Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Penulis Novel

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ketika Seorang Bos Meminta Takjil Gratis

25 Mei 2019   06:00 Diperbarui: 25 Mei 2019   06:09 0 43 21 Mohon Tunggu...
Ketika Seorang Bos Meminta Takjil Gratis
Pixabay.com

Kebiasaan berbagi takjil gratis sepanjang bulan mulia masih terus dilakukan Young Lady. Sore-sore jadi lebih indah karena diisi dengan berbagi. Hati ini diguyur rasa senang sebab bisa membahagiakan duafa dengan sedikit kemewahan yang manis.

Tapi, tak setiap sore berlukis indah. Ada hal yang mengganggu pikiran. Kejadiannya beberapa hari lalu.

Saat itu, Young Lady cantik berbagi takjil seperti biasa. Terlihat sekelompok laki-laki berbaju lusuh berkumpul di bawah pepohonan. ,Mereka tengah melepas lelah setelah bekerja keras memeras energi. Di kanan-kiri mereka, berderet banyak penjual makanan. Mulai dari makanan berat sampai makanan ringan. Ingin mereka membelinya, namun pendapatan tak cukup.

Para pria itu senang sekali menerima takjil gratis. Keinginan mereka sedikit terpuaskan. Tak perlu lagi mereka menatap rindu para penjual makanan. Di tangan mereka, kini telah tergenggam makanan pembatal puasa yang mereka harapkan.

Di antara suara-suara bernada terima kasih itu, terdengar suara lain. Seruan seorang pria. Suaranya keras, bukan jenis suara yang bagus. Pria itu terang-terangan minta takjil. Ternyata, ternyata, oh ternyataaaa, yang memintanya adalah seorang pria berkursi roda. Ia semacam bos, raja kecil di lingkungan itu.

Hellooooo, bos minta takjil gratis? Apa kata duniaaaa?

Bayangkan, mylove. Bayangkan! Orang kaya, orang yang punya kebebasan finansial, masih meminta-minta takjil gratis!

Tentu saja Young Lady tolak. Who do you tink you are, kayak lirik lagunya Christina Perry. Harusnya dia ngaca dong sebelum minta. Young Lady cantik punya alasan untuk tidak memberikannya.

Pertama, karena porsinya sudah habis. Syukurlah dia meminta tepat ketika semua porsi yang dibagikan telah habis. Buat apa menyisakan makanan gratis untuk orang kaya?

Kedua, kelakuannya sama sekali tidak mencerminkan bos yang baik. Bos bermental gratisan, itu label yang layak untuknya. Bila semua bos di negeri ini mengembangkan mental gratisan, apa kabar Indonesia?

Bodohnya, tahun lalu si bos tak tahu diri ini pernah dapat takjil yang tersisa dari Young Lady. Jelas Young Lady cantik tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Ngapain berbagi pada orang kaya? No way! Harusnya, yang kaya dong yang punya kesadaran berbagi. Zaman memang sudah gila. Dunia sudah terbalik. Yang kaya meminta-minta makanan gratis.

Anyway, Young Lady bukan orang kaya. Tetapi Young Lady masih punya nurani. Di saat orang berlalu-lalang menyerbu penjual makanan, Young Lady memilih mendatangi orang-orang di pinggir jalan yang hanya bisa menatap miris deretan takjil yang dijajakan. Ketika orang sibuk berburu, Young Lady berbagi.

Balik lagi ke bos berkursi roda itu. Kabarnya, ia terkena stroke. Praktis dia harus memakai kursi roda. Cerita lain menyebutkan, dia bujang karatan yang tak laku-laku. Ketiadaan istri di rumah membuatnya haus kasih sayang dan senang kalau diberi makanan.

Apa pun alasannya, Young Lady sangat tidak suka kalau ada orang kaya/bos yang meminta-minta makanan gratis. Tindakan itu sangat dibenarkan. Sudah punya kelebihan rezeki, kok masih menadahkan tangan? So, Young Lady tak pernah setuju dan tak suka ikut kegiatan berburu takjil gratis. 

What for? Kalau bisa mengadakan sendiri, buat apa nyari yang gratis? Kalau bisa berbagi, kenapa harus meminta? Lain lagi halnya jika konteksnya pemberian, hadiah dengan tulus dari orang spesial terkasih. Itu tidak apa-apa. Asalkan jangan meminta-minta.

Ketika "Calvin Wan" tahu kejadian itu, ia malah menceritakan pengalaman yang hampir sama di tahun berbeda. Namun ceritanya terputus karena Young Lady keburu menangis. Di saat begitu, menangis jadi media katarsis.

Buat Kompasianer yang kaya, yang telah menjadi bos, jangan tiru kelakuan bos scupid itu. Jadilah bos yang dermawan. Mental pemurah lebih baik ketimbang mental pengemis. Dermawan lebih baik dibanding mengiba. Mengangkat tangan lebih baik daripada menadahkannya.

Kompasianer, pernahkah kalian mengalami pengalaman serupa?