Mohon tunggu...
Kompasiana News
Kompasiana News Mohon Tunggu... Editor - Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana: Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Populer di Kompasiana: Kisah Tegal Lockdown hingga Wafatnya Bob Hasan

1 April 2020   05:40 Diperbarui: 1 April 2020   10:08 3006
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Selasa (31/03/2020) dunia atletik Indonesia berduka. Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia ( PB PASI) Bob Hasan meninggal dunia pada pukul 11.00 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Kabar ini memenuhi ruang opini di Kompasiana untuk mengenang sosok Bob Hasan yang dikenal banyak berkorban demi perkembangan dunia atletik Indonesia.

Selain berita duka tersebut, Kabar populer yang banyak diperbincangkan di Kompasiana adalah mengenai situasi "local lockdown" di beberapa daerah.

Seperti Kota Tegal, Kota pertama yang memberlakukan lockdown untuk mencegah persebaran Covid-19, ternyata tidak semenakutkan yang dibayangkan. Lantas seperti apa situasi di sana?

Berikut 5 artikel populer yang jangan sampai kamu lewatkan!

1. Bob Hasan Wafat, Tongkat Estafet, dan PR di Asian Games

Bob Hasan, sumber foto wartakotalive.com dipublikasikan surya.co.id
Bob Hasan, sumber foto wartakotalive.com dipublikasikan surya.co.id
Selama lebih dari 40 tahun, Bob Hasan menjadi ketua umum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia. Bob Hasan banyak berkorban. Pengusaha yang identik dengan kayu ini tak jarang merogoh koceknya sendiri untuk perkembangan atletik Indonesia. (Baca Selengkapnya)

2. Kisah "Tegal Lockdown", Malam Pertama yang Mantap di Tempat Gelap

Salah satu sudut Kota Tegal Di Malam Hari | Dokumentasi Penulis
Salah satu sudut Kota Tegal Di Malam Hari | Dokumentasi Penulis
Kondisi Kota Tegal tidak semengerikan dan mencekam. Memang saat ini ruas-ruas jalan daerah di Kota Tegal telah ditutup "Tembok" Movable Concrete Barrier (MCB), tetapi pergerakan keluar-masuk oleh warga Kota Tegal/warga luar kota Tegal masih bisa dilakukan.

Jadi sebenarnya warga tidak benar-benar terkurung, mereka tetap bisa beraktivitas. Tetapi karena pembatasan-pembatasan yang merepotkan itu, ditambah dengan kesan mencekam kata "lockdown" membuat banyak warga menyadari itu sehingga mereka enggan untuk beraktivitas di luar. (Baca Selengkapnya)

3. Pendidikan Berbasis Daring Tidak Layak di Daerah Kami!

Getty Images/Ricky Prakoso via bbc.com
Getty Images/Ricky Prakoso via bbc.com
Sepintas aktivitas belajar-mengajar dengan sistem daring (e-learning) boleh jadi solusi jitu saat ini guna memencilkan pandemi Covid-19. Akan tetapi, terdapat banyak hambatan-hambatannya.

Faktanya juga, terdapat banyak di daerah pedesaan yang atas imbauan guru untuk belajar di rumah. Anak-anak malah tetap bersuka ria menggunakan waktu liburnya untuk bermain.

Tenaga pengajar juga tidak bisa berbuat banyak untuk memaksa siswa memiliki gawai/komputer sebagai media belajar-mengajar. (Baca Selengkapnya)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun