak
Memandang segala hal"
Namun
Bagi-ku pepatah tersebut
Hanya sebatas penghibur selingan
Bagi pasangan labil yang belum
Mengalami fase-fase kesulitan
Perihal
Apa yang ku alami saat ini
Teramat menyakitkan
Tatkala
Hati yang tercipta jernih
Berikrar setia sampai mati
Harus menemui kata patah
Yang didefenisikan sebagai
Permbelotan dari seorang puan
Yang lebih memilih nilai material
Dari altar aristokrasi

2//
Puan
Luka yang kau semaikan
Merupakan dalamnya palung Mariana
Yang tak dapat diselami oleh
Penyelam secara manual
Perihal
Kita yang telah tinggal seatap
Mengenakan baju secara bergantian
Saling menyuap nasi dalam satu piring
Berakhir secara mudah memejamkan mata
Kala
Dirimu yang mulai memasuki area
Fraksi politik secara perlahan
Menjerumuskan dirimu untuk
Lebih memprioritaskan harta
Dari pada janji semati yang kita gaung kan
Di tepi kemegahan senja
Mungkin
Jika waktu dapat berputar kembali
Aku pasti sekuat tenaga melarangmu
Masuk dalam area tersebut
Yang pada akhirnya mengugurkan
Idealisme-mu yang sejajar dengan ku
Sebagai barisan yang bersandar pada pilar kiri

3//
Puan
Hangatnya pelukanmu
Masih setia menyertai
Segala paradigma nalar-ku
Yang masih bekerja
Dan ku akui
Mengenangmu merupakan
Suatu hal yang menyakitkan
Yang mana
Segala kata-kata puitis-mu
Yang kau ucapkan atas dasar nama Tuhan
Hanyalah omong kosong belaka
Yang sejajar dengan pementasan panggung kampanye

4//
Dengan raut yang bersimbah
Peluh air mata
Plasma yang telah membeku
Mulai bertanya
Masih ingatkah kau tentang
Segala kisah kita
Kala
Abad dua ribu empat belas
Kita yang masih tinggal bersama-sama
Masih terisi dengan segala perjuangan
Yang berdiri dengan suara megafon
Membakar ban mobil dengan teriakan penggalan
Bung Widji "Satu kata lawan"
Waktu itu
Kita adalah sepasang kekasih
Yang menjadi mimpi buruk
Di telinga penguasa nan arogan
Perihal
Teriakan lantang yang kita ucapkan
Adalah suatu kejujuran yang tak bermaksud
Mencari nasi bungkus tunggangan elit sakit hati
Sebab kita sadar
Republik tercinta ini
Telah menjadi wadah penampung
Konspirasi kapitalis yang menuju
Pada penindasan

5//
Puan
Di balai-balai rumah
Yang menjadi tempat kita
Bertukar ide
Masih terawat secara rutin
Memang sempat
Ada niatku untuk menghancurkannya
Agar bisa membantu-ku melupakanmu secepat dini
Namun
Lagi-lagi hatiku selalu
Menolak apa yang mau ku perbuat
Sebab bayangan-mu adalah
Kumpulan sakral yang tak bisa terhapus
Seperti mudah meminum air
Perihal
Biar bagaimanapun
Darimu lah aku bisa mengenal
Namanya perjuangan tanpa ketakutan
Yang sering berlaku
Pada kenangan kita di jalanan
Yang selalu sigap
Melontarkan segala argumen
Tanpa ragu kepada pemimpin
Ketika bertatap muka beraudiensi
Yang mulanya disebut-sebut oleh
Para pendahulu kita sebagai
Salah satu bentuk pembunuhan karakter intelektual

6//
Tak terasa
Sudah lima tahun setengah
Aku hidup tanpa kehadiran dirimu
Dan tiba-tiba ku dengar
Kabar dari salah satu sobat
Bahwa kau akan maju sebagai
Calon legislatif perwakilan dari fraksi
Jujur
Antara bangga dan duka aku mendengar
Kabar tersebut
Bangga
Karena semenjak kau meninggalkan-ku
Kau telah menjadi tokoh politik
Yang disegani
Duka
Karena semenjak juga kau meninggalkan-ku
Kau makin dekat menjadi pelacur di birokrat
Perihal
Ketika kau menjadi bagian dari fraksi
Kau tegas melarang ku untuk bersuara lawan
Pada pemimpin negeri yang notabene sebagai bagian
Dari fraksi-mu tersebut

7//
Langit biru kembali menua
Membuka gerbang malam
Berkedip bintang
Aku
Yang berdiri lemah
Mengigit bibir dengan kuat
Menahan nafas berhembus sesak
Perihal
Di malam ini
Tercipta peringatan
Kau memilih pergi
Tatkala
Malam itu yang masih bertunas mula
Kita masih menyempatkan diri
Berhubungan badan dengan proses
Mengejar kenikmatan minoritas
Yang diselingi dengan lumatan bibir
Aspirasi yang berludah juang
Hingga saling menyusui di antara puting
Bekas peluru aparat
Yang berlanjut
Pada terjangan tempur kelamin
Yang bergerak masuk keluar
Menghasilkan butir putih amarah
Kepada pemangku
Dan momen tersebut
Adalah momen terakhir kita
Berdua bersama-sama
Perihal
Semenjak hal itu terjadi
Tepat pukul sepuluh malam
Kau langsung bergegas
Meninggalkanku tanpa
Sepatah maaf
Masih ku ingat
Parkiran mobil Avanza
Yang mengambilmu dari-ku
Dengan segulung kata-kata
Yang tak ku sangka keluar dari mulut-mu
Bahwa
"Aku mencintaimu karena aku kesepian
Bukan karena ketulusan
Serta hubungan yang hakiki
Terpegang erat jika terdapat
Sekumpulan harta yang menghiasi hari-hari
Yang jelas takkan pernah mampir dalam kehidupan
Bersama-mu yang lebih mementingkan berjuang
Dari pada melamar menjadi bagian dari politik"

8//
Puan
Ya memang aku mengakui
Bahwa kehidupan takkan
Berwarna jika tak memiliki
Sekarung rupiah
Dan mungkin saja
Ini menjadi alibi
Darimu untuk meninggalkan-ku
Namun
Perlu kau ketahui
Jalan yang kau tempuh
Merupakan sesuatu yang salah
Sebab
Fraksi yang kini menjadi kediaman-mu
Adalah bagian yang sangat haus akan kekuasaan
Ha
Tapi biarlah sudah
Yang terjadi
Terjadilah
Karena walaupun
Aku harus terkurung dalam ratapan
Langit ketujuh
Aku takkan pernah sekalipun
Mengadaikan idealisme-ku kepada
Saku-saku elit fraksi
Sebab bagiku
Lebih mulia hidup sampai mati
Menjadi miskin yang terhormat
Dari pada menjadi kaya hasil
Rampokan

Kediri, 25 September 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
25 September 2020