Mohon tunggu...
Laura Siahainenia
Laura Siahainenia Mohon Tunggu... Administrasi - Dosen dan Peneliti pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura

Sangat berminat pada issue sumberdaya hayati dan dinamikanya

Selanjutnya

Tutup

Nature Artikel Utama

Si Kepiting Kecil yang Berperan Besar bagi Ekosistem Mangrove Teluk Ambon

4 Maret 2024   21:53 Diperbarui: 8 Maret 2024   13:02 741
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sebagian Perairan Teluk Ambon saat pagi hari (Sumber: koleksi pribadi)

Perairan laut yang mengelilingi Pulau Ambon terdiri atas beberapa bagian yaitu: perairan Teluk Ambon Luar, Teluk Ambon Dalam, Jazirah Leihitu, dan Jazirah Leitimur. 

Setiap bagian perairan memiliki variasi tipe ekosistem dan karakter habitat, akibat perbedaan posisi astronomis dan geografis. Perairan Teluk Ambon memiliki ekosistem khas perairan tropis yaitu terumbu karang, lamun, dan mangrove, serta berbagai sumberdaya hayati yang dikandungnya.

Di sisi lain, wilayah pesisir Teluk Ambon telah dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, seiring pertumbuhan penduduk dan peningkatan aktivitas pembangunan. 

Berbagai aktivitas pemanfaatan di wilayah ini antara lain: pelabuhan/dermaga dan jalur transportasi kapal Pelni, kapal ikan, kapal ferry, Pelabuhan Perikanan Nusantara, Pelabuhan Pangkalan Angkatan Laut dan POLAIRUD, area penambangan pasir dan batu, area penambatan perahu dan kapal, pembangunan pemukiman, restoran/cafe, penginapan, pusat pertokoan, pasar dan rumah sakit, aktivitas PLTD dan industry, serta lahan pertanian, perikanan tangkap dan budidaya. 

Berbagai aktivitas antropogenik tersebut tentu memberikan dampak terhadap keberadaan dan keberlanjutan ekosistem termasuk sumberdaya hayati didalamnya.


Salah satu ekosistem di Teluk Ambon yang mendapat pengaruh aktivitas antropogenik yaitu ekositem mangrove. Hal ini terindikasi melalui penurunan luasan mangrove, perubahan struktur komunitas dan zonasi mangrove serta penurunan kualitas habitat biologi/fisik/kimia. 

Kondisi ini secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi keberadaan organisme penghuni ekosistem mangrove. Padahal ekosistem mangrove memiliki peranan baik secara ekologis maupun ekonomis. 

Peran ekologis ekosistem mangrove yaitu sebagai penjebak sedimen dan air tawar, pengcegah intrusi air laut, penghasil detritus yang dapat dimanfaatkan bagi organisme pemakan detritus (detritofor), komponen utama rantai makanan pada ekosistem mangrove, pendaur ulang zat hara, serta habitat bagi banyak organisme yang memanfaatkan ekosistem ini sebagi tempat berlindung, tempat mencari makan, tempat pengasuhan dan pembesaran, serta tempat bereproduksi. 

Dengan demikian maka ekosistem mangrove Teluk Ambon merupakan ekosistem yang produktif.

Ekosistem mangrove Tawiri Teluk Ambon(Sumber: koleksi pribadi)
Ekosistem mangrove Tawiri Teluk Ambon(Sumber: koleksi pribadi)

Salah satu organisme penghuni ekosistem mangrove yaitu kepiting biola, Uca spp. Disebut kepiting biola karena pola kontinuitas pergerakan capit individu jantan dari substrat ke mulut dan kembali ke substrat saat makan, mirip seperti gerakan pemain biola. 

Kepiting biola merupakan organisme makrozoobentos, yang tergolong dalam Filum Arthropoda (hewan berkaki sendi), Family Ocypodidae, Ordo Decapoda (berkaki sepuluh) dan Kelas Crustacea (tubuh berkulit keras). Golongan kepiting ini sangat unik, berukuran kecil dengan lebar karapaks hanya 1-3 cm, tergantung jenisnya. 

Beberapa spesies memiliki warna tubuh cerah bergradasi, memiliki pergerakan yang sangat cepat, menciptakan liang bioturmasi dengan cara menggali substrat, serta memiliki bentuk dan ukuran capit yang berbeda antar jenis kelamin. 

Kedua capit pada individu betina berbentuk dan berukuran sama, sedangkan salah satu capit kiri atau kanan dari individu jantan berbentuk lebar dan berukuran lebih besar dibandingkan capit lainnya. 

Ekosistem mangrove Waiheru Teluk Ambon (Sumber: koleksi pribadi)
Ekosistem mangrove Waiheru Teluk Ambon (Sumber: koleksi pribadi)

Warna tubuh dan capit serta ukuran capit yang berbeda digunakan sebagai karakter pembeda antar jenis dan jenis kelamin. Capit besar pada individu jantan berfungsi sebagai alat pertahanan diri, alat mengambil makanan, alat komunikasi antar individu dan alat pemikat lawan jenis.

Komunikasi yang dilakukan individu jantan berupa lambaian capit besar ketika antenna terangsang oleh feromon (senyawa kimiawi) yang dihasilkan individu betina. 

Sentuhan fisik antara jantan dan betina merupakan isyarat visual antar individu. Individu jantan juga memberikan sinyal ritual kawin melalui suara atau getaran gerakan capit besar, berlari menuju liang betina dan kembali lagi ke liangnya, sehingga menciptakan gerakan seperti tarian.

liang bioturbasi dan tipe substrat habitat kepiting biola (Sumber: koleksi pribadi)
liang bioturbasi dan tipe substrat habitat kepiting biola (Sumber: koleksi pribadi)

Kepiting biola hidup di kawasan pantai sekitar ekosistem mangrove atau aliran sungai dan creek, dengan substrat dasar pasir, lumpur, lumpur berpasir atau pasir berlumpur, juga sering ditemukan pada pantai bersubstrat dasar kerikil. 

Kepiting biola memiliki tingkah laku menggali liang bioturbasi pada substrat, untuk berlindung saat pasang, dan keluar saat air surut, kemudian aktif mencari makan atau kawin. Kepiting biola merupakan pemakan detritus (detritovora).

Pola hidup dan tingkah laku kepiting biola menyebabkan organisme ini memiliki peranan ekologis penting bagi ekosistem mangrove secara umum maupun bagi organisme penghuni ekosistem mangrove secara khusus. Beberapa peranan ekologis kepiting biola antara lain:

kepiting biola Uca vocans yang banyak ditemukan di Teluk Ambon (Sumber: Koleksi Pribadi)
kepiting biola Uca vocans yang banyak ditemukan di Teluk Ambon (Sumber: Koleksi Pribadi)
  • Sebagai komponen rantai makanan

Kepiting biola merupakan pemakan detritus mangrove sehingga turut menjaga kelangsungan rantai makanan dengan cara menghubungkan satu komponen dengan komponen lainnya dan menjamin kelangsungan siklus nitrogen pada ekosistem mangrove. 

Detritus yang mengandung zat hara dikonsumsi oleh kepiting biola dan kemudian menghasilkan buangan yang dapat dimanfaatkan kembali untuk meningkatkan kesuburan perairan.

  • Sebagai organisme dekomposer 

Melalui capit yang kuat dan tajam, kepiting biola mampu menghancurkan serasah mangrove menjadi komponen lebih kecil, sehingga mampu mempercepat proses penguraian serasah. Proses penguraian oleh kepiting biola dapat membantu kerja organisme pengurai, sehingga mereduksi pemanfaatan oksigen di perairan.

  • Membantu proses oksigenisasi lapisan substrat terdalam 

Tingkah laku menggali liang bioturbasi untuk berlindung dan bereproduksi secara tidak langsung menciptakan media aliran oksigen ke bagian lapisan dalam substrat, sehingga dapat memasok oksigen untuk meningkatkan aerasi substrat. 

Kondisi tersebut selanjutnya berkontribusi terhadap kelimpahan mikrorganisme aerobik yang akan mengoksidasi bahan organik, sehingga meningkatkan kesuburan perairan bagi pertumbuhan vegetasi.

  • Mereduksi akumulasi mineral 

Tingkah laku menggali dengan cara mengangkut substrat dari lapisan dalam ke permukaan akan mereduksi akumulasi bahan anorganik pada bagian dalam lapisan substrat, yang kemudian akan mengalami perombakan dengan bantuan oksigen yang cukup banyak tersedia pada permukaan substrat. Dengan demikian kepiting biola berperan penting dalam proses daur ulang zat hara.

  • Mempengaruhi kehadiran dan kelimpahan organisme mieobentos

Kontribusi liang bioturbasi kepiting biola terhadap pasokan oksigen dan oksidasi bahan organik pada lapisan terdalam substrat turut mempengaruhi kehadiran organisme kecil (mieobentos), diantaranya polychaeta, pelicypoda, copepod, ostracoda, nematode, foraminifera, tubelaria dll., yang juga berperan sebagai komponen rantai makanan bentik, pendaur ulang zat hara, pengurai, dan produsen primer, selain meningkatkan keanekaragaman hayati.

Penjelasan di atas telah memberikan gambaran tentang pentingnya ekosistem mangrove yang menjadi habitat bagi kepiting biola Uca spp. yang meskipun secara ekonomi belum optimal dimanfaatkan oleh masyarakat, namun memiliki peran ekologis yang sangat besar bagi ekosistem mangrove di Teluk Ambon. 

Dengan demikian populasi kepiting biola dan ekosistem mangrove sebagai habitat alaminya perlu dikelola agar lestari dan berkelanjutan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun