Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Mengutuk Diri pada Formalitas Kota

24 Mei 2019   18:42 Diperbarui: 27 Mei 2019   20:07 0 8 1 Mohon Tunggu...
Mengutuk Diri pada Formalitas Kota
Ilustrasi (danielvfung) | Kompas.com

"Ketika daya tarik dari kota menjenuhkan kemanakah manusia harus pergi? Rasanya ingin menjauh bersama ilalang-ilalang disana, dengan domba-domba, caping yang mengerucut, dan beningnya air yang terjun langsung dari atas  Gunung berapi".

Yang tidak bersinar oleh zaman. Mengapa seakan kau mengutuk dirimu sendiri? Sadarlah, lautan memang ada kalanya pasang, tetapi kau harus cukup dengan dirimu sendiri untuk hidup dan kehidupanmu.

Memang yang bersinar itu kemilau, namun ia hanya tapal di permuakaan pemikiran yang dangkal. Seperti seseorang berseragam disana, aku tidak mengutuknya. Kalau memang itu sudah bagian dari jiwanya, apa yang hendak aku kata? Mungkin juga apa yang akan kau kata, jika kau mau berkata.

Seakan langit ini menjadi saksi bahwa; aku menikmati fasilitas itu. Dengan mewah, mudah membeli, dan namaku bersinar bagai mercusuar di sana. Doktrin yang harus manusia bayar, tetapi lupa waktu, lupa diri dan lupa bahwa, "ia butuh untuk bebas".

Menjadi formal memang ambigu, ada sesuatu yang harus di bayar oleh menjadi keformalan itu sendiri. Formal sama halnya mungutip yang tidak pernah terkutip. Sama seperti ia harus bertahan walaupun dengan keadaan yang tidak mereka senangi dalam hidupnya sendiri. Meskipun racun kenyamanan semakin terbawa, rasa itu tidaklah membohongi diri.

Pagi yang harus kau sambut, sore yang harus kau tunggu, bahkan malam yang harus kau rajut. Bahasamu memang sederhana, kedudukanmu memang menggoda. Tetapi apakah kau bisa seperti mereka yang tidur sampai siang hari, bangun, lalu tertidur lagi? Rasanya kau tidak akan bisa, kau telah berjanji pada identitas formal itu.

Aku memang disini tidak menyalahkanmu, kau dan aku adalah prodak zaman terbaru. Tetapi selalu ada jalan tengah yang harus kita lalui. Biarlah kau nyaman dengan sikapmu yang mengakar sebagai benalu. Kini aku ingin bertanya, apakah benalu itu selalu buruk dimata kita kini? Tidak juga, ada kalanya ia hanya menumpang pohon yang besar untuk sekedar mempertahankan hidup. Lalu mencari makan menginduk pohon yang besar itu, secara sukarela, atas dasar kebutuhan untuk hidup.

Memang senyaman-nyamannya hidup adalah sebagai seniman tanpa beban aturan. Tentu bukan seniman atas dasar keformalan aturan dan perkantoran ditutut kreatif atas nama. Tidak ubahnya hidup memang harus mencari makan, tetapi aku ingin mencari ala seniman kebebasan itu. Mencari uang didalamnya dengan menggunakan porsinya, yang penting dapat makan, dan mengekapresikan kemerdekaan sebagai manusia. 

Ya, Pemulung pun sama halnya seniman itu, ia berseni yang tidak harus sepaham. Meskipun banyak ditentang keberadaannya oleh para manusia berlogika formal, tetapi ialah yang tidak akan pernah kemaruk itu. Aku kira tiada lagi tawar menawar dalam batin ini. Sungguh aku semakin tidak bisa menjadi mengerti. Aturan yang keras pada ke formalan, terkekang waktu dan keuntungan modal semata.

Seakan hidup ini adalah bias para pemuja uang yang hidup, dan terus bergelantungan pada sisi-sisi kemewahan yang dihasilkan oleh modal. Tidak dapat di pungkiri bahwa; kemewahan sungguh mengoda, tetapi menjadi najis jika dalam mejemputnya harus dikekang, dimarahi, bahkan di berlakukan seperti kacung-kacung oleh "atas nama keuntungan uang, dan nama besar orang lain".

Beruntunglah mereka para hina itu menurut "ekspresi bentuk pikiran keformalan". Pemulung, seniman jalanan, dan pedagang kecil-kecilan yang berserakan di emperan. Memang mereka seakan tidak tahu, mereka para seniman jalanan, pemulung, dan pedagang kecil emperan adalah bentuk kenyataan yang asli, mulia, bahkan ekspresi dari kebebasan hidup kini yang "bertendensi mengekang".

Pemikiran formal hanya tidak tahu, di dalam ruang mereka berformal terdapat bias kebuasan berbalut dasi, "atas nama struktural". Mereka yang berformal saling mengekang, membunuh dan mengambil madu dari tenaga yang dapat di jadikan untung dalam bentuk uang. Ya, ungkapan kecilnya, yang fomal itu justru pencuri yang tidak terakui namun keberadaannya samar. 

Sebetulnya merekalah "formal" yang kemaruk pada keuntungan dan uang. Setiap hari di pikiranya hanya untung, uang dan kekuasaan. Bahkan sikap korupsi, entah pada apa yang dapat di uang-kan, atau pun barang-barang katanya yang tidak bertuan itu  di konversi menjadi "di uang-kan". Oh, yang terakui namun samar, benalu yang sebenarnya itu.

Keformalan dalam memandang uang, seperti si rakus tanpa kenal berhenti. Selama masih ada yang dapat mengahsilakan nilai lebih, sikat, bahkan tenaga dan kreatifitas rekannya sendiri. Yang samar memang ambigu, tidak ada rasa syukur, tidak ada rasa terimakasih, dan tidak ada pula belas kasih. Huh, yang saat ini mengaku mulia dari keformalan, tidak ubahnya kau hanya kecoa yang hinggap, ketika ada makanan di dalam tempat yang kotor dari dirimu.

Pemulung yang nyatanya kotor, pedagang kecil yang, "menghirup udara kotor hasil dari keformalan", juga seniman jalanan yang dianggap sampah masyarakat. Tidak tahukah kau yang saat ini formal? bahwa; kau sama sekali tidak mulia dibanding mereka yang kau anggap kotor-kotor itu? Ya, seperti dunia terbalik saja, karena yang kotor itulah hatinya penuh rasa syukur, penuh berkah dan penuh dengan ungkapan cukup dari pikiran dan ruang hatinya sendiri.

Sedangkan kau yang mengaku formal dalam pikirammu, kau anggap dirimu mulia padahal, "kau masih menipu, masih memeras keringat yang lain untuk keuntunganmu sendiri". Lalu bersenang-senang atas nama penderitaan orang lain atas nama keformalan yang di akui sebagai biasa. Sungguh naas nian nasibmu yang di dalamnya terbalut kesadaran akan itu bahwa; hidup hanyalah saling manfaatkan yang semakin terukur oleh kapital.

Upaya kalah mengalahkan, sangat mungkin orang rasakan, untuk terkejar dan semakin mengaktualisasi diri dengan material. Ungkapan yang semakin pahit dirasa, seperti hidup, mengapa hidup tidak di buat senang saja? Tentang seseorang yang betah akan kemiskinannya itu, tidak tahukan ukuran rasa syukur itu? Bahwa dirinya lebih beruntung dari yang lebih tidak beruntung? 

Rupanya ingin menyingkap kembali, hmm, bualan masa kini seperti keagungan yang terpuja. Sederhana yang dipandang setengah manusia, orang-orang jalanan juga dianggap sebagai se-per empat manusia. Apa lagi dengan orang yang tidak waras itu, tidak pernah di akui sebagai manusia. Sungguh yang mewah, serba ada, serba bagus sandangnya, papannya, dan fasilitas-fasilitas kehidupannya lainya semakin, "ia dianggap manusia".

Seperti yang terakui ingin tetap di akui pada akhirnya. Jalan kehidupan rasanya terbentuk dengan sendirinya, menanjak, belok bahkan sandungan-sandungan yang harus dihadapi. Mengarungi jalan memang terkadang butuh pegangan untuk, "setidaknya mengamankan diri sendiri". Meskipun kau terkadang dirasa manusia yang tidak nyata dalam kelas itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2