Mohon tunggu...
Leonard Davinci
Leonard Davinci Mohon Tunggu... Ketika Aku Menulis Maka Aku Ada

Maumere - Flores - Nusa Tenggara Timur (NTT)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Surga Kecil Itu Belum Jatuh ke Bumi Cendrawasih

17 Juni 2020   16:06 Diperbarui: 19 Juni 2020   14:23 104 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Surga Kecil Itu Belum Jatuh ke Bumi Cendrawasih
Ilustrasi oleh Alit Ambara (IndoProgress)

Tanah Papua tanah yang kaya; Surga kecil jatuh ke bumi; Seluas tanah sebanyak madu; Adalah harta harapan.

Tanah Papua tanah leluhur; Di sana aku lahir; Bersama angin bersama daun; Aku dibesarkan.

Hitam kulit keriting rambut Aku Papua; Hitam kulit keriting rambut Aku Papua; Biar nanti langit terbelah Aku Papua.

Demikian lirik lagu 'Aku Papua' yang diciptakan oleh Almarhum Franky Sahilatua dan biasa dinyanyikan oleh salah satu musisi kenamaan asal Papua, Kaka Edo Kondologit. Lagu ini secara tersirat mengisahkan tentang kecintaan masyarakat Papua terhadap tanahnya sendiri yang direpresentasikan sebagai 'Surga Kecil' yang jatuh ke bumi. Representasi 'Surga Kecil' menunjukan pesona tanah Papua yang sangat indah, subur dan kaya akan rempah-rempah serta hasil alam. Selain itu, Papua juga merupakan salah satu wilayah dengan beraneka ragam suku, etnis serta budaya yang mendiami belahan bumi bagian timur Nusantara ini.

Sebagai suatu wilayah dengan beraneka ragam etnis, suku, budaya serta kekayaan yang melimpah dan keindahan alam yang mempesona, tanah Papua memiliki cerita sejarah yang sangat panjang berkaitan dengan kehidupan masyarakatnya. Cerita sejarah pesona tanah Papua yang lagi-lagi direpresentasikan sebagai 'Surga Kecil' ini ternyata belum bisa memberikan kebahagiaan yang hakiki bagi masyarakatnya. Dambaan kebahagiaan Surga yang identik dengan rasa aman, damai, tenteram, adil, makmur dan sentosa, nyatanya masih jauh panggang dari api. Imbasnya, sampai saat ini sebahgian besar masyarakat Papua belum bisa merasakan hakikat sebenarnya dari 'Surga Kecil' yang sering dilantunkan dalam lagu tersebut.

Berbagai permasalahan memang kerap melanda masyarakat Papua. Berdasarkan data dari Tim Sekretariat Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Fransiskan Papua dalam buku Papua Bukan Tanah Kosong (2019), dijelaskan bahwa telah banyak terjadi bencana yang menimpa tanah Papua, mulai dari bencana alam sampai pada bencana kemanusiaan. Bencana alam seperti banjir bandang yang disebabkan oleh eksploitasi hutan serta kekayaan alam secara besar-besaran untuk kepentingan industri, pertambangan dan pembangunan infrastruktur. Sedangkan bencana kemanusiaan, seperti kasus gizi buruk dan wabah campak yang terjadi di Asmat, Yahukimo, Saminage, Korowai serta beberapa daerah lain pada 2018 silam yang menyebabkan kematian puluhan balita dan pemberitaannya menjadi headline pada media lokal maupun media internasional. Kasus-kasus ini juga terus memakan korban dan menambah daftar penderitaan masyarakat Papua yang situasinya cukup memprihatinkan. Selain itu, konflik bersenjata yang terjadi di Nduga dan beberapa daerah lain juga menyebabkan puluhan korban jiwa yang kebanyakan dari masyarakat sipil.

Di sisi lain, perang idealisme mengenai pelurusan sejarah perjuangan untuk keadilan dan perdamaian di tanah Papua juga dilakukan melalui ruang-ruang demokrasi. Suara-suara masyarakat Papua yang terus bergema di jalanan melalui aksi demonstrasi menyampaikan pendapat di muka umum dalam rangka menuntut penyelesaian berbagai kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan juga mengenai aspirasi masyarakat Papua terhadap hak penentuan nasib sendiri sering kali mengalami hambatan oleh Negara. Pendekatan yang represif oleh Negara seakan-akan menutup rapat ruang-ruang demokrasi yang ada.  

Ditambah lagi berbagai persoalan primordial, seperti kasus rasisme. Kasus rasisme tidak terlepas dari budaya stereotip. Samovar, Porter & McDaniel (2014), menjelaskan bahwa stereotip merupakan sejumlah asumsi yang salah yang dibuat oleh manusia di semua budaya terhadap karakteristik anggota kelompok budaya lain. Lebih lanjut, Peoples dan Bailey (2009) memaknai setiap masyarakat memiliki stereotip mengenai anggota, etika dan kelompok rasial dari masyarakat yang lain. Stereotip memang sangat mudah 'diciptakan' oleh manusia dan ketika dilakukan beruang-ulang, seakan-akan menjadi prototipe yang dialamatkan kepada sekelompok masyarakat tertentu. Prototipe masyarakat Papua yang berkulit hitam dan berambut keriting berdasarkan pada lirik lagu 'Aku Papua' menjadikan mereka memiliki stereotip yang agak berbeda dari berbagai etnis lain. Pemahaman yang sempit dari sebahgian kalangan masyarakat tentang makna stereotip, akhirnya berujung pada perlakuan rasial terhadap sebahgian pelajar serta mahasiswa-mahasiswi Papua yang menuntut ilmu di Kota Malang dan Kota Surabaya. Sehingga, mengakibatkan terjadinya demonstrasi besar-besaran oleh masyarakat Papua di berbagai daerah beberapa waktu yang lalu. 

Selain itu, masih ada banyak permasalahan lain, seperti pemahaman ideologi yang sudah mulai bergeser dari esensi utamanya yang menyebabkan munculnya kelompok radikalisme agama di tanah Papua. Benih-benih konflik yang berbau Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) mulai tumbuh dan sengaja 'dipelihara' di tanah Papua sepertinya akan menambah konflik-konflik baru (SKPKC, 2019).

Peran Gereja Lebih Dioptimalkan dengan Tetap Mengedepankan Upaya Dialog 

Pemerintah, dalam hal ini pemerintah pusat maupun pemerintah daerah telah mengambil berbagai terobosan serta kebijakan untuk memajukan masyarakat Papua. Mulai dari pemberian hak Otonomi Khusus (Otsus), pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan serta berbagai pendekatan-pendekatan lain. Akan tetapi, berdasarkan realita yang terus terjadi belakangan ini, sepertinya upaya pemerintah belum tepat sasaran. Akibatnya, asa dan harapan masyarakat Papua terhadap pemerintah perlahan demi perlahan mulai pupus. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN