Mohon tunggu...
Kiki DianLesmana
Kiki DianLesmana Mohon Tunggu... Student of Communication Science at Padjadjaran University

Write, Write, Write Everything - Politics, Culture Studies, Fiction, Media and Communication, Gender, Social, etc

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Praven Jordan/Melati Daeva Oktavianti Juara Beruntun: Sektor Ganda Campuran Indonesia Mulai Mengusik China

2 November 2019   14:26 Diperbarui: 2 November 2019   15:06 0 1 1 Mohon Tunggu...
Praven Jordan/Melati Daeva Oktavianti Juara Beruntun: Sektor Ganda Campuran Indonesia Mulai Mengusik China
Praven/Melati Juara (gambar diambil dari bola.kompas.com)

Gelar juara yang ditorehkan oleh pasangan ganda campuran Indonesia Praven Jordan/Melati Daeva Oktavianti secara beruntun pada rangkaian turnamen BWF World Tour di eropa yang lalu yakni Denmark Open Super 750 dan French Open telah membawa angin segar bagi wajah perbulutangkisan Indonesia di sektor ganda campuran yang selama ini disegani dunia. Bagaimana tidak, sektor ganda campuran yang selama ini menjadi salah satu ujung tombak pengukir prestasi bagi Indonesia sempat mati suri kala ditinggal oleh ratu bulutangkis Indonesia, Liliyana Natsir. Pemain pelapis dibawah Liliyana Natsir yang diberikan tanggungjawab untuk naik kelas menjadi pemain utama belum sepenuhnya mapan dan masih kesulitan untuk bisa mengukir juara dilevel papan atas dunia.

Setelah ditinggal oleh Liliyana Natsir, sektor ganda campuran Indonesia bertumpu pada pasangan Praven/Melati dan Hafiz/Gloria, serta dibawahnya ada pula Tontowi/Winny dan Rinov/Phita yang menjadi pelapis utama. Namun sepanjang tahun 2019 ini, tepatnya sampai akhir September kemarin, empat pasangan tersebut belum mampu menampilkan performa yang stabil dan cenderung inkonsisten pada setiap turnamen yang diikuti. Terutama Praven/Melati dan Hafiz/Gloria yang menjadi pasangan utama dan tengah diproyeksikan menuju Olimpiade Tokyo 2020. Kedua pasangan yang sudah berada dijajaran ranking 10 besar dunia ini, malah seringkali kandas dibabak-babak awal dan dikejutkan oleh lawan yang rankingnya berada jauh dibawahnya. Walaupun tidak jarang pula, kadangkala mereka mampu memberikan kejutan dengan mengalahkan pasangan yang rankingnya berada diatas mereka. Akan tetapi, nasib baik belum berpihak kepada mereka yang mana sampai akhir September kemain, sektor ganda campuran Indonesia masih nihil gelar.

Nasib kurang mujur juga kerapkali dialami oleh Praven/Melati. Terhitung tahun ini sebelum bulan Oktober, Praven/Melati sudah menapaki empat kali final dan selalu berakhir dengan torehan runner up. Tentunya kepercayaan publik kepada ganda campuran Indonesia yang dulu sempat dianggap sebagai ujung tombak dalam meraih gelar juara mulai mengecil. Ditambah lagi sebelum tour Eropa ini, publik sempat dihebohkan oleh kasus indispliner Praveen Jordan yang keluar malam dan mangkir dari latihan pagi. Ada banyak komentar serta penilaian negatif yang diarahkan kepada Praven Jordan dan membuat citranya memburuk. Akan tetapi, semua penilaian negatif itu seketika sirna setelah Praven Jordan mampu membungkam penilaian buruk atas dirinya tersebut dengan raihan gelar juara Denamark Open dan French Open yang diperolehnya secara beruntun.

Publik dicengangkan oleh tranformasi skema dan gaya permainan bersih yang diperagakan oleh Praven Jordan. Selama ini publik mengenal Praven sebagai sosok pebulutangkis yang lekat dengan permainannya yang seringkali banjir error. Walaupun Praven Jordan mempunyai smash terkuat diantara pemain bulutangkis lainnya namun kekuatan serta bakatnya tersebut menjadi tak terlihat oleh kesalahan-kesalahan tak perlu yang senantiasa ia lakukan di lapangan. Kini, Ucok sapaan akrab Praven Jordan sudah tidak bersahabat lagi dengan net yang menjadi media error-nya.  Di Denmark Open dan Frensh Open, ia benar-benar memperlihatkan performa terbaiknya dan mengeluarkan jati diri permainannya yang berkelas. Sepanjang pertandingan pun, Smash pakubumi Ucok yang menggelegar jarang sekali tersangkut net dan selalu sukses menghasilkan angka serta membuat lawannya mati gaya dalam menerima hujaman smash keras dari Ucok. 

Ditambah lagi, permainan bola halus dan netting ciamik yang diperagakan oleh Melati Daeva Oktavianti begitu memikat dan senantiasa menghasilkan poin. Faktor non teknis yang kerap melanda pasangan ini seketika lenyap di dua turnamen tersebut. Keran komunikasi yang dulu terjalin kaku diantara Praven dan Melati sekarang menjadi lebih baik dan semakin terjaga. Ketika dilapangan pun, mereka senantiasa saling mengingatkan satu sama lainnya untuk tetap tenang ditengah kondisi apapun, baik itu saat sedang tertinggal maupun memimpin. Praven Jordan benar-benar berubah di dua turnamen ini, ia menjadi sosok yang lebih fokus, sabar dan mampu mengendalikan emosinya yang dulu sering tak terkontrol dengan baik. Ia juga tidak mudah mudah menyerah dan selalu berupaya mencari celah baru untuk menemukan pola yang tepat saat menaklukkan lawannya yang sedang dalam posisi unggul.

Terbukti keberhasilan Praven/Melati ini tidak terlepas dari comeback tajam yang ia lakukan kepada lawan-lawannya. Contohnya, hal ini terjadi ketika harapan publik yang mulai memudar di final French Open saat Praven/Melati kalah di set ke-1 dan tertinggal di set ke-2 dengan skor 6-11. Namun hal tersebut terpatahkan ketika mereka berhasil menikung pasangan China Zheng Siwei/Huang Yaqiong dengan tajam. Hal inipun juga sudah terjadi pada saat mereka meraih gelar perdananya di Denmark Open yang mana ketika jantung publik sudah lemas oleh drama tertikungnya Praven/Melati dengan 11 angaka beruntun yang dibukukan oleh lawan dari skor 14-7 menjadi 14-18, seketika publik kembali bersorak, ketika momoentum comeback luarbiasa berhasil diciptakan oleh pasangan ini dengan membalikkan keadaan menjadi 21-19.

Tentunya ini semua tidak terlepas dari kekuatan mental yang semakin matang dan mapan yang sekarang di miliki oleh Praven/Melati. Rasanya dengan hasil ini, Indonesia akhirnya akan mulai lega karena ada lagi penerus dari pasangan ganda campuran terbaik Indonesia Tontowi/Liliyana. Bukan tidak mungkin emas Olimpiade Tokyo 2020 disektor ganda campuran bisa kita raih nantinya bila Praven/Melati mampu mempertahankan top performanya. Apalagi mereka sudah mulai mengusik China yang selama ini begitu digdaya disektor ganda campuran dengan mempunyai dua pasangan top rankng teratas yang begitu kuat yakni Zheng Siwei/Huang Yaqiong dan Wang Yilyu/Huang Dongping. Semoga dengan hasil ini, akan semakin menambah kepercayaan diri dan mental juara yang semakin kuat pada pasangan Praven/Melati, puncaknya semoga mereka nanti akan mampu mengharumkan nama Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x