Mohon tunggu...
Kompasiana
Kompasiana Mohon Tunggu... Full Time Blogger

Akun resmi untuk informasi, pengumuman, dan segala hal terkait Kompasiana. Email: kompasiana@kompasiana.com

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

8 Pemikiran untuk Rio yang Melaju di F1

20 Maret 2016   08:58 Diperbarui: 20 Maret 2016   09:01 0 7 2 Mohon Tunggu...

[caption caption="Pebalap F1 asal Indonesia, Rio Haryanto. Sumber : Kompas.com"][/caption]Indonesia mengukir sejarah. Februari lalu Rio Haryanto secara resmi melaju di ajang balap jet darat, Formula 1 dan akan tampil selama satu musim penuh. Rio menjadi pebalap pertama dari Indonesia yang berhasil melaju di ajang tahunan ini. Rio resmi bergabung dengan tim Manor Racing dan bersanding dengan Pascal Wehrlein sebagai partner tim.

Kepastian Rio melaju di Formula 1 ini pada awalnya tidak berjalan mulus. Jalan berliku dihadapi Rio untuk mendapatkan satu tempat duduk sebagai pengemudi profesional. Masalah utamanya adalah dana. Ya, tidak sedikit dana yang diminta oleh pihak Manor Racing agar pemuda asal Solo ini dapat berlaga di arena F1. Rio harus membayar 15 juta Euro atau setara sekitar Rp 225 miliar untuk "membeli" satu cockpit selama musim 2016.

Dana ini memang terbilang sangat besar. Apalagi tuntutan Manor Racing agar Rio bisa membayarkan dana tersebut dalam tenggat waktu yang pendek. Kemenpora sebagai kementerian yang bertanggung jawab akan hal ini juga tidak berdiam diri. Imam Nahrawi berjanji akan menggelontorkan dana untuk turut membantu agar Rio dapat melaju di arena F1. Pertamina juga sebagai BUMN ikut menjadi sponsor dan hingga saat ini baru sejumlah 5,2 juta Euro yang telah disetorkan pemerintah kepada Manor Racing.

Sebagai warga negara, kita harus turut bangga melihat salah satu bagian dari kita dapat melaju di sirkuit dalam ajang balap bergengsi di dunia. Namun, di balik itu semua kita juga tentu memiliki opini sendiri terkait proses Rio Haryanto hingga Ia dapat berlaga di Formula 1 ini. Berikut ini adalah 8 opini terpilih Kompasianer yang diambil dari topik pilihan Rio Haryanto Melaju di F1.

1. Politisasi Pembalap Rio Haryanto Seharga 1000 Teknopreneur

Rp225 miliar bukanlah angka yang kecil. Angka inilah yang menjadi harga untuk memastikan berlaganya Rio Haryanto di balap F1. Hanny Setiawan menilai bahwa Rio Haryanto menjadi salah satu objek politisasi oleh pihak-pihak yang mencari ketenaran. Menariknya, Hanny juga membandingkan harga kursi F1 ini dengan biaya yang dibutuhkan pemerintah untuk mencetak teknopreneur. Menurut Hanny, dana yang digelontorkan kepada Rio dapat dikatakan sebagai biaya tenggelam (sunk cost). Berbeda jika dana tersebut digunakan untuk berinvestasi pada 1.000 teknopreneur di Indonesia.

Jika pemerintah terlihat berhati-hati dalam menggelontorkan dana kepada Rio, langkah itu menjadi sangat wajar karena memang momentum ini sangat rentan terjadi politisasi oleh pihak-pihak yang menginginkan panggung politik. Ia juga menekankan agar Rio tidak terjebak dalam pusara politik yang hanya akan membuat semakin rumit proses mengejar prestasi.

2. Rio Haryanto (Indonesia) Diperas Manor Racing

[caption caption="Rio Haryanto beraksi di sirkuit F1. Sumber : olahraga.kompas.com"]

[/caption]Seperti yang dikatakan sebelumnya, dana untuk berlaga di ajang Formula 1 terbilang sangat tinggi. Rp225 miliar harus digelontorkan untuk memastikan satu tempat selama satu musim penuh. Waldy juga menggarisbawahi harga fantastis untuk satu kursi pebalap ini. Sebelumnya memang ada desas-desus bahwa harga yang diberikan pada Rio ini jauh lebih tinggi daripada harga kursi teman satu timnya, Pascal Wehrlein. Jika kabar tersebut benar adanya, Manor Racing sangat patut dicurigai. Menurutnya, Indonesia memang dikenal haus prestasi dan momen ini dimanfaatkan Manor untuk memeras Rio Haryanto.

3. Rio Haryanto di antara Manor, Menor, dan Minor

Manor Racing bisa dikatakan sebuah tim yang masih "bayi" dalam ajang Formula 1. Tim ini baru terlibat dalam ajang F1 sejak tahun 2012 lalu dan terlihat masih belum menemukan tajinya di ajang ini. Memang tidak ada yang mengesankan dari tim ini, bahkan pada musim 2015 Manor Racing minim poin. Hal ini menjadi poin yang disoroti oleh Arnold Adoe. Ia menganggap Manor Racing merupakan tim yang masih minor dalam prestasi dan reputasi. Namun, di sisi lain ada keuntungan yang bisa diambil. Karena melalui tim ini Indonesia memiliki pebalap pertama berlaga di ajang F1.

Rio Haryanto menjadi salah satu dari 10 pebalap Asia yang mencicipi ajang bergengsi ini. Bahkan di musim ini, Rio menjadi satu satunya pebalap dari benua Asia. Dengan gelontoran dan yang tidak sedikit, artinya Rio akan tampil menor atau mencolok dalam balapan ini. Tidak ada yang salah memang, karena kebanyakan bagi pebalap muda hal itu menjadi salah satu modal utama. Kendati demikian, Arnold beranggapan akan sangat muluk-muluk jika berharap Rio menuai prestasi di musim perdananya. Berharap Rio dapat mendulang poin dan tidak diganti di musim pertamanya ini sudah cukup bagi kita.

4. Rio Haryanto, Kenapa Tak Kau Tiru Anggun dan Radja Nainggolan?

[caption caption="Rio Haryanto saat menjuarai seri GP2. Sumber : kompas.com"]

[/caption]Artikel Win Wan Nur ini terbilang cukup unik. Ia mempertanyakan mengapa Rio tidak mengikuti jejak Anggun C. Sasmi atau Radja Nainggolan saja. Memang kala itu terlihat dukungan pemerintah Indonesia yang seolah setengah-setengah dalam memenuhi tuntutan Manor Racing. Dari artikel yang ia tulis, tersirat bahwa kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia merasa bangga kepada Rio. Ada orang Indonesia yang ikut berlaga di kejuaraan Formula 1 memang hal yang pantas untuk dipuja.

Namun, Win Wan Nur mengatakan jika Rio adalah seorang profesional, akan sangat wajar jika meletakkan kepentingan profesi lebih tinggi dari kepentingan negara. Memang kala itu kepastian Rio melaju di F1 sangat tersendat karena masalah dana dan birokrasi pemerintah. Bahkan ia menyarankan agar kemampuan dan prestasi Rio tidak mubazir, Rio bisa mengikuti jejak Anggun C. Sasmi atau Radja Nainggolan dan jika hal itu benar-benar terjadi, negara masih tetap bisa berbangga pada Rio karena ada darah Indonesia yang berlaga di balapan bergengsi dunia.

5. Untung-rugi Pembalap Rio Haryanto di Team Manor Racing

Manor Racing memang bukanlah tim besar sekelas Ferrari atau Mclarens. Manor kerap mengalami berbagai kendala di ajang ini. Memang usia Manor di Formula 1 terbilang masih muda dan sulit untuk dibandingkan dengan tim-tim yang lebih dulu mengikuti Formula 1. Rio juga merupakan pebalap dengan usia muda. Meski demikian, Rio memiliki segudang prestasi di dunia balap. Kompasianer Hengky Dwi Cahyo menakar keuntungan dan kerugian Rio bergabung dalam tim Manor Racing ini.

Menurut Hengky, ada beberapa poin yang menjadi keuntungan. Pertama, Manor menggunakan mesin baru pabrikan Mercedes yang canggih. Mesin ini tentu memiliki potensi yang lebih baik daripada mesin yang digunakan pada musim sebelumnya. Sebagai pebalap muda, Rio diharapkan dapat memaksimalkan kemampuan mesin yang terbilang memiliki tenaga dahsyat ini. Kedua, pebalap satu tim dengan Rio, Pascal Wanrlein bukan berasal dari GP2 maupun GP3 sehingga tentu akan memakan waktu adaptasi yang lebih lama. Hal ini bisa menguntungkan Rio yang lebih lama duduk di cockpit GP2. Ketiga, tim ini memiliki ahli aerodinamika yang ikut mengantarkan legenda F1 Schumacher berdiri di podium tertinggi. Tentu saja keberadaan Nicolas Tombazis sebagai ahli aerodinamika menjadi sebuah keuntungan bukan hanya bagi Rio tapi juga bagi Manor Racing.

6. Ketika Malaysia Melirik Pembalap F1 Indonesia

Ketika Rio dipastikan berlaga di F1, ada berita beredar bahwa Malaysia akan ikut menjadi sponsor dengan memasang logo Visit Malaysia pada mobil Rio. Meskipun ternyata kabar ini tidak benar, Syafrul Bandi membayangkan jika ada logo Malaysia di mobil Rio adalah sebuah rasa malu yang besar untuk kita. Syafrul menilai aksi Rio di arena F1 bisa menjadi jurus ampuh bagi pemerintah untuk menarik perhatian wisatawan mancanegara.

Peluang berpromosi bersama Rio sangatlah potensial karena event Formula 1 memiliki skala yang sangat besar. Bahkan, figur Rio juga bisa menjadi nilai tambah. Usia yang muda dengan prestasi melimpah serta kecerdasan di sirkuit dan ketaatannya dalam ibadah menjadi poin plus. Menurutnya momentum berlaganya Rio di Formula 1 harus dimanfaatkan sebaik mungkin dan tidak menjadi polemik di dalam negeri.

7. Target Realistis Rio, Rookie Terbaik GP Formula1 2016

[caption caption="Rio mencium bendera Merah Putih saat dipastikan berlaga di F1. Sumber : print.kompas.com"]

[/caption]Rio Haryanto telah berhasil mewujudkan mimpinya. Bukan hanya mimpi pribadi, tetapi juga mimpi bangsa yang ingin ada warga negaranya berlaga di F1. Uji coba pramusim sudah dilakukan dan Rio telah menunjukkan kemampuannya. Sebagai pendatang baru, tentu proses adaptasi tidak bisa berjalan dengan cepat. Rio mengalami dua kali keluar lintasan saat uji coba. Hal inilah yang dilihat oleh Hery Syofyan.

Menurut Hary Syofyan, hasil tes pramusim tentu bisa dijadikan sebuah tolok ukur. Bagi kita, bisa menembus ajang F1 saja sudah merupakan prestasi yang tinggi dan tinggal berharap saja Rio bisa tampil sebaik mungkin. Rio sendiri memiliki target jangka pendek. Sebagai pendatang baru, tentu gelar Rookie terbaik menjadi salah satu tujuan. Dan memang, tidak menutup kemungkinan Rio dapat mengejar gelar ini. Menurut Hery, Rio juga mendapat dua tantangan yang cukup berat untuk mendapatkan gelar ini. Ada dua pendatang baru dengan poengalaman yang lebih dari dirinya. Meski demikian, gelar Rookie terbaik 2016 adalah hal yang realistis.

8. Wajarkah Sumbangan 225M untuk Rio?

Artikel milik Karmani Soekarto ini kembali menyinggung dana yang dikucurkan pemerintah untuk satu kursi Rio di Formula 1. Dana Rp225 miliar memang terlihat sangat besar untuk kita. Apalagi dengan daya beli yang masih rendah terkait pendapatan perkapita di Indonesia saat ini. Karmani mengatakan jika kita mengukur dengan hal-hal kecil, tentu angka ini terlihat menjadi sangat besar. Namun, bagaimana jika dibandingkan dengan ukuran lain? Misalnya biaya belanja iklan sebuah perusahaan, tentu angka Rp225 miliar ini malah terlihat kecil. Pemerintah juga tentu berpikir matang tentang pengeluaran ini.

Menurut Karmani, tentu dengan biaya sebesar ini pihak yang paling diuntungkan adalah Indonesia sendiri jika dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengiklankan Indonesia di mata dunia. Karmani juga menyimpulkan bahwa dana yang harus digelontorkan ini terbilang sangat wajar jika dibandingkan dengan keuntungan yang bisa kita dapatkan dari momen ini.

---

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2