Toto Priyono
Toto Priyono Kariyawan Swasta

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan. "Intuisionisme"

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Manusia "Pencipta yang Dungu"

17 April 2019   23:39 Diperbarui: 17 April 2019   23:44 117 2 0
Manusia "Pencipta yang Dungu"
ilustrasi diambil dari gontornews.com/ Saling menunjuk kedunguan

Saya tidak tahu, mengapa kau diam-diam menyalahkan padahal yang patut disalahkan adalah kehendakmu melahirkan sesuatu itu. Kau selalu percaya ciptaan-mu itu boneka penurut yang bisa kau kuasai. Doktrin-doktrin terdahulu yang kau terima, merupakan hal yang benar-benar salah, setidaknnya dalam ukuran normatif.

Seorang yang diciptakan tidak membangkang karena dominannya sifat penurut itu. Kau mengucapkan hal yang tentu sangat salah. Bahkan kaupun berpikir kau selalu di benarkan oleh persepsimu sendiri. Keras dan beratnya kehidupan ini tidak kau sadari, apakah kau sadar sebelum mereproduksi ini?

Kau tak ubahnya seperti binatang berbadan Manusia yang melakukan apapun tanpa berpikir sebab dan akibat. Kau selalu percaya ciptaan, karna kehendak kuasamu tidak pernah membuat membangkang. Bahkan sempat-sempatnya kau membandingkan dengan sesuatu yang melampaui kehidupan realistis ini.

Kini jika terjadi pembangkangan pada dirimu, kau kecewa. Tetapi yang saya tanyakan padamu, mengapa kau kecewa? Apa yang membuatmu kecewa? Saya seperti tahu, bukankah kau kecewa karena yang diciptakan olehmu tidak seperti bentukan kebanyakan yang beruntung itu? Sungguh ini bukanlah kekecewaan yang berdasar.

Yang sangat kecewa itu seharusnya saya. Mengapa engkau seperti tanpa dosa? Kau menganggap mereproduksi sebagi jalan segala penebusan dosamu. Kau tahu kejahatan darimu tidaklah usai dari hanya situ? Kau melanjutkan dosa-dosa yang tidak kau sadari itu. Menjadi manusia bebal adalah setiap dari tindakan-tindakanmu.

Kini saya jujur pada diri saya sendiri. Kau seperti kedunguan yang tidak berkesudahan. Kata mulia keluar dari mulut yang tak sempat merasakan langsung denganmu. Tanpa beban dia berkata mulia, toh dia tidak di bebankan oleh penciptanya yang binggung itu.

Dan apa yang terjadi pada saya yang tercipta? Kau seperti ingin mengutuk saya. Tetapi rasa tidak percaya saya pada suatu kutukan membuat suara hati membuka suaranya. Ingin saya menelanjangi egomu itu. Aku juga ingin menelanjangi hatimu yang tanpa dosa. Kita sama-sama menanggung beban ini, jangan kau buat beban hidup kita semakin dalam.

Saya harus membencimu untuk sadar. Hal yang saya ingin ingatkan, kau tak lagi gegabah akan keberadaanmu. Kau sama saja seperti saya sebagai makhluk pembangkang. Tidak pernah saya percaya, kaulah yang suci itu, dosamu sama seperti saya. Kau melahirkan beban untuk beban di kehidupanmu. Jika kau merasa bahagia, dia bahagia untuk bahagiamu, tidak lebih dari itu.

Jangan pernah kau tidak menerima ketika ia menyusahkanmu, hey, pencipta yang dungu. Semua beban kehidupanku berawal dari perbuatanmu. Sadarlah tanpa penghakiman. Saya tahu karna ketidakmampuanmu, kau menyerahkan hidup pada saya. Kau tahu kan? saya tidak sebrutal apa perbuatamu?

Selamanya saya mungkin akan terus mengkritisimu. Keadaan yang ada ini masihkah kau membenarkan dirimu? saya hanya ingin kau sadar, kebaikan dan kejahatan itu satu kesatuan berawal dari tindakanmu sendiri, wahai sang pencipta. Sudah jangan lagi mempermasalahkan ini, saya ada karna tidakanmu, dan terimalah segala kejahatan dan kebaikan saya ini.

Jika saya tak seperti apa yang kau mau dalam bentukanmu, proteslah pada dirimu sendiri bukan selalu menyalahkan saya. Tetapi pikiran tidaklah seharusnya kosong. Pederitaan dan kebahagiaan adalah sodara kembar yang harus saya akui. Sebesar mungkin kekuatan penderitaan aku tolak, semakin besar pula kemungkinan kebahagiaan tidak akan datang. Saya adalah kontradiksi itu, dimana saya adalah tempat sebab dan akibat berlabuh.

Kau dihadapkan dengan hujan dan panas, sebentar hujan sebetar juga pula panas. Begitupun kini keadaan yang sesungguhnya. Penderitaan yang sementara, menimbulkan kebahagiaan yang juga sementara pula pada akhirnya. Dalam setiap kesendirian saya terselimut sudah kebahagiaan saya juga, tetapi saya juga harus bersodara dengan penderitaan yang sesekali datang menerpa.

Langit itu cerah dan terkadang mendung, bukankah kau tahu itu? Jangan pernah kau suruh saya untuk bahagia abadi dan menderita abadi. Bukankah kau meyakini surga, kemudian mengakui neraka juga? Saya meyakini itu kini di dalam keadaan dan realitas sebagai saya.

Terlalu lama menunggu mati untuk merasakan surga dan neraka itu. Bukankah jika menunggu mati surga dan neraka hanyalah ketakutan manusia semata yang sama- sama saling menakut-nakuti sesamanya? Cepatlah kalian bangun dari tidur kalian. Sudahlah biarkan mereka yang mengakui surga dan neraka setelah kematian, hidup bersamanya kemudian menikmatinya sampai akhir hayatnya.

Jika surga dan neraka dirasakan setelah mati, saya ingin mengetahui, mungkin yang membuat Surga dan Neraka itu tidak pernah hidup. Kenapa tidak yang membuat Surga dan Neraka saja yang dimasukan kesana? Keanehaan yang menampakan dirinya di siang bolong. Tertinggal pertanyan mengapa mereka menciptakan di dalam pikirannya sendiri?

Sulit sekali untuk di nalar, manusia bagai embun yang tidak pernah disangka-sangka hadirnya. Namun mengapa manusia menjadi serendah itu bagai permainan yang dipermainkan. Manusia yang percaya itu bagai bermain dalam mainannya saja. Toh apa yang di inginkan adalah bebas dari segala bentuk penghakiman.

Rasanya saya ingin tidak mempercayai itu. Ini beban yang tidak masuk akal. Bukankah di setiap tulisan orang-orang mengakui gunakalah akal dengan baik? Kesalahan moral sudahlah memperberatkan perjalanan ini. Tetapi mengapa rasa bersalah yang manusia rasakan disini tidaklah cukup sampai disini? Oh, kejamnya engkau yang mempropagandakan jika ini dilanjutkan setelah mati.

Sampai kapanpun saya tak ingin memikirkanya, berteman dengan hidup dan mati harus saya akui. Saya hanya ingin meyakini, saya mati bersama zat'ku. Jika zat sudah bersama, bukankah kita memiliki hak yang sama? Termasuk menciptakan kedamaiaan tanpa penghakiman nanti.

Semakin banyak penggembor-gemboran penghakiman setelah kematian semakin baik untuk orang yang akan mati, mati dalam hidupnya. Saya hanya tidak ingin seperti mati dalam hidup. Apa yang terjadi pada setiap keinginan adalah dihadapkan pada realitas. Setelah semua itu terlalaui keadaanya seperti di dalam sebuah laut.

Hamparan air yang tidak terkira membuat saya berspekulasi, tenggelam dengan pasti melihat terumbu karang atau berenang dengan menentukan arah lalu mendamparkan diri di Pulau terdekat. Kini saya dihadapkan dua pilihan itu antara tenggelam dengan kepastian dan berenang dalam pengharapan. Saya seperti Ikan Tuna tidak berkontingen. Pada dasarnya ikan adalah kontingen, mereka berenang bersama-sama mengalami dan menjalani ketidakpastian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3