Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Mata Pengganti, Pembuka Hati (5)

13 Oktober 2017   05:47 Diperbarui: 13 Oktober 2017   06:01 390 26 15

Azan Subuh spontan membangunkan Silvi. Wanita cantik itu refleks menegakkan posisi duduknya. Rupanya sejak tadi ia tertidur di sofa ruang tamu. Lelah menanti Calvin kembali. Nyatanya, pria tampan belahan hatinya itu belum kembali juga.

Perasaan sepi yang sama merayapi hatinya. Ada apa dengan Calvin? Mengapa sikapnya berubah pada Silvi? Sekali pun terhalang padatnya aktivitas dan jadwal pekerjaan, setidaknya ia bisa meluangkan waktu untuk mengabari istrinya. Apa susahnya memberi kabar pada Silvi? Cukup dua-tiga menit saja waktu yang perlu ia sisihkan untuk melakukannya.

Sekejap saja Silvi merasa dirinya tak penting lagi di mata Calvin. Apakah ia akan bernasib sama seperti kebanyakan wanita-wanita dengan kondisi semacam itu? Memiliki suami yang sempurna, lalu sang suami meninggalkan mereka karena hadirnya wanita lain. Tepatnya, wanita yang jauh lebih mampu melayani mereka. Jika itu benar-benar terjadi, betapa kecewanya Silvi.

Hati yang kalut mengantarkan Silvi ke mushala kecil di dekat pantry. Ruangan mungil dan nyaman penuh koleksi sajadah dan Al-quran. Saat membangun rumah ini, Calvin dan Silvi sengaja menambahkannya. Bagi mereka, ibadah itu nomor satu. Perlu ada ruang yang cukup di rumah untuk beribadah.

Ruku', sujud, dan zikir menjadi obat penenang paling mujarab untuk Silvi. Ia berlama-lama dalam shalatnya. Menikmati komunikasi transendental dengan Illahi. Allah selalu bersamanya, Allah selalu menguatkannya. Begitu keyakinan Silvi. Hanya Allah dan dirinya sendiri yang dia percaya seratus persen. Selebihnya, Silvi tak pernah mempercayai diri siapa pun setotal itu. Selalu ada celah di hatinya untuk tidak terlalu mempercayai orang lain. Bahkan pada suami, anak, dan keluarganya sendiri.

Rindunya pada Calvin ia alihkan dengan mencurahkan kerinduan sepenuh hati pada Allah. Biarlah rasa ini teralih dari hati manusia, dan tertuju hanya pada Tuhannya. Silvi mencoba menyiapkan mental atas segala kemungkinan terburuk. Mungkin saja saat ini Calvin berniat meninggalkannya. Di luar sana, bisa jadi ia sudah selesai dengan pekerjaannya. Lalu menemui wanita idaman lain. Apa pun bisa terjadi.

Melakukan penyiapan mental dari awal, itulah yang dilakukan Silvi. Ia bersiap-siap jika dalam waktu dekat Calvin akan menceritakan datangnya wanita idaman lain kemudian memutuskan berpisah. Silvi sadar siapa dirinya. Wanita seperti dia rentan sekali diceraikan, diselingkuhi, dan dimadu. Ia sudah tahu risikonya.

Siapkah Silvi menerima itu semua? Tentu saja. Dengan kondisi dirinya, Silvi harus siap atas berbagai kemungkinan terburuk yang bisa menimpa pernikahannya. Calvin yang sempurna karena kesetiaan dan konsistensinya, bisa saja terpeleset ke dalam lembah dosa dan menghancurkan pernikahan mereka. Tanpa sadar, Silvi menyeka ujung matanya. Dua titik bening terjatuh di sana.

**     

Bukan Adica Wirawan namanya jika tidak melakukan hal yang membuat orang lain penasaran. Pagi ini buktinya. Ia terbangun lima menit sebelum azan Subuh. Bergegas mengambil wudhu, lalu pergi ke masjid. Menariknya, ia pergi ke masjid dengan naik skateboard. Bukannya berjalan kaki atau naik mobil. Jamaah masjid di kompleks perumahan elite itu tak heran lagi dengan kebiasaan Adica.

Adik pertama Calvin Wan itu mulai beraksi. Ia sudah sering naik skateboard ke masjid. Baginya, skateboard adalah ekspresi kebebasan. Seperti Calvin yang menganggap catwalk sebagai tempatnya berekspresi.

"Adica..." sapa Imam masjid saat berpapasan di halaman masjid yang cukup luas.

"Selalu dengan skateboardnya ya?"

Adica hanya tersenyum tipis. Pria yang tergolong high quality single itu melangkah memasuki masjid. Mengisi saf terdepan. Melirik ke arah jamaah yang telah berkumpul. Tak mendapati Calvin di antara mereka. Hati Adica diliputi tanda tanya.

"Cari siapa?" tegur sang Imam masjid.

"Calvin," jawab Adica singkat.

"Hmm...aneh ya. Dia tidak ada di sini. Biasanya dia rajin shalat berjamaah di masjid kita ini."

Itu pula yang menjadi tanda tanya di benak Adica. Tak dapat diingkari, tanda tanya itu berpadu dengan sepercik kecemasan. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada kakaknya. Meski kelihatan tidak peduli dan tidak menghormati Calvin, sesungguhnya Adica sangat care. Kepedulian yang tersembunyi di balik sikap dingin.

Hingga iqamat, Calvin tak juga datang. Adica menekan dalam-dalam kecemasannya. Fokus sejenak dengan shalat.

Usai shalat Subuh berjamaah, Adica kembali naik skateboard. Kali ini ke rumah kakaknya. Rumah Calvin hanya terpisah dua blok dengan rumah Adica. Dua menit setelah membunyikan bel, orang pertama yang dilihatnya dari dalam rumah adalah Silvi.

"Pagi Adica," sapa Silvi, tersenyum ramah.

"Calvin mana?" tanya Adica to the point. Sukses memudarkan senyuman di wajah Silvi.

"Dia belum pulang sejak kemarin."

Refleks Adica menepuk dahinya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Calvin? Sebelum vonis Hipernefroma jatuh, Adica takkan terlalu khawatir. Tapi sekarang? Kondisi Calvin berbeda. Ia tak sesehat dulu. Bagaimana bila Calvin tiba-tiba drop?

"Hei, kenapa? Apa kamu tahu sesuatu tentang Calvin?"

Makin kebingungan Adica menghadapi pertanyaan Silvi. Calvin melarang Adica dan Syifa memberitahukan penyakitnya pada Silvi. Keputusan kakaknya itu ia hargai. Biarkan Calvin sendiri yang akan membuka rahasia soal penyakitnya pada Silvi. Memang sebaiknya Silvi tahu dari Calvin, bukan dari orang lain.

"Papa Adicaaaa!"

Terselamatkan dari kewajiban menjawab, Adica tersenyum melihat Syahrena berlari kecil mendekatinya. Keponakan cantiknya itu merentangkan lengan, memeluk Adica erat. Meski sikapnya terkadang dingin, membuat orang penasaran, dan sedikit angkuh, Adica respek pada anak-anak. Adica sangat menyayangi Syahrena. Begitu sayangnya sampai-sampai ia melarang Syahrena memanggilnya dengan sebutan 'Uncle'. Sebagai gantinya, ia meminta Syahrena memanggilnya 'Papa Adica'. Syahrena sudah seperti anaknya sendiri.

"Syahrena Sayang...sudah shalat?" tanya Adica lembut, mencium pipi keponakannya.

"Sudah." Syahrena menjawab, senyum ceria tak lepas di wajah cantiknya.

"Good girl."

Detik berikutnya, Syahrena menarik tangan Adica masuk ke dalam rumah. Adica tak bisa menolak. Silvi tersenyum memperhatikan mereka. Keceriaan Syahrena dan kedekatannya dengan Adica sedikit-banyak mengobati keresahan di dalam hati.

Syahrena anak yang periang. Banyak hal diceritakannya pada Adica. Mulai dari teman-teman di sekolahnya, guru favorit, pelajaran Matematika yang paling disukainya, dan kegiatan ekstrakurikuler. Adica mendengarkan cerita Syahrena dengan sabar. Tak sedikit pun merasa bosan. Ia tertarik dengan perkembangan keponakannya ini.

Seraya mendekap Syahrena, Adica menatap kedua bola matanya. Gadis kecil itu memiliki mata yang indah. Wajahnya innocent. Senyumnya tulus dan menawan. Syahrena anak perempuan yang jelita. Ditatapnya dalam-dalam mata keponakannya itu. Apa jadinya bila kelak nanti Syahrena kehilangan Ayahnya? Pastilah Syahrena akan sangat terpukul. Ia dekat dengan Calvin. Jauh lebih dekat dibandingkan dengan Silvi. Hal yang wajar saat anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya.

Mau tak mau Adica merasa sedih. Bagaimana nasib Syahrena bila ia kehilangan ayahnya? Menjalani hidup sebagai anak yatim tidaklah mudah. Bukan soal finansial yang diresahkan Adica, melainkan soal pemenuhan kebutuhan psikologis dan afeksi. Sebaik apa pun pria pilihan Calvin untuk menggantikannya, tetap saja posisi Calvin takkan terganti. Calvin Wan adalah ayah yang sempurna untuk Syahrena.

"Papa Adica kenapa? Kok liatin Syahrena kayak gitu?"

Pertanyaan lembut Syahrena membuatnya tersadar. Ia mengusap rambut Syahrena, lalu berusaha tersenyum. "Nggak apa-apa, Syahrena. Papa Adica kangen aja sama kamu. Hampir tiga minggu kita nggak ketemu kan?"

"Iya. Papa Adica sibuk sih. Kayak Ayah." Syahrena pura-pura merajuk, lucu sekali ekspresi wajahnya.

Ya, Calvin sibuk. Sibuk mencari mata pengganti untuk Silvi. Sibuk mencari ayah baru buat putrinya.

**       

"Maybe he's a gift from God. Dulu, kamu pernah kehilangan seseorang yang dicintai. Lalu Calvin datang tepat ketika kamu kehilangan. Membantumu bangkit, membasuh luka di hatimu, dan selalu ada untukmu. Apa itu bukan pemberian Allah yang pantas disyukuri?"

Suara lembut Calisa, sahabat lamanya, sedikit-banyak menguatkan hati Silvi. Senyumnya pun menenteramkan. Video call mempermudah komunikasi di antara mereka. Kini Calisa sedang melanjutkan studinya di Amerika. Meski demikian, Calisa tak pernah melupakan Silvi. Sibuk belajar dan menempuh hidup baru dengan James, suaminya, tidak membuat Calisa lupa pada Silvi. Calisa bukanlah tipe sahabat yang melupakan sahabat dan saudaranya di saat bahagia.

"Aku sangat bersyukur bisa mengenal Calvin," Silvi kembali angkat bicara.

"Tapi...aku menyesali beberapa sikapnya yang membuatku kecewa."

"Contohnya apa?"

"Dia tak bisa menunggu, sementara aku selalu bisa menunggunya. Dia tertutup dan aku terbuka. Beginikah relasi yang ideal? Salah satu pihak sangat terbuka, sedangkan pihak lainnya tertutup? Bagaimana jika Calvin lama-lama tak tahan denganku, lalu mencari wanita lain?"

"Oh Silvi..." Calisa tertawa manis.

"You're so funny."

Kalau bukan Calisa yang mengatakannya, mungkin Silvi akan tersinggung di saat seperti ini. Ia menahan diri. Menunggu Calisa menyelesaikan ucapannya.

"Nobody perfect, Dear. Maybe, itulah kekurangan Calvin yang belum kamu tahu. Soal tertutup, waktulah yang akan menjawabnya. James juga tertutup. Tapi jika waktunya sudah tepat, dia akan cerita semuanya padaku."

"Mungkin Calvin menganggapku anak kecil. Belum dewasa. Okey fine, kuakui dia lebih dewasa dariku. Tapi kalau dia terus-terusan begini..."

"Aku tidak kenal langsung, tapi aku sudah tahu siapa Calvin Wan. Aku memperhatikanmu dari jauh, Silvi Sayang. Dan kuperhatikan Calvin juga."

Sungguh, Silvi tak menyangka. Calisa seperhatian itu padanya. Mengapa Calisa begitu perhatian? Bukan hanya Silvi yang suka memperhatikan orang dari jauh, ternyata Calisa melakukan hal yang sama.

"Kupantau semua medsosmu, Silvi. Kubaca tulisan-tulisan Calvin. Tulisan terbarunya tentang Lagom, kata Swedia itu, masuk jajaran terpopuler. Mengagumkan..."

Mengejutkan, ternyata Calisa tahu sejauh itu tentang Calvin. Meski Silvi lebih banyak diam. Meski tak sepotong pun cerita terlontar darinya.

"So, what should I do?" Silvi bertanya setengah putus asa.

"Waiting," Hanya itu satu kata yang diucapkan Calisa.

Menunggu, lagi-lagi menunggu. Bagi kebanyakan orang, menunggu adalah pekerjaan paling membosankan. Silvi terbiasa menunggu. Kini ia mesti melakukannya lagi.

"Tunggu dan lihatlah seperti apa Calvin ke depannya. Mungkin kamu belum mengerti kekurangan-kekurangannya. Selama ini kamu hanya melihat kelebihannya, kan?"

"Calisa, how if...?" Kata-katanya menggantung tak terselesaikan. Silvi berat sekali menyelesaikannya.

"Apa?"

"Hmm...bagaimana jika dia meninggalkanku karena wanita lain?"

"Tidak usah khawatir. Aku yakin Calvin takkan melakukannya. Boleh saja sekarang ini kamu marah, kesal, dan kecewa dengan Calvin. Tapi ingatlah. Se-charming dan selembut apa pun Calvin Wan, dia sama seperti pria-pria lainnya. Punya kekurangan, punya kelemahan. Kamu harus mengerti...okey?"

Belum sempat Silvi menjawab, terdengar deru mobil di halaman depan. Buru-buru mengakhiri video call, Silvi bergegas menuju halaman. Disusul Adica dan Syahrena.

**        

Ada bayanganmu di mataku

Dan senyummu membuatku rindu

Bagaimana caranya oh sayangku

Kuingin jumpa dengan kamu

Bagaimana caranya

Aku yakin di antara kita

Masih ada cinta yang membara

Bagaimana caranya oh kasihku

Kuingin juga kau mengerti

Bagaimana caranya

Haruskah kuteteskan air mata di pipi

Haruskah kucurahkan segala isi di hati

Oh haruskah kau kupeluk dan tak kulepas lagi

Agar tiada pernah ada kata berpisah

Lupakanlah cerita kelabu

Kita susun lagi langkah baru

Bagaimana caranya oh cintaku

Kuingin bahagia denganmu

Bagaimana caranya

Haruskah kuteteskan air mata di pipi

Haruskah kucurahkan segala isi di hati

Oh haruskah kau kupeluk dan tak kulepas lagi

Agar tiada pernah ada kata berpisah

Haruskah kuteteskan air mata di pipi

Haruskah kucurahkan segala isi di hati

Oh haruskah kau kupeluk dan tak kulepas lagi

Agar tiada pernah ada kata berpisah

Oh haruskah kau kupeluk dan tak kulepas lagi

Agar tiada pernah ada kata berpisah (Warna-Masih Ada).

**      

Turun dari mobil, Calvin disambut pelukan hangat Silvi. Pria tampan berwajah oriental itu tak lagi memakai jas. Hanya mengenakan kemeja. Wajahnya sedikit pucat. Namun tak mengurangi ketampanannya.

"Oh Calvin...I miss you." bisik Silvi.

"Miss you too," jawab Calvin lirih. Gurat keletihan terlukis dalam di wajahnya.

"How's your day, Love?"

Ini bahasa cinta mereka. Silvi mengungkapkannya dengan hati.

"Just a normal day. Nothing to tell."

Kedua mata Silvi melebar tak percaya. "Are you sure? Memangnya tidak ada kejadian menarik hari ini? Macet atau perbedaan pendapat dengan Papa Halim di kantor?"

"Tidak, Silvi."

Di beranda, Adica tersenyum sinis. Jengkel bercampur senang melihat kakaknya kembali dengan selamat. Susah payah ia menahan Syahrena agar tidak menghampiri Calvin. Ia ingin membiarkan Calvin berdua saja dengan Silvi. Adica menyimpan rapat persediaan kata-kata tajamnya untuk Calvin. Akan ia tumpahkan nanti.

"Syukurlah. Tapi, biasanya kamu lebih lembut saat berbeda pendapat dengan Papamu kan?"

"Iya. Forget about it. And you? How is your day, My Lovely Silvi?" tanya Calvin lembut.

"A good day. Calisa mengontakku lagi. Kemarin ada beberapa koleksi baju yang dikirimkan. Belum sempat kudisplay di butik. Aku menunggumu." jelas Silvi.

"Sorry...kamu perlu bantuanku ya? Maaf sekali, Silvi. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Tapi aku janji, aku akan selalu ada untukmu setelah semua pekerjaan selesai. Aku akan segera ambil cuti panjang." janji Calvin.

"No problem."

Sejurus kemudian, Calvin menggandeng tangan Silvi. Keduanya melangkah ke kebun kecil berisi hamparan bunga lily putih di halaman belakang. Silvi menyukai lily putih. Memahami kesukaan istrinya, Calvin membantu Silvi merawat bunga-bunganya. Ia tak segan ikut menyirami dan memberi pupuk. Apa pun Calvin lakukan untuk membantu dan menyenangkan hati Silvi. Bukan hanya merawat bunga lily. Calvin membantu Silvi mengelola butiknya, mengajarkan modeling, membacakan buku untuk Silvi, dan masih banyak hal lainnya yang ia lakukan. Semua demi kebahagiaan dan kenyamanan Silvi.

"Mau kubantu merawatnya lagi?" Calvin lembut menawarkan. Disambuti anggukan Silvi.

Rasa letih hilang seketika. Di kantor, Calvin adalah petinggi perusahaan. Di catwalk, ia model profesional. Di cafe, ia penyanyi berbakat. Di rumah, Calvin Wan adalah ayah dan suami yang luar biasa.

"Silvi, kamu tak perlu khawatir akan ditinggalkan olehku." ujar Calvin, memegang halus tangan istrinya.

"Itulah yang selalu kutakutkan."

"Tidak perlu, Sayang. Selama aku masih bisa bernafas, aku akan menjadi mata untukmu."

Pertanyaannya adalah, sampai kapankah Calvin punya waktu untuk hidup lebih lama dan menjadi mata untuk Silvi? Mampukah Calvin Wan yang setia, sabar, dan konsisten itu menaklukkan kanker ginjal yang dideritanya?

Saat Silvi melepaskan genggaman tangannya, Calvin merasakan sakit. Sakit yang datang di saat tidak tepat. Mengapa sakit ini datang ketika dirinya bersama Silvi? Ia belum siap menceritakan penyakitnya pada Silvi.

Calvin sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menggunting batang bunga. Keadaan bertambah rumit saat itu. Hidung Calvin berdarah. Beberapa tetes darahnya menodai kelopak-kelopak putih bunga-bunga cantik itu.

"Ya Allah...jangan sekarang." lirih Calvin tanpa sadar. Merasakan darah terus mengalir dari hidungnya.

**       

Paris van Java, 13 Oktober 2017

Special thanks for Calisa Karima and Ronald Wan.

**       

https://www.youtube.com/watch?v=irsCUZzG5_g