Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis - Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[Spesial] Mata Pengganti, Pembuka Hati: Mengapa Kau Begitu Baik Padaku?

7 Januari 2018   05:51 Diperbarui: 7 Januari 2018   08:25 968
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Sambil menyetir, sepintas Calvin memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di tepi jalan. Dari penampilannya, tak ada yang cukup pantas untuk mendapatkan makanan. Sepertinya mereka bukan orang yang tidak berpunya. Bisa-bisa ia salah sasaran dalam berbagi. Kebaikan itu, saat kita berbuat baik pada orang yang takkan mampu membalasnya. Itulah esensi kebaikan yang sebenar-benarnya.

Sebuah vihara yang ia lewati menarik perhatiannya. Bukan viharanya, tapi penjaga vihara yang membuatnya tertarik. Pria bertubuh gemuk dan berpakaian sangat sederhana. Penampilannya bersahaja, tenang, dan mengundang simpati. Seorang penjaga tempat ibadah, profesi mulia. Dalam hati, Calvin menebak-nebak. Belum tentu penjaga vihara itu beragama Buddha. Bisa saja ia beragama Islam, Katolik, Protestan, atau Kong Hu Cu. Bila ia umat non-Buddha namun sudi menjaga tempat ibadah ini, berarti dia sangat toleran. Baiklah, ini orang yang tepat.

Dihentikannya mobil tepat di depan vihara. Mengambil porsi makanan dan minuman, lalu berjalan menghampiri si penjaga. Penjaga vihara itu menyambutnya ramah. Menatap blogger super tampan mantan duta budaya Tionghoa itu penuh perhatian.

"Mau kebaktian, Pak?" tanyanya ramah.

"Oh, bukan..." Calvin tersenyum, pelan menunjukkan tasbih mungil yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Tionghoa Muslim? Subhanallah...Allahu Akbar. Sikap si penjaga vihara berubah makin hangat.

Selalu saja begini. Tiap kali Calvin ke klenteng, gereja, dan vihara, ia dikira salah satu umat. Sebaliknya, bila datang ke masjid, Calvin disangka mualaf. Aneh-aneh saja.

Setelah memberikan makanan, Calvin berbincang sebentar dengan si penjaga vihara. Laki-laki tua bertubuh tambun, berkacamata, berkepala botak, dan berpakaian sederhana berdiri bersisian dengan pria tinggi semampai, berpostur tegap proporsional, dan berwajah luar biasa tampan. Dua sosok yang kontradiktif, tapi bisa mengobrol akrab.

Si penjaga vihara tak henti-hentinya menatap kagum pada Calvin. Menatap wajah lembutnya, senyumnya, dan tubuh idealnya yang dibalut setelan top eksekutif yang sangat mahal. Calvin Wan, figur inspiratif yang layak dikagumi dan dicintai.

**      

"Kamu dari mana saja, Calvin Sayang?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun