Mohon tunggu...
Kristianto Naku
Kristianto Naku Mohon Tunggu... Penulis - Kontributor Media Online

Penulis Daring dan Blogger. Aktif menulis di surat kabar, kontributor media online, jurnal ilmiah, majalah, blog, dan menjadi editor majalah dan jurnal ilmiah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Aku, Kerja, dan Keterasingan

21 Juni 2021   19:20 Diperbarui: 21 Juni 2021   19:28 69 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Aku, Kerja, dan Keterasingan
Ilustrasi buruh pabrik. Foto: tekno.kompas.com.

Pada dasarnya pekerjaan manusia adalah luhur dan bermartabat. Pekerjaan adalah sarana untuk mengaktualisasikan diri. Ketika kerja menjadi sarana aktualisasi diri, di sana manusia justru mampu mengembangkan kemampuannya. Akan tetapi, dalam kenyataannya, pekerjaan seringkali menimbulkan berbagai masalah dalam kehidupan masyarakat, misalnya masalah keadilan dan keterasingan (alienasi). Masalah keterasingan muncul dalam pemikiran Feuerbach dimana ia melihat agama sebagai tempat keterasingan manusia.

Karl Marx mencoba melihat lebih jauh mengapa manusia mengalienasikan diri dalam agama. Menurut Marx, kondisi-kondisi material tertentulah yang membuat manusia mengalienasikan diri dalam agama. Yang dimaksudkan dengan "kondisi-kondisi material" di sini adalah proses-proses produksi atau kerja sosial dalam masyarkat. Oleh karena itu, masalah keterasingan manusia sangat berkaitan dengan pekerjaan.

Menurut Marx, pekerjaan itu mengasingkan manusia karena bersifat upahan. Pekerjaan upahan adalah pekerjaan dimana orang bukan pertama-tama bekerja karena ia tertarik pada pekerjaan itu dan ingin menjalankannya, melainkan karena ia memerlukan upah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karl Marx melihat beberapa dimensi keterasingan manusia dalam pekerjaannya.

Keterasingan dari Produknya

Hasil pekerjaan manusia sebenarnya merupakan cermin dirinya sendiri, sebagai bentuk objektivasi. Disebut objektivasi karena melalui pekerjaan, manusia dapat memahami dirinya dan mengetahui siapa dirinya. Oleh karena itu, hasil pekerjaan sebenarnya menjadi sumber perasaan bangga bagi manusia. Akan tetapi, dalam pekerjaan upahan, para buruh upahan tidak memiliki hasil pekerjaan. Hasil pekerjaannya justru menjadi milik orang lain. Dalam hal ini, hasil pekerjaannya menjadi milik para pemilik pabrik atau alat-alat produksi. Bahkan, jika ia hanya mengerjakan bagian tertentu dalam proses produksi barang tertentu, maka ia tidak pernah melihat hasil akhir dari dari barang yang dikerjakannya.

Dengan demikian kerja itu sendiri menjadi kehilangan maknanya bagi si pekerja, yakni kehilangan hakikat kerja sebagai sarana pelaksanaan hakikat pekerjaan manusia yang bebas dan universal. Pekerjaan, dengan demikian malah menjadi sesuatu akibat yang lahir karena paksaan.

Keterasingan dari Diri Sendiri

Pekerjaan juga menyebabkan manusia terasing dari dirinya sendiri. Dalam pekerjaan upahan, makna universal dari pekerjaan dan kebebasan manusia untuk menentukan pekerjannya sendiri menjadi hilang. Apa yang dikerjakan, tidak dapat dipilih sendiri. Yang dikerjakan oleh para buruh adalah apa yang dikehendaki oleh majikannya. Para buruh terpaksa bersedia untuk mengerjakan apa saja demi upah, agar ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Oleh karena itu, Marx mengatakan bahwa pekerjaan upahan itu "bukan pemuasan suatu kebutuhan, melainkan hanyalah alat untuk memuaskan kebutuhan di luar pekerjaan itu," yakni kebutuhan hidup fisik. Maka, pekerjaan upahan tidak lain mengasingkan manusia dari dirinya sendiri karena ia tidak dapat menentukan perkejaannya sendiri.

Keterasingan dari Sesama

Pekerjaan menyebabkan manusia terasing sesamanya. Hak milik pribadi atas alat-alat produksi menyebabkan adanya pembagian kelas dalam masyarakat, yakni pemilik alat produksi dan pemilik tenaga kerja. Kelas-kelas tersebut, biasannya bertentangan satu sama lain karena menguatnya kebutuhan masing-masing. Pemilik alat produksi membutuhkan keuntungan yang sebesar-besarnya sehingga ia mengurangi upah dan fasilitas untuk para buruh. Sebaliknya, para buruh menuntut agar upah mereka harus sesuai dengan pekerjaan mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN