Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[Langit Seputih Mutiara] Peluru-peluru Berlepasan, Separatis

7 Desember 2018   06:00 Diperbarui: 7 Desember 2018   05:59 297 21 19
[Langit Seputih Mutiara] Peluru-peluru Berlepasan, Separatis
Sumber Foto : Pixabay.com

Rumah bercat kelabu itu nampak kusam. Catnya mengelupas di beberapa tempat. Pagarnya berkarat. Beberapa gentingnya jatuh. Rumput di halaman sempit meninggi. Tanaman-tanaman layu.

"Rumah ini seperti mati, Sayang." kata Arlita, melayangkan pandang ke teras sempit yang dipenuhi tumpukan sampah dedaunan.

"Iya, Ummi. Sudah lama aku meninggalkannya. Sepertinya, rumah ini tidak pernah disewa lagi sejak aku pergi." Adica menyahuti, membersihkan teras. Membuang sampah dedaunan.

Engsel pintu lama tak diminyaki. Arlita kesulitan memutarnya. Adica tersenyum kecil menatapi kerepotan sang ibu. Entah mengapa, Umminya ingin tahu rumahnya yang dulu.

Debu-debu beterbangan di ruang tamu. Lantai, kursi minimalis, meja kecil, semuanya dilapisi debu. Terdapat retakan besar di dinding. Lampu rusak, tak bisa dinyalakan lagi. Jangan harap ada perabotan mewah di rumah kecil ini. Semuanya serba minimalis.

"Ya, Allah, jadi dulu kamu tinggal di sini?" desah Arlita.

Adica mengangguk, mengibaskan bebu dari ujung jasnya. Arlita menggeleng-gelengkan kepala, antara sedih dan tak percaya. Belum tentu ia sekuat Adica bila harus tinggal di rumah sekecil ini.

"Kamu kuat, Sayang..." puji Arlita, membelai-belai lengan putranya.

Violinis itu hanya tersenyum. Biasa saja, perjuangannya masih belum apa-apa. Ia pun membawa Umminya keluar rumah.

Mereka melanjutkan jalan-jalan sore di pemukiman sekitar rumah kelabu. Tak ragu berinteraksi dengan para tetangga. Ada penghuni lama, ada pula yang baru. Rerata berprofesi sebagai perajin limbah kelapa, loper koran, driver ojek online, pedagang keliling, buruh, dan pembantu rumah tangga. Arlita berempati melihat beberapa perempuan seumurannya kerepotan mengangkat galon dan keranjang-keranjang kue.

"Adica, Ummi ingin lihat kios koran tempatmu dulu bekerja." pinta Arlita.

"Tapi, jaraknya masih terlalu jauh dari sini. Mobil kita di jalan depan itu. Ummi tidak apa-apa kalau harus jalan sedikit?" Adica sedikit ragu. Namun, Arlita meyakinkannya.

"Indonesia termasuk negara yang penduduknya paling malas jalan kaki. Come on, Ummi tak ingin membuat negara kita makin malu."

Tertawa kecil, Adica menggandeng tangan Umminya ke arah berlawanan. Mereka berjalan menyusuri jalan kecil menuju kios koran. Langit seputih mutiara, perlahan memuntahkan hujan.

Arlita menyukai hujan. Sesaat kedua tangannya terangkat, menerima tetes-tetes hujan. Pemuda tampan di sampingnyalah yang menaruh kekhawatiran. Adica membuka jasnya. Dengan lembut, ia selimuti tubuh Arlita.

Romantis? Sangat. Sering kali adegan ini dilakukan pria pada wanita yang ia cintai di film-film romantis. Tapi, kali ini dilakukan seorang anak yang sangat menyayangi ibunya. Walau sang ibu tak terikat secara biologis.


Waktu hujan turun

Di sudut gelap mataku

Begitu derasnya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5