Mohon tunggu...
Kurniawan Dwi Budifiyanto
Kurniawan Dwi Budifiyanto Mohon Tunggu... Mahasiswa Planologi Unej

take care

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara

Perpindahan Ibu Kota Baru dalam Segi Lingkungan dan Wilayah

8 September 2019   13:23 Diperbarui: 8 September 2019   13:29 0 0 0 Mohon Tunggu...

Akhir-akhir ini isu mengenai pemindahan ibu kota baru ke Kalimantan Timur lebih tepatnnya di Penajam Paser Utara dan banyak sekali pro-kontra mengenai di lakukannya pengalokasian ibu kota baru dari Jawa ke Kalimantan tersebut. Ibu kota sendiri merupakan pusat pengatur adiminitrasi suatu negara dalam skala nasional, maka dari itu penempatan ibu kota ke suatu wilayah tertentu haruslah memiliki impact positif dalam segi peletakan tata ruangnya.

Indonesia merupakan negara yang tersusun oleh ribuan pulau, sedangkan porposi laut Indonesia sangatlah melimpah. Dua pertiga bagian Indonesia merupakan bentangan lautan luas yang dimana alternative transportasi yang menghubungkan setiap pulau tersebut adalah kapal laut ataupun kapal udara. Untuk saat ini jika posisi ibu kota masih di pulau Jawa maka beberapa akses menuju ibu kota untuk beberapa pulau di bagian timur Indonesia sangatlah sulit di capai, berbeda hanya jika ibu kota baru tersebut berada di Kalimantan Timur untuk yang berada hampir di tengah/sentral Indonensia untuk aksesnya lebih mudah.

Jika kita meninjau dari kondisi ibu kota saat ini, ibu kota saat ini berada pada kawasan JABODETABEK (Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi) dimana kawasan daerah tersebut memiliki kondisi kota yang cukup buruk. Kawasan yang sangat padat penduduk, akses mobilitas yang terganggu, hingga kurangnya sumber daya yang tersedia disana seperti kebutuhan ruang hijau ataupun kebutuhan air harian. Melihat kondisi yang di alami tersebut maka sangatlah memungkinkan bahwa ibu kota haruslah hengkang dari sana. Berbeda dengan kondisi di Kalimantan Timur, dimana disana masih sedikit sekali di lakukannya konversi lahan berarti untuk ketersediaan lahan disana masihlah ada. Selain ketersediaan lahan, untuk sumber daya alam disana pastinya juga lebih melimpah daripada di ibu kota saat ini. Itu berarti dalam segi kebutuhan wilayah tidak akan mengalami permasalahan yang berarti.

Selain itu, padatnya ibu kota saat ini telah melebihi kemampuan dari lahan ibu kota tersebut dalam menopang segala aktivitasnya. Menurut penelitian dari tim Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) bahwa pada Jakarta Utara telah mengalami penurunan muka tanah paling parah yakni sedalam 25 sentimeter pada tiap tahunnya itu menandakan bahwa bisa jadi suatu saat Kota Metropolis Jakarta akan tenggelam. Bahkan penurunan muka tanah tersebut tidak hanya terjadi di Jakarta Utara saja namun pada kota Jakarta tersebut secara menyeluruh. Maka dari itu demi menanggulangi kejadian seperti itu dilakukannya pemindahan aktivitas pusat yakni ibu kota ke Kalimantan tersebut.

Beberapa faktor yang mempengaruhi turunnya permukaan ibu kota seperti pengambilan air tanah yang sangat berlebihan, bahwa di ketahui ibu kota sendiri mengalami krisis air. Bahkan sudah memasuki kategori merah dimana hal tersebut mengalami kelangkaan dalam tersedianya pasokan air, disisi lain dalam memenuhi kebutuhannya maka dilakukannya pemompaan air tanah. Jika air tanah di pompa maka akan mengakibatnya baik bangunan yang memompa terebut maupun bangunan di sekitarnya ikut turun. Jika permasalahan tersebut tidak segera di selesaikan maka akan mengakibatkan bencana di kemudian hari. Selain itu beban yang di sanggah oleh Jakarta sendiri juga sangatlah berat. Dimana Jakarta sendiri telah menjadi pusat dari berbagai sektor aktivitas seperti pusat pemerintahan, pusat jasa, pusat ekonomi dan pusat perdagangan. Selain itu Jakarta sendiri juga memiliki pelabuhan terbesar di Indonesia bahkan memiliki bandara udara internasional yang membuat beban ibu kota Jakarta saat ini semakin bertambah.

Selain Kota Jakarta sendiri, beban yang di terima pulau Jawa juga sangatlah berat. Pulau Jawa sendiri juga merupakan pulau yang memiliki kepadatan penduduk paling tinggi dari pada pulau lainnya di Indonesia arus urbanisasi di Jawa sendiri juga cukup tinggi. Banyaknya permasalahan yang timbul di pulau Jawa juga mengakibatkan pencemaran. Khususnya untuk sungai, sungai di Jawa termasuk dalam 10 sungai yang paling tercemar di dunia maka dari itu kebutuhan dan krisis air tidak hanya di alami Kota Jakarta saja namun juga kota-kota di beberapa pulau Jawa lainnya sehingga hal tersebut menambah kompleksnya permasalahan yang dialami oleh pulau Jawa.

Di pindahkannya ibu kota baru tersebut telah mempertimbangkan beberapa aspek lainnya seperti aspek kemanan, aspek letak wilayah, serta faktor lokasi yang di nilai strategis. Dengan di pindahkannya ibu kota baru ke Kalimantan maka pemerintah juga semakin bisa memantau dengan cermat beberapa kecurangan yang di lakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab atas penyalagunaan lahan. Seperti dalam kasus pembakaran hutan yang dulu pernah terjadi dan juga kegiatan tambang yang sewena-wena. Selain itu di pulau Jawa juga mengalami penyusutaan lahan yang mana paling parah terjadi di ibu kota saat ini. Sudah seluruh sudut ibu kota telah terbangun dan tidak ada space lagi yang bisa di gunakan untuk di pergunakan. Berbeda dengan Kalimantan yang mana konversi lahan disana masih sedikit, maka dari itu pembangunan disana sangat mampu dilakukan serta permasalahan yang disana juga tidak sekompleks permasalahan yang di alami oleh ibu kota saat ini.

Kalimantan merupakan pulau dengan tingkat bencana yang minim juga, karena di Kalimantan tersebut tidak terkena dalam zona potongan lempeng yang mengakibatkkan gerakan lapisan tanahnya tidak seberapa tinggi. Dari pada ujung pulau Jawa yang baru beberapa akhir lalu terkena musibah tsunami yang merusak beberapa haluan yang terkena dampaknya. Seharunya lokasi ibu kota itu memang haruslah berada di wilayah yang lokasinya sangatlah aman terutama dalam segi keamanan terhadap bencana alam. Serta rekap bencana alam yang dialami Kalimantan juga sangatlah kecil daripada pulau Jawa.

Kalimantan merupakan paru-parunya dunia, pasokan oksigen untuk dunia berasal dari hutan tropis Kalimantan. Ini berarti kondisi Kalimantan terutama hutan tropisnya sangatlah mempengaruhi keberlangsungnnya dunia. Disisi lain jika ibu kota di pindahkah disana permasalahan yang akan di resahkan adalah hilangnya hutan-hutan tersebut dalam skala luas. Maka dari itu pemerintah hendaklah memperhatikan dengan sangat mengenai kebijakan pembangunan ibu kota baru tersebut. Jika tidak maka berpindahnya ibu kota baru ke Kalimantan hanyalah menambahkan permasalahan yang sama yang terjadi di ibu kota saat ini. Tidak hanya memikirkan dampaknya dalam 4 atau 20 tahun namun efeknya tersebut haruslah di pikirkan dalam 50 tahun bahkan ratusan tahun kedepan. Agar pembangunan ibu kota baru yang akan di selenggarakan bisa memperkokoh pondasi negara baik dalam segi pererkonomian, sosial, maupun lingkungan. Serta pemerintah juga menyelesaikan permasalahan yang telah di alami oleh ibu kota saat ini.

Jika hal tersebut telah di perhitungkan dengan hati-hati maka mewujudakan pemerataan perekonomian dan infrastruktur di seluruh Indonesia dapatlah terlaksana dengan segera. Jika pembangunan telah di rencanakan secara matang maka pondasi dalam bernegara pun akan menjadi semakin kokoh.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x