Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Kota dan Nasib Perantau Tanggung

7 Juni 2019   16:28 Diperbarui: 11 Juni 2019   16:35 0 3 0 Mohon Tunggu...
Kota dan Nasib Perantau Tanggung
ilustrasi: Warga berdatangan ke Ibu Kota | Antara

Kali ini aku merasa bahwa kekhawatiran telah berubah menjadi rimba-rimba itu di tengah gedung-gedung tinggi. Ketika diri ini berhenti, ada kalanya ia ingin melangkah menelusuri gemerlapnya kehidupan kota yang menggoda.

"Ah, rasanya seperti kekhawatiran yang ingin terus dilestarikan, tidak maju jika tidak merasakan dan melajutkan perjuangan hidup dalam kota".

Di mana-mana yang tengah terjadi kini orang sedang membangun kebersamaannya. Entah bagaimana caranya nyaman dengan kebersamaan itu? Setidaknya inilah kata yang akan dan harus aku ucapkan. Kebanggaan, menjadi lebih tinggi dan kuasa akan hingar-bingar, menjadi mimpi baru para perantau yang kini tengah mudik ke desa.

Tetapi di sudut ruang sempit ini, aku mulai merenungi, aku berpikir dan setidaknya ada aku dalam pikiranku. Sudah beberapa hari ini aku tidak menulis, ya tentu sibuk medera waktuku. Karena aku pun sama untuk melestarikan kebersamaan itu, sehingga melupakan waktu untuk sekadar melanjutkan menulis. 

Dalam narasi setahun dalam sekali ini, kita bercengkrama bersama, saling bertanya bagaimana kabar, dan himpunan basa-basi yang saling meungungkap suatu kebesaran atau kekecilan nasib sebagai kaum perantauan.

Lama nian rasanya seakan menjadi tradisi itu, setelah berpetualang jauh dari desa kampung halaman kita, apa yang telah engkau dapat? Tidak ubahnya tentang kendaraan roda empat itu, roda dua dengan sporty, atau anak-anak mereka yang digendong bersalaman ke tempat sanak-saudara, bahkan menapaki jejak ke rumah tetangga.

Gambar ilustrasi diambil dari brilio.com
Gambar ilustrasi diambil dari brilio.com
Yang tidak menjawab impian itu dalam bayangannya. Terkadang dari sana terdengar suara riuh yang sebenarnya upaya menunjukan bahwa, ia adalah perantau tanggung itu, "punya uang atau tidak terpenting mudik". 

Bagi perantau tanggung memang begitu, rupanya perantauan bukanlah lahan keberhasilan itu setidaknya ini bagi wacana semesta berpikir perantau tanggung. Hanya saja "tanah perantauan" merupakan lahan bermain sembari mencari makan, itu tidak lebih.

Beruntunglah mereka dengan embel-embel dapat membeli sesuatu yang lebih di tanah perantauannya untuk dibawa pulang ke desa setidaknya membekas sebagai bukti. 

Aku kira tidak ada kesombongan, ketika merantau, ia menunjukan hasil dari apa yang dicarai dari petualangan merantau di sana sangat wajar. Dalam setiap perjuangannya, menunjukan hasil pada apa yang telah didapatnya merupakan ciri, "tidak sia-sia upaya jauh berkelana dari Desa ke Kota".

Untuk itu, manusia tidak lepas dari membangun setiap nasibnya, tentu dalam hal ini membangun kebanggaan semua tentang dirinya. Oleh karenanya, hidup tidak selalu seberuntung mereka yang mulai membangun nasibnya di tanah perantauan itu. 

Banyak dari mereka pulang kampung karena tradisi, menikmati mudik asyik kala harus membawa roda dua, empat, bahkan pemandangan berbeda di terminal maupun stasiun yang mulai ramai.

Namun menjadi pertanyaan sendiri, apakah mereka puas dengan apa yang telah bisa di dapatnya setiap kepulangannya? Seperti menjadi sesuatu yang mengganjal itu dalam batin.

"Edapkan mimipimu sebagai perantau dengan kadar keberhasilan tinggi. Jika beruntung, mungkin dapat dikatakan kita sebagai yang berhasil."

Perantau tanggung, mengapa tidak dibuat seperti tradisi orang-orang dari tanah perantauan di luar Jawa sana? Tidak akan pulang ke desa jika mereka belum berhasil tersohor ketika pulang ke kampung atau desanya.

Tetepi entah "prinsip" itu sekarang demikian berlakunya atau tidak di kala kota semakin menantang bagi para pendatangnnya? Setahu-ku itulah budaya lama motif menjadi kaya (keberhasilan). Bahkan ini merupakan kata ungkapan bagi orang-orang yang putus asa hidup di kampungnya yang terjepit ekonomi hidupnya.

Ekonomi yang kompetitif, persaingan manusia dalam kota, dan perdagangan kian hari kian ramai saja di kota karena ambisi untuk menjadi kaya. Apakah keberhasilan sebagai prinsip perantau tidak pulang kampung sebelum berhasil "kaya" masih dipegang mereka yang berambisi karena budaya mengubah tatanan nasib itu?

 Ah, seperti mimpi di siang hari dengan sedikit tanah pasir yang mengelilipi mata di jalanan tanpa aspal. "Ia memang terlihat tetapi tak kala ada yang tidak pas dengannya, mata terasa sangat sakit jika tersambarnya".

Mungkin di sanalah bersemayam narasi perantau tanggung itu dengan semboyan "punya uang atau tidak yang penting mudik ke kampung halaman ". Rasanya jika dilihat kini, tanah rantau ibarat gelas kaca yang bersinar, tetapi dari dalam gelas tersebut ia tidak akan kuat menjadi kemilaunya gelas yang berkaca-kaca itu. 

Jumlah penumpang kereta api di Stasiun Purwokerto mulai naik memasuki musim mudik lebaran, Senin (11/6/2018).(Dok. Humas Daop 5 Purwokerto)
Jumlah penumpang kereta api di Stasiun Purwokerto mulai naik memasuki musim mudik lebaran, Senin (11/6/2018).(Dok. Humas Daop 5 Purwokerto)
Riilnya yang terjadi di tanah perantauan seperti menjadi ladang kekhawatiran baru, bahkan yang banyak berputus asa itu memilih pulang setiap tahun mengobati rasa kecewanya. Tentu tidak mampunya mimpinya sendiri menjawab setiap harapannya pada keadaan Kota dengan banyak hingar-bingarnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2