Leonardo TSm
Leonardo TSm wiraswasta

Membaca,menyimak,menulis: pewarna hidup.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Ibu Masih Sekuat Dulu, Anakku...

12 Oktober 2018   17:57 Diperbarui: 12 Oktober 2018   23:51 588 3 0
Puisi | Ibu Masih Sekuat Dulu, Anakku...
Ibu masih sekuat dulu anakku. ( Foto: Leonardo TSS)

(Puisi narasi sang bunda)

Sepuluh tahun kamu di pulau seberang, kapan pernah pulang. Tidak apa anakku, ibu hanya bilang rindu sentuh tak rindu suara. Berbilang kali henpon kirimanmu hilang lekas kamu ganti. Kabar terakhir darimu bikin ibu senang bertepuk gempita meski cemas tak tertepis. Kapal tempatmu berbakti merapat di pantai Yunani. Alangkah jauhnya. Bukankah itu sudah di ujung dunia?

Biar kujawab satu-satu anakku:

- Kampung kita masih seperti kamu tinggalkan. Sepi menikam di malam larut. Tapi tak lagi menunggu rembulan seperti dulu anakku. Kawat listrik sudah melintang menyalakan bola lampu yang dulu masih impian kita. Jalan menuju gerbang kampung tak lagi jalan tikus. Kerbau sepasang sudah muat bergandeng di jalan berbatu. Kelak jalan kita akan dilumuri hitamnya aspal. 

-Rumah kita masih yang dulu anakku. Atapnya sudah bocor di belakang. Lantai dan tiang menuju lansia. Aku takut datang lagi gempa seperti dulu. Tapi ibu nyaman kamu janji satu waktu ananda kokohkan dengan gaji simpananmu.

- Apa ibu masih ke hutan cari kayu bakar,tanyamu seminggu lalu. Ya anakku, ibu masih kuat mendaki jalan setapak bersemak mengurusi kebun kopi peninggalan ayahmu. Jangan kuatir anakku. Tuhan masih membuat ibu kuat menjunjung kayu bakar. Ibu tak sudi elpiji yang selalu ada tiada. Ibu suka bara kayu memanaskan badan kala musim hujan seraya bakar ubi dan ikan asin kesukaan ibu.

-Oh ya kukabari juga nanti saat kamu telepon lagi dari seberang dunia. Maria gadis teman sekolahmu dulu baru lulus sekolah menengah kabarnya mau kuliah di kota. Kalau namanya masih tersimpan di kantong hatimu, jangan cemas takkan kemana kalau berjodoh. Mungkin dia sedang menunggumu di satu tempat bermimpi.

* **

Ibu masih sekuat kamu tinggal anakku. Jangan cemaskan ibu. Jangan pula cemaskan rumah kita ambruk, karena ada tangan tak kelihatan menopang orang tulus berserah. Dan pinta ibu jangan ananda tersandung kasih perempuan lain selagi Maria masih hadir dalam kenanganmu. Manakala malam tiba ambil gitar seperti waktu di kampung dulu,nyanyikan cintamu tengah malam hingga Maria membuka jendela kamarnya mengintipmu malu-malu.

***

Ibu masih sekuat dulu anakku. Dan lebih kuat lagi bila ibu mendengar kamu senantiasa sebaik yang ibu kenal. 

Ibu hanya akan lemah lunglai kalau gemerlap hidup di kota membuatmu terbius dan kehilangan pekerti yang selalu dipuji  orang sekampung.

Usia ibu mungkin tak terlalu lama lagi wahay anakku semata wayang. Tapi jangan pikirkan ibu mati tak kamu pandang dan tangisi. Di mana pun manusia bisa mati. Tanah berkubur tak beda dari ujung benua ke ujung benua. Ibu akan tetap hidup selama aku hidup dalam hatimu.

Di ujung tahun kesebelas kepergianmu ini, ibu hanya berserah harap kepada Yang Maha Agung di surga: kembalikan anakku di hadapanku, meski hanya satu hari saja. Bukan ibu menghadang kembaramu ke dunia mana pun ananda berlabuh. Ibu hanya rajin berdoa ananda tak larut usia berlupa kenang.

Karena rindu. Karena cinta. Karena takut kehilangan.

(Ujung senja,Tarutung berhujan 11 Oktober 18)