Mohon tunggu...
Ang Tek Khun
Ang Tek Khun Mohon Tunggu... Freelancer - Content Strategist

Sedang memburu senja dan menikmati bahagia di sini dan di IG @angtekkhun1

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Semalam di Phuket, Antara Tom Yam dan Singkong Thailand

12 Januari 2017   02:05 Diperbarui: 19 Januari 2017   02:22 1859
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Peta Pulau Phuket (Olah grafis: angtekkhun)

Jika karena sesuatu dan lain hal perasaan Anda sedang "biru" atau dilanda "galau" dan kehilangan gairah, cobalah pembangkit jiwa ini. Tom Yam akan mengajak Anda merasai semacam terapi kejut bagi indra pengecap. Jelas Tom Yam bukan psikolog dan tidak akan menyelesaikan masalah pribadi Anda, tapi dia dengan ikhlas mengajak Anda untuk bangkit dan berangsur mengusir gundah.

Tom Yam versi lokal yang bisa dijumpai di Yogyakarta (Foto: angtekkhun)
Tom Yam versi lokal yang bisa dijumpai di Yogyakarta (Foto: angtekkhun)
Untuk kesehatan? Pasti. Tom Yam yang rajin menampilkan udang misalnya, mungkin tidak kita sadari bahwa udang "mengandung protein komposisi asam amino yang sangat lengkap dan sangat cocok dikonsumsi bagi Anda yang aktif olahraga angkat beban karena protein padatnya dibutuhkan untuk keseimbangan homocysteine untuk pertumbuhan otot. Bagi yang sedang diet, udang cocok sebagai menu karena mengandung sedikit kalori, dan nutrisi lengkapnya mampu memaksimalkan fungsi organ tubuh," tulis website Sehatplus.

Berdasarkan kandungan herbal, kita jumpai serai/sereh yang konon memberi kita belasan manfaat, seperti menurunkan tekanan darah tinggi, mencairkan lemak, dan mengatasi anemia. Antioksidan, antiseptik, dan efek diuretik di tubuh serai/sereh bermanfaat untuk detoksifikasi. Kandungan magnesium, fosfor, dan folat menjadi nutrisi bagi perkembangan dan fungsi sistem saraf. Dan banyak lagi bila Anda ingin menelusurinya dan mengungkap bahan-bahan lainnya.

Variasi lauk pada olahan Tom Yam (Foto: angtekkhun)
Variasi lauk pada olahan Tom Yam (Foto: angtekkhun)
Tom Yam juga mengajarkan kebhinekaan, baik dari sisi komposisi racikan yang melambungkan selera, maupun sebaran kesukaan dari orang-orang beragam etnis dan negara tempat ia diterima dengan tangan terbuka. Tom Yam mempersatukan banyak kepelbagaian. Ia bukan saja sukses disambut di negara-negera Asia, pun di belahan dunia lain.

Bagi saya, Tom Yam mengajarkan demokrasi, karena tidak ada standard baku atau narasi tunggal bagi bagaimana ia diramu dan menghasilkan rasa. Saat berkunjung selama 3D2N di Bangkok misalnya, kami diajak menyantap Tom Yam sebanyak tiga kali di tempat yang berbeda. Jangan terkejut bila di negara tempat ia lahir, di tiga kesempatan berbeda itu, tak ada rasa Tom Yam yang sama.

Tom Yam pun rela bila Anda mengganti kandungan lauk di dalamnya. Di negeri asalnya, Tom Yam bisa menghadirkan udang (tom yum goong), ayam (tom yum gai), ikan (tom yum pla), maupun makanan laut yang dicampur (tom yum talay atau tom yum po taek), serta jamur. Tom Yam pun tak akan menolak bila Anda menghadirkan muatan lokal (mulok) semisal menambahkan jengkol atau petai misalnya.

Dari Lagu Koes Plus ke Singkong ala Thai

Saat tiba di pengujung santap, Singkong ala Thai yang terasa legit tak akan luput dari pilihan saya. Tak ada alasan khusus, kecuali mungkin karena kedekatan singkong dalam kehidupan serta “budaya” makan singkong yang telah akrab sejak masa kecil saya di Donggala. Saban siang menjelang petang, orang tua di rumah kerap menyajikan singkong kukus atau goreng, bergantian dengan jagung rebus dan aneka buah lainnya.

Namun, ada kisah lain yang membuat saya kita lekat dengan singkong. Mulanya, karena saya takjub dengan lirik lagu Koes Plus yang terdengar di masa kanak. Anda mungkin tahu penggalan ini lagu berjudul Kolam Susu ini:

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Kayu jadi tanaman? Pertanyaan ini terjawab saat saya hadir di kebun dan untuk pertama kalinya melihat masa tanam pohon singkong. Dari satu batang tubuhnya, dipotong-potong sepanjang kira-kira 20 cm, lalu dicocolkan ke dalam tanah. Begitu! Hanya, hanya begitu! Dari tancap-tancap “kayu” kita, kelak tumbuh pohon yang menghasilkan singkong. Wow!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun