Mohon tunggu...
Kristianto Naku
Kristianto Naku Mohon Tunggu... Penulis - Kontributor Media Online

Penulis Daring dan Blogger. Aktif menulis di surat kabar, kontributor media online, jurnal ilmiah, majalah, blog, dan menjadi editor majalah dan jurnal ilmiah.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Terapi Kelas Berpikir Kritis

19 Agustus 2021   19:24 Diperbarui: 19 Agustus 2021   19:29 102 5 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Terapi Kelas Berpikir Kritis
Ilustrasi kehausan rasa ingin tahu manusia. Foto; pixabay.com.

Ada sesuatu di balik kata-kata yang diucapkan setiap orang. Kata-kata adalah serpihan dari tabungan kerja otak (berpikir) dimana cara kerjanya tidak seutuhnya dibaca oleh manusia. 

Maka, untuk mengeluarkan kata-kata dari pikiran seseorang, diperlukan pemancing. Lalu, pemancing seperti apa dan umpan macam apa yang seharusnya dipakai untuk mengeluarkan gagasan dari pikiran seseorang?

Coba mulai dengan bertanya. Tanya! Jawabannya adalah bertanya. Menyusun pertanyaan adalah hal yang terbilang sulit dalam lingkup hidup bersama. Pertanyaan adalah umpan yang tidak habis dimakan, ditelan, dan diperbarui setiap saat. 

Sedangkan kata kerja bertanya adalah strategi memancing agar gagasan yang belum tereksplorasi bisa terungkap. Strategi bertanya adalah salah satu pintu dimana seseorang berhasil menggali pengetahuan yang terkubur hanya karena keterbatasan bahasa.

Ketika bahasa tidak lagi mampu mengakomodasi isi pikiran, sesuatu yang ada dalam pikiran seseorang dengan sendirinya akan terus bersembunyi. Karakter nyata dari hal ini adalah orang tergagap-gagap atau merasa takut untuk berbicara. 

Peluang untuk bicara akan menjadi sesuatu yang dihindari, ditakuti, dan dikhawatirkan. Lalu akankah seseorang berhenti berpikir ketika tidak dipancing dengan pertanyaan?

Filosof klasik ternama, Parmenides, pernah mengeluarkan doktrin yang sangat fenomenal, yakni berpikir dan ada. Kedua kata ini berdiri sejajar dengan mengkawal seluruh pengetahuan manusia. 

Gagasan ini, kemudian diteruskan oleh filosof modern Rene Descartes dengan jargon utamanya "Cogito ergo sum" atau saya berpikir maka saya ada. 

Pencetusan istilah ini tidak lahir begitu saja oleh karena Descartes merasa diasingkan dari kegiatan yang tidak bermakna, tetapi lebih daripada itu, yakni ia hendak menunjukkan bahwa betapa kegiatan berpikir merupakan hal yang paling esensi dalam diri manusia.

Bahkan untuk menekankan urgensinya kegiatan berpikir, Descartes sampai menyandingkannya dengan eksistensi manusia -- jika manusia tidak berpikir, tidak bernalar, ia justru sedang menegasi kehadirannya. Kehadiran manusia bisa diketahui melalui komponen wicara yang dilepaskan dari kaitan lidah dan syaraf yang menghubungkannya dengan otak.

Maka, sarana pemancingnya, tidak lain adalah pertanyaan. Pertanyaan akan bergerak untuk mengunduh segala remah-remah pikiran dan dibawa ke realitas yang ditunggu si penanya atau mereka yang berada di sekitar. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan