Mohon tunggu...
Irma Tri Handayani
Irma Tri Handayani Mohon Tunggu... Guru - Ibunya Lalaki Langit,Miyuni Kembang, dan Satria Wicaksana

Ibunya Lalaki Langit ,Miyuni Kembang,dan Satria Wicaksana serta Seorang Penulis berdaster

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[Event Cerita Mini] Nyanyian Pengantar Tidur

6 Juli 2019   13:36 Diperbarui: 7 Juli 2019   16:04 97
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Anak tertidur. Foto: Irma T.H

Ketika aku kecil, aku pernah melewatkan masa indah menjelang tidur. Adalah Mama yang selalu mengajakku bernyanyi sebelum tidur. Semua lagu anak-anak mampu kulahap di usia belum genap 3 tahun. 

Topi saya bundar yang sering aku nyanyikan,diganggu mama oleh  lirik lagu Burung Kakak Tua . Akibatnya lirik yang kunyanyikan jadi mengikuti lirik yang Mama nyanyikan.


"Kalau tidak bundar..."nyanyiku lantang.


"Giginya tinggal dua..." tiba-tiba liriknya berganti sudah dan kami berduapun tertawa bersama.


Lagu balonku ada lima adalah lagu favoritku berikutnya.  Aku suka lagu ini karena  melihat ekspresi mama yang suka pura-pura kaget saat aku berteriak,


"Dor!"


Padahal aku tahu Mama berpura-pura tapi tawaku tak bosan untuk yang satu itu. Tetap saja terbahak-bahak seolah Mama baru kali itu berekspresi kaget seperti itu


Setelah bernyanyi, bernyanyi dan bernyanyi aku kecil akan kelelahan. Usapan jemari Mama di rambutku membuat mataku semakin sayu karena terserang kantuk. Bau khas tubuh Mama seolah menghipnotisku hingga kantukku makin dalam.


Lama-lama nyanyianku berhenti . Mamalah yang meneruskan nyanyian-nyanyian itu. Dengan suara yang lembut tak lantang seperti aku. Kadang malah hanya tersisa senandung saja tanpa lirik.

Aku sudah semakin jauh menuju batas sadar dan mimpi.Kehangatan itu terus membuaiku. Senandung Mama semakin menjatuhkanku ke alam tidur. Matakupun akhirnya terpejam dan aku pulas.

Entah berapa lama aku tidur. Aku terbangun karena terasa kehangatan itu tak ada. Mataku terbuka karena suara nyanyian merdu Mama hilang. Hidungkupun tak mengendus bau tubuh Mama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun