Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

11 Buku Fiksi yang Bisa Diwariskan hingga Generasi Kesekian

3 Januari 2018   09:54 Diperbarui: 18 Januari 2018   02:08 6617 13 4
11 Buku Fiksi yang Bisa Diwariskan hingga Generasi Kesekian
ilustrasi (pixabay)

Nasib buku ternyata tidak cuma untuk dibaca, tapi juga (di)hilang(kan). Setidaknya pasti kamu pernah merasakannya walau hanya sekali, bukan? Bisa karena dipinjam atau lupa dikembalikan –dan  kamu enggan untuk menanyakan. Tapi memang begitulah buku: punya perjalanannya masing-masing setelah dilahirkan (oleh penulisnya, kemudian di tangan pembacanya). Atau, jika boleh meminjam istilahnya Pramoedya Ananta Toer, "setiap buku akan memiliki jalan senjarahnya sendiri."

Hal semcam itu pun kerap –atau, sering– terjadi di perpustakaan. Paling tidak di perpustakaan yang suka saya datangi: Teras Baca. Letaknya yang ada di bagian belakang sebuah komplek perumahan Bambu Kuning, Bojonggede, Kabupaten Bogor ini membuat hanya orang-orang yang tahu atau benar-benar niat datang ke sana untuk sekadar baca-baca. Tapi masih ada juga segelintir orang datang ke sana dan dimanfaatkan sebagai "tempat berkumpul" semata.

Begini, akan saya ceritakan barang sedikit segelintir orang-orang itu. Perpustakaan Teras Baca punya karakter pembaca yang unik. Sebab banyak di antara mereka datang untuk kumpul-kumpul. Berorganisasi. Hampir setiap tahun, meski hanya satu kali, Perpustakaan Teras Baca dijadikan sekretariat-tak-tetap Karang Taruna. Yha, ere kiwari memang masih ada Karang Taruna. Mereka-mereka ini pembaca tetap buku-buku di Perpustakaan Teras Baca. Membaca jadi sebuah keterpaksaan karena keadaan. Di sana tidak ada fasilitas maupun mainan lain selain buku. Rata-rata umur mereka yha sekitar belasan: antara SMA dan (baru jadi) mahasiswa. Bisa dibilang cerminan generasi Milenial.

Namun, saya jadi memikirkan ini: ternyata ada yang lebih menyedihkan dibanding ditinggal saat lagi sayang-sayangnya; dilabeli sebagai generasi milenial. Menyedihkan lho menjadi generasi Milenial. Sudah banyak stigma negatif yang kadung mereka dapat. Padahal, tidak semua pembuktian bisa langsung dirasakan, bukan? Ada proses, ada perbaikan yang terus menerus dilakukan. Tapi melihat dari apa yang generasi Milenial lakukan di Perpustakaan Teras Baca, saya jadi percaya satu hal: ternyata stigma negatif itu sedikit ada benarnya.

Dan kembali ke awal, jika dihitung-hitung, sejak Perpustakaan Teras Baca berdiri, sudah 10 buku (meng)hilang. Setengah di antaranya adalah novel. Selebihnya buku non-fiksi. Buku-buku yang sudah tersusun rapih di rak, kemudian diturunkan oleh seseorang, dibaca, kemudian –walau ini tidak sering– bisa hilang. Seperti buku milik sendiri saja: mereka tidak perlu izin meminjamnya atau tidak mengembalikannya. Namun keduanya toh tetap sama: buku tidak lagi ada di rak.

Sebagai pengunjung tetap yang-kadang-diminta-menjaga, tentu tidak banyak yang bisa saya lakukan. Lebih sering mendokumentasikannya dengan memotret buku-buku yang baru datang dan mencatat apa yang akan dipinjam untuk dibawa pulang. Nah, saat-saat seperti itulah momen di mana buku tidak hanya dinasibkan untuk dibaca, tapi juga (di)hilang(kan).

***

Buku mengisi jam-jam kosong dengan percakapan yang mungkin tak akan pernah selesai, tapi membuat kita tahu: kita hanya penafsir tanda-tanda, di mana kebenaran menerakan jejaknya. Itu sebabnya, kata pertama yang menakjubkan adalah: "BACALAH". --Goenawan Mohamad dalam Pagi Dan Hal Yang Dipungut Kembali.

***

Clara Ng sangat krtitis lho tentang tangga pembaca di Indonesia. Baginya, tangga pembaca di Indonesia masih tertatih-tatih. Indikator yang digunakan adalah buku-buku yang semestinya diperuntukan untuk anak atau pra-remaja, justru diperdagangkan untuk orang dewasa. Dan pada akhirnya pun kita jadi tahu: orang dewasa jadi mengonsumsi bacaan anak-anak atau pra-remaja.

Sial yang kemudian didapati anak-anak tentu akses bacaannya. Ini adalah kemunduran. Pembodohan yang mesti dihentikan. Sudah selayaknya anak-anak mendapat bacaannya dan orang dewasa memilih bacaan yang semestinya.

Saya ingat betul Aan Manyur pernah mencuitkan ini: "someday twitter will end. you need to find your own offline social media back. i recommend you library."

Ada paradoks memang dalam cuitan itu. Di mana Generasi Milenial melulu digantungkan oleh aktifitas di dunia maya, tapi mesti kembali pada hal-hal konvensional seperti perpustakaan (dan buku-buku yang tersimpan). Namun, melihat bagaimana pengunjung dan pembaca di Perpustakaan Teras Baca ada rasa optimistis perlahan hadir. Meski sedikit.

Di antara beragam jenis buku di Perpustakaan Teras Baca, buku fiksi adalah buku yang dominan dibaca. Wabil khusus, novel. Ada juga yang suka buku non-fiksi seperti kumpulan esai, tapi tidak sedikit yang membaca buku how-to-be. Buku-buku anak, kebanyakan berbentuk majalah, masih suka diminati bila ada kunjungan dari PAUD atau Taman Kanak-kanak.

Ada sedikit rasa penasaran mengetahui sebab-musababnya. Namun, melihat ke-khusu-an mereka membaca, secapat itu pula penasaran saya hilang. Mau membaca itu sudah jauh lebih baik tinimbang meminjam buku sahaja!

Melihat kenyataan seperti itu, akhirnya saya coba menyusun tangga bacaan di Perpustakaan Teras Baca yang suka dan/atau sekiranya pantas untuk direkomendasikan untuk Generasi Milenial era kiwari. Siapa tahu juga dari tangga bacaan ini bisa diwariskan oleh Generasi Milenial hingga generasi ke-sekian, bukan?

Untuk meruncingkannya, tangga bacaan ini sekadar daftar bacaan fiksi. Alasannya pun sederhana: di Perpustakaan Teras Baca buku-buku fiksi yang dominan dibaca. Dan buku-buku ini pun terbit pada tahun di mana generasi milenial sedang ramai-ramainya diperbincangkan. Semoga generasi milenial berkenan menerima daftar buku-buku ini.

***

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (Eka Kurniawan, Novel)

Setelah novel "Cantik Itu Luka" menjadi banyak perbincangan pembaca dan kritikus sastra Indonesia, Eka Kurniawan "tampak" hilang dari permukaan dunia kepenulisan. Lalu, novel “Lelaki Harimau” terbit dua tahun setelahnya. Kemduian tidak satu pun buku yang dihasilkan. Barulah setelah 10 tahun lamanya dari "ledakan" itu, Eka Kurniawan hadir dengan novel barunya: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4