Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Henna, dari Upaya Memperias Diri hingga Bahayanya

19 Januari 2019   11:11 Diperbarui: 21 Januari 2019   18:47 1197 11 3
Henna, dari Upaya Memperias Diri hingga Bahayanya
ilustrasi: pixabay/lukin_photography

Lazim kita jumpai di beberapa budaya pernikahan di Indonesia seperti di Minangkabau dengan Malam Bainai, Mapacci dari Bugis- Makassar dan Bohgaca dari Aceh. Biasanya mempelai wanita merias punggung tangannya menjelang hari pernikahan. 

Bukan hanya mempelai wanita, tetapi ditorehkan juga pada calon mempelai oleh orang tua, kerabat dekat dan orang-orang terkasih lainnya.

Sedangkan henna sendiri konon merupakan kosmetik herbal tertua di dunia. Henna sudah digunakan sejak ribuan tahun lalu. Akan tetapi, pada masa 3500 SM, misalnya, masyarakat Mesir memanfaatkan tanaman henna untuk merawat kesehatan. Dan banyak negara-negara dari Timur Tengah dan Afrika tanaman henna digunakan sebagai obat dan pelembab kulit.

Sedangkan untuk di kawasan Asia, India merupakan paling banyak memanfaatkan henna dalam beragam fungsi. Lewat tanaman ini orang India percaya jika henna yang dioleskan di tubuh berubah menjadi gelap, ibu mertua bakal menyayangi sang menantu perempuan.

Oleh karena itu, kebiasaan mengoleskan dan menghiaskan henna di tubuh hanya dilakukan para perempuan..

Namun, terkait kelas sosial, misalnya, Ratu Cleopatra dalam beberapa catatan, menggunakan henna sebagai pemanis perhiasannya. Sedangkan rakyat biasa justru menggunakan henna dan membentuknya serupa perhiasan emas. Oleh karenanya, tidak heran kalau riasan dari henna berbentuk seperti perhiasan dan sebagai kosmetik.

Henna (inai atau pacar) merupakan tumbuhan semak yang memiliki daun berbentuk almond, kecil, meruncing pada ujungnya dan bewarma putih atau pink yang tumbuh di bagian atas semak.

Menariknya, tumbuhan ini bisa tumbuh dengan cepat. Hanya saja tidak bisa hidup di daerah dengan suhu di bawah 11 derajat celsius.

Beberapa sejarawan, menurut Sri Yuliastuti, mengatakan bahwa awalnya bangsa Mughal yang membawa tumbuhan itu ke India. Pemakaian henna kala itu dipercaya dapat membawa berkah sekaligus mempercantik diri.

Kegiatan seremonial itu kemudian berkembang dan menyebar hingga Nepal, Bangladesh dan Sudan. Menariknya, di negara-negara tersebut, dalam perayaan pernikahan mempelai pria juga ikut dirias dengan henna.

Sedangkan di Indonesia, penggunaan henna sebagai pewarna rambut, kuku dan bahan untuk menggambar tubuh pengantin dimulai ketika para pendatang Hadharim dan India mulai masuk untuk berdagang.

***

Tapi kemudian penggunaan henna semakin berkembang pesat. Henna art menjadi hits, ujar Donara, dalam budaya moderen setelah selebritis papan atas Madonna, Beyonce, Rihanna dan Prince terlihat tampil dengan menggunakan henna art.

Menurutnya, body painting dengan pewarna henna disukai karena tidak meninggalkan bekas dan bisa bertahan 1-2 minggu tanpa meniggalkan bekas.

Jika dulu pasta henna dibuat dari daun kayu atau Inai, kini henna sudah bisa didapatkan dalam bentuk bubuk dan pasta  instan dalam berbagai kemasan dengan mudah ditemukan.

Donara mengamati ternyata kini henna terdapat 4 jenis dan fungsi yang berbeda-beda, yaitu:

1. Henna dalam kemasan saset: berbentuk bubuk, biasanya digunakan untuk mewarnai rambut yang beruban. Tersedia dalam warna hitam, coklat dan merah.

Perlu beberapa kali pengulangan agar warna yang didapat sesuai dengan  harapan.Bacalah kemasan dengan teliti karena tidak dianjurkan untuk membuat tatto alis dengan henna ini.

2. Pasta henna Cone tube: tersedia dalam warna coklat,merah dan hitam. Meskipun pada kemasan tertulis untuk body decoration atau dapat digunakan di kulit tetapi sebaiknya hanya digunakan untuk mewarnai kuku saja.

Kulit yang sensitif akan terasa perih dan melepuh bila terlalu lama kontak dengan henna jenis ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2