Mohon tunggu...
Kompasiana News
Kompasiana News Mohon Tunggu... Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana: Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Setelah 21 Tahun Reformasi, Harapan Apa yang Belum Terealisasi?

20 Mei 2019   21:21 Diperbarui: 21 Mei 2019   14:28 0 2 0 Mohon Tunggu...
Setelah 21 Tahun Reformasi, Harapan Apa yang Belum Terealisasi?
Mahasiswa merayakan lengsernya Presiden Soeharto di halaman Gedung DPR/MPR. (Foto: Arbain Rambey)

Minggu ini, tulis Kompasianer Leya Cattleya, kita diingatkan pada peristiwa 21 tahun yang lalu: reformasi 1998.

Kala itu, krisis yang dialami Indonesia pada awal 1998 menjadikan masyarakat Indonesia tidak puas dengan kepemimpinan Presiden Soeharto. Aksi massa dari beragam kalangan terjadi hampir di setiap titik wilayah di Indonesia.

Tuntutan mahasiswa kala itu untuk untuk mengadakan reformasi di segala bidang, terutama permintaan pergantian kepemimpinan nasional.

Hingga pada puncaknya adalah ketika Majelis Permusyawaratan Rakyat kembali memilih Soeharto sebagai presiden dan dilantik pada 11 Maret 1998 dan Mahasiswa dari seluruh Indonesia menduduki Gedung MPR/DPR.

Kerusuhan yang terjadi di mana-mana menyebabkan situasi pemerintahan tidak stabil.

Sampai hari ini masyarakat Indonesia masih mengenang peristiwa pada Mei 1998 dengan penuh duka.

"Peristiwa yang terjadi antara 13 sampai 19 Mei 1998 itu seharusnyalah menjadi penanda perjuangan kita bahwa korban harus mendapat keadilan dan pemulihan," tulis Kompasianer Leya Cattleya.

Selain mengenang peristiwa Mei 1998, pada minggu lalu Kompasiana juga diramaikan dengan wacana Menko PMK, Puan Maharani yang ingin mengimpor guru dari luar negeri.

Berikut 5 artikel terpopuler di Kompasiana sepekan kemarin:

1. Reformasi, Gerak Politik Mahasiswa Serta "Post" Milenial

Sebetulnya peristiwa Mei 1998, menurut Kompasianer Leya Cattleya, adalah satu contoh penting dari beberapa contoh keberhasilan masyarakat sipil dan mahasiswa melakukan tekanan kepada negara dan masyarakat agar melakukan perubahan mendasar.

Akan tetapi jika berkaca pada bagaimana pergerakan mahasiswa hari ini seperti kehilangan konteks dengan apa yang telah terjadi 21 tahun lalu.

"Saya menduga 'awarenes' mahasiswa/mahasiswi tentang peristiwa reformasi 1998 terbatas. Mereka belum tentu kenal," tulis Kompasianer Leya Cattleya.

AKan tetapi nilai yang sama dengan pergerakan mahasiswa ketika melahirkan reformasi yaitu mereka punya mimpi untuk meraih cita cita dan perubahan. (Baca selengkapnya)

2. Menko Puan Maharani Ingin Undang Guru dari Luar Negeri, Bukan Berarti Impor Guru

Kompasianer Umi Yati menjelaskan kalau banyak yagn keliru dengan rencana pemerintah mengundang guru dari luar negeri.

Rencana mendatangkan guru dari luar negeri tersebut, lanjutnya, tidak ada kaitannya dengan kualitas guru di Indonesia. Apalagi kaitannya dengan guru yang masih berstatus honorer.

"Sekedar contoh, bisa saja salah satu guru yang dibutuhkan adalah pengajar bahasa inggris. Dengan demikian anak-anak murid kita bisa belajar dengan native speaker, yang selama ini hanya bisa dinikmati oleh sekolah-sekolah berstandar internasional," tulis Kompasianer Umi Yati.

Kita harus bijak dalam melihat rencana baik pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional, lanjutnya. (Baca selengkapnya)

3. Wacana Impor Guru hingga Rendahnya Minat Milenial Menjadi Guru

Berbeda dengan Kompasianer Umi Yati melihat rencana guru dari luar negeri, apa yang menjadi catatan kritis dari Kompasianer Idris Apandi adalah minat orang-orang untuk menjadi guru.

Menurutnya, sektor pendidikan sebenarnya diharapkan menjadi lokomotif peningkatan mutu dan daya saing bangsa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2