Mohon tunggu...
Trie Yas
Trie Yas Mohon Tunggu... Sehari-hari bekerja sebagai Graphic design, editing foto, editing video (motion graphic). Namun tetap menulis buat menyeimbangkan hidup.

Sehari-hari bekerja sebagai Graphic design, editing foto, editing video (motion graphic). Namun tetap menulis buat menyeimbangkan hidup.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Di Balik Pagelaran Wayang

10 Juni 2015   04:08 Diperbarui: 18 November 2016   19:37 0 3 0 Mohon Tunggu...

Jika dari kalian pernah menonton pertunjukkan wayang, Kalian akan melihat sebuah pertunjukkan seperti bayangan. Sebab perspektif filosofi wayang adalah bayangan atau cermin dari seluruh sifat-sifat yang ada di diri manusia sifat baik ataupun buruk. 

Selain memperagakan suatu cerita kehidupan manusia di bumi, wayang juga menggambarkan alam gaib atau khayangan  dimana tempat hidup para dewa. Wayang dimainkan oleh seorang dalang yang berfungsi sentra sebagai sutradara sekaligus pelaku utama jalannya pagelaran secara keseluruhan. Memimpin semua kru untuk melebur dalam alur lakon/ judul yang diusung dan dibutuhkan kekompakan dan spontanitas dari semua kru.

Seorang dalang tidak hanya bisa menggerakkan wayang dan menghayati masing karakter dalam semua tokoh dalam pewayangan yang merupakan syarat mutlak bagia seorang dalang.  tetapi juga menguasai arasemen alat musik gamelan yang merupakan instrumen pengiring.

Biasanya dalam pagelaran ada wayang berdiri berjajar dan tertancap di batang pohon pisang menghadap kelir. Jajaran wayang di bagi dua secara berhadapan, disebelah kiri dalang adalah kumpulan tokoh-tokoh satria pembela kebenaran dan bijak sedang kana dalang adalah tokoh angkara murka (antagonis). Ternyata ada alasan kenapa para satria ditaruh di sebelah kiri dalang karena cara menonton wayang yang benar adalah dalik balik layar jadi kita menonton bayangan dan akan lebih terasa eksotis. Meski sekarang banyak yang nonton dari depan karena daya pikat dari parelaran wayang tidak hanya terletah dari wayang atau lakon yang diwakan dalang tetapi keseluruhannya, para kru gamelan dan sindhen yang bernyanyi mengiring adegan wayang.

Persaiapan dalam pertunjukkan wayang membutuhkan waktu yang panjang terutama yang masih patuh pada tradisi dan adat istiadat. Banyak pantangan-pantangan akan suatu lakon tertentu misalnya lakon Bharatayuda yang jarang dipentaskan dalam upacara pernikahan karena diyakini bisa membawa ketepurukan ekonomi, kesehatan atau keselamatan. Dalam uparaca adat juga harus dipilih lakon yang sesuai dengan tema dan pesannya yang dimaksud. 

Asal mula wayang, menurut kitap sejarah Jawa Kuno kesenian wayang Kulit  berasal dan merupakan hasil karya bangsa nusantara, asli Indonesia. Pertunjukkan wayang kulit asal mulainya menggunakan peralatan sederhana tetapi paket masih regeneratis hingga sekarang yaitu dengan berbahan kulit kerbau diukir, menggunakan kelir, blencong, kepyak, kotak dan sebagainya. Kesenia wayang kulit sendiri sudah ada sebelum kebudayaan Hindu datang. Awalnya berfungsi sebagai uparaca keagamaan Jawa Kuno karena itu dulu pertunjukkan wayang hanya pada malam hari oleh soman  yang konon seorang medium yang kono dan dilakuan sendiri oleh kepala keluarga. Lakon yang diangkat drai cerita-cerita leluhur dengan maksud berkomunikasi dengan arwah nenek moyang, memohon pertolongan dan restu bila keluarga itu akan memulai suatu hajatan atau seletah selesai hajatan. Uparaca tersebut ketika masih zaman Neolithikum pada ± tahun 1500 Sebelum Masehi. Namun dalam perkembangannya sekarang wayang dikerjakan oleh seorang seniman wayang yang sudah profesional yakni Balang

Pertunjukan wayang sekarang berkembang pesat tidak hanya sebagai upacara yang sakral melainkan sebuah kebudayaan yang harus dilestarikan sebab pagelaran wayang menyajikan banyak nilai sebagai tuntunan (moral etika) dan tontonan yang menghibur. Ada proses menuju pendewasaan jiwa sebab dalam lakon wayang pasti ada pertentangan dan konflik yang dibangun menujukkan pergulatan nilai, hukum sebab akibat, kodrat alam, dan Tuhan. 

Menjadi seorang dalang tidak mudah  dan harus komplit karena dia harus bisa menjelaskan dengan gamblang tentang tokoh yang dimaikan. Selain itu seorang dalang tidak seperti seorang penyanyi yang harus memiliki suara khas, seorang dalang harus memiliki banyak suara untuk  pembeda setiap karakter/tokoh wayang yang dimainkan.  Dalang juga harus memiliki pengetahuan yang luas untuk setiap dialog yang dipilih, yaitu kitis, cerdik dan cerdas.

Lantas bagaimana dalang bisa menghasilkan banyak suara ( membagi suara dengan sempurna) ? semua itu butuh proses yang panjang agar bisa menggunakan register suara dengan baik, yaitu register perut, dada serta kepala berfungsing dengan maksimal. Meski banyak yang bilang seorang dalang memiliki ritual khusus tetapi yang pasti seorang dalang harus memiliki karakter yang kuat dan keahlian yang biasanya turun-temurun sebab seorang dalang berlatih dari kecil atau biasanya Ayahnya seorang dalang dan tak asing dengan dunia perwayangan. Namun sekarang dari duduk di Sekolah Dasar sudah diajarkan kesenian(gamelan, wayang)  bahkan sekarang ada perguruan tinggi dengan jurusan Pedalangan Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta (STSI) yang mencetak Sarjana Pedalangan yang tidak hanya mahir memaikan wayang tetapi juga berwawasan luas dan berpikir kritis.

Dalam pegelaran wayang kita sangat menikmati pertunjukkan dalang yang sangat atraktif mengudang canda tawa juga lakon yang memikat, tetapi dibalik semua itu ternyata dibutuhkan persiapan yang panjang dan proses yang tak mudah. Jadi sebagai generasi muda sudah waktunya kita menghargain kebudayaan kita dan melestarikannya. Kita patut bangga dengan budaya kita Indonesia.

***

 

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x