Mohon tunggu...
Kompasiana News
Kompasiana News Mohon Tunggu... Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana: Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Membahas Pohon Kata Anjing, Sisi Muram Bisnis Startup di Masa Pandemi

2 September 2020   05:30 Diperbarui: 2 September 2020   10:17 781 8 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Membahas Pohon Kata Anjing, Sisi Muram Bisnis Startup di Masa Pandemi
Sumber gambar: superawesomevectors.com

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) pada Sabtu (29/8/2020), dalam rilis resmi menyerukan larangan menggunakan kata "anjay".

Sebagaimana netizen pada umumnya ramai memperbincangkan hal tersebut, Kompasianer Khrisna Pabichara pun terperanjat, seperti dalam artikelnya ia turut menanggapi karena kata anjay, dalam rilis yang beredar luas di media sosial, ditengarai dapat merendahkan martabat manusia.

"Lebih terperanjat lagi karena pengguna kata anjay dapat dikenai pidana."

Dalam artikelnya Ia turut menjelaskan bahwa pelarangan kata Anjay untuk merundung atau merisak akan percuma karena Anjay adalah ranting dari dahan bernama anjir, sedangkan anjir sebatas dahan dari pohon bernama anjing. Jika anjay dilarang, anjir dan anjing juga mesti dilarang. Anjay dan anjir terhitung ragam cakapan. Belum terekam juga ke dalam KBBI. Selain anjay, ada puluhan kata yang berkaitan dengan anjing.

Selain itu,Kompasianer Yose Revela menulis sisi suram bisnis startup kala pandemi.

"Entah kebetulan atau tidak, pandemi Covid-19 turut membantu "seleksi alam" usaha rintisan di Indonesia, terutama yang sudah salah urus atau "menyimpang" sejak awal."

Seperti apa kisah di baliknya? Inilah 5 konten terpopuler yang hadir di Kompasiana kemarin (01/09):

Pohon Kata Bernama Anjing

Dokumentasi: Kompasianer Khrisna Pabichara
Dokumentasi: Kompasianer Khrisna Pabichara
Ada sebuah pohon bernama anjing. Darinya muncul dahan bernama anjir dan ranting bernama anjay. Mana yang paling setia dan purba? Anjir dan anjay boleh datang dan pergi, anjing akan selalu ada dan setia. (Baca Selengkapnya)

Sisi Muram Bisnis "Startup" di Masa Pandemi

Bisnis rintisan yang makin berkembang tak hanya memunculkan sisi terang tapi juga sisi gelap yang makin nampak di masa pandemi ini.| Sumber: Shutterstock
Bisnis rintisan yang makin berkembang tak hanya memunculkan sisi terang tapi juga sisi gelap yang makin nampak di masa pandemi ini.| Sumber: Shutterstock
Para pelaku usaha rintisan ini biasanya akan tetap memastikan semua terlihat baik-baik saja di luar, tapi, ketika di dalam, mereka akan menjadi orang paling cerdas, yang siap menyalahkan siapapun selain dirinya sendiri.

Jika krisis ternyata berlanjut, seperti saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, ini akan jadi "ajang pembantaian", karena semua orang akan ditekan semaksimal mungkin, dengan hak-hak mereka tersunat secara signifikan, tertunggak, bahkan hilang sama sekali. (Baca Selengkapnya)

Filosofi Pohon Pisang, Pantang Tumbang Sebelum Berbuah

ilustrasi pohon pisang yang sedang berbuah. (sumber: pixabay.com/ceguito)
ilustrasi pohon pisang yang sedang berbuah. (sumber: pixabay.com/ceguito)
Tahukah Anda, pohon pisang tidak akan mati sebelum berbuah? Seberapa kali pun Anda "penggal", seberapa pun sengsara hidupnya; dia akan tumbuh, terus hidup.

Tak penting seberapa kuat atau besar seseorang, lebih penting adalah tahu tujuan hidupnya.

Manusia, yang lebih mulia dari pohon pisang, harusnya tak kalah. Berikut ini tiga contoh manusia yang berbuah sebelum tumbang. (Baca Selengkapnya)

RCTI dan iNews Menggugat, Membedakan Esensi dan Realitanya

Ilustrasi Live Streaming di media sosial. (sumber: Salesforce.com via kompas.com)
Ilustrasi Live Streaming di media sosial. (sumber: Salesforce.com via kompas.com)
Kita semua tahu, semenjak boomingnya penggunaan smartphone dan mudahnya akses internet, banyak masyarakat yang meninggalkan TV, seperti diri saya contohnya.

Melihat hal ini, maka gugatan RCTI dan iNews ini menimbulkan dua hipotesis. Apakah esensinya untuk kesetaraan dan tanggung jawab moral bangsa atau motif ekonomi. Perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikannya. (Baca Selengkapnya)

Kenangan Meneliti Candi Borobudur Sehabis Bom Meledak pada 1985

Kondisi pembongkaran di area Candi Borobudur pada 1985. Tanda panah menunjukkan Candi Borobudur (koleksi pribadi Djulianto Susantio)
Kondisi pembongkaran di area Candi Borobudur pada 1985. Tanda panah menunjukkan Candi Borobudur (koleksi pribadi Djulianto Susantio)
Pada Februari 1985 saya berkesempatan mengunjungi Candi Borobudur selama 14 hari. Jadi sehabis bom meledak. Waktu itu untuk penelitian ilmiah. Proposal saya tentang "Pengunjung dan Masalah Konservasi Candi Borobudur: Sebuah Penelitian Pendahuluan" disetujui oleh Jurusan Arkeologi UI.

Karena membawa surat, saya gampang saja turun naik Candi Borobudur. Beberapa tempat terlihat masih tertutup untuk pengunjung. Batu-batu yang pecah masih tampak di sekitar tempat itu. Saya cuma bisa bergumam, "Biadab kau". (Baca Selengkapnya)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x