Ang Tek Khun
Ang Tek Khun digilifepreneur

A popular, psychological view and stories about daily life; a human, personal and community behavior and trends beyond tech.

Selanjutnya

Tutup

Muda Pilihan

Pembelajaran Hidup dari Kamp Lingkar Tambang

9 Maret 2016   17:28 Diperbarui: 9 Maret 2016   22:33 352 4 4

[caption caption="Kegembiraan bersama menjelang berpisah (Foto: Ist)"][/caption]

Jika Anda ingin sukses dalam 1 tahun, tanamlah padi
Jika Anda ingin sukses dalam 10 tahun, tanamlah pohon
Jika Anda ingin sukses selama 100 tahun, didiklah manusia
—Pepatah China

PENDIDIKAN, bagi sebagian orang, masih dimaknai sebagai aktivitas duduk di bangku sekolah (atau kampus). Orangtua menunaikan kewajibannya melalui alokasi pembiayaan, lalu mereka melanjutkan hidup di dalam dunianya. Menyekolahkan anak ibarat menyerahkan properti ke pabrik otomotif. Semakin kuat kemampuan pembiayaan Anda, maka kian tinggi pula tingkat kecanggihan "produk" akhir yang dihasilkan. Dalam bahasa sederhana, kekayaan orangtua berbanding lurus dengan kualitas anak yang akan dihasilkan. Dari kantong yang tebal akan lahir "mobil" premium, dari dompet yang cekak cukuplah "kendaraan" LCGC (Low Cost Green Car).

Kita sering pula abai bahwa pendidikan formal hanyalah satu dari tiga keping utuh sumber pembelajaran. Bagian kecil dari hidup seseorang berkenaan dengan pendidikan nonformal, melalui kursus, les, dan sejenisnya. Bagian terbesar dan berlangsung sepanjang hayat adalah pendidikan informal melalui interaksi antarinsan yang kerap disebut sebagai sekolah kehidupan.

Life Skill: Kecakapan Hidup untuk Menggapai Sukses

MERAIH nilai tertinggi di kelas, bukanlah satu-satunya jalur menuju sukses. Banyak tokoh yang membahas sisi lain, misalnya untuk mudahnya kita sebut nama Robert T. Kiyosaki yang telah dikenal luas melalui bukunya Rich Dad, Poor Dad hingga Why "A" Students Work for "C" Students and "B" Students Work for the Government. Demikian pula kisah-kisah sukses orang-orang yang minim atau tak sempat mengenyam bangku sekolah hingga tingkat yang ideal.

[caption caption="Setiap peserta diizinkan untuk bertanya apa saja (Foto: @angtekkhun)"]

[/caption]Tidak mudah memahami hal ini. Ketika istilah Life Skill merebak pada awal tahun 2000, ia cenderung ditafsirkan sebagai “menambahkan pendidikan nonformal ke dalam sistem pendidikan formal”. Padahal, melalui narasi The New Zealand Curriculum Framework, Life Skill adalah "the essential skills"—kecakapan esensial yang dibutuhkan generasi muda agar dapat berpartisipasi efektif dalam kehidupan di masyarakat.

Merujuk hikmah setempat (local wisdom), saya teringat pada falsafah Minangkabau, Alam Takambang Jadi Guru. Sederhananya, bahkan alam pun bisa menjadi sumber pembelajaran bagi siapa saja yang bisa memberi perhatian dan memiliki kerendahan hati untuk belajar padanya.

Newmont Bootcamp: Life Skill Berbasis Lingkar Tambang

ADA beragam jenis camp (kamp). Di kampus, ada kamp kepemimpinan. Selama beberapa hari, di sebuah tempat yang kondusif, umumnya jauh dari keramaian, calon-calon pemimpin di kampus dikumpulkan. Ada empat elemen yang dibagikan: latihan kedisiplinan selama kamp, pembukaan wawasan melalui rangkaian panjang ceramah dari tokoh signifikan, tugas-tugas implementatif yang harus dikerjakan hingga larut malam, dan aktivitas luar ruang sebagai ajang kolaboratif dan rileksasi. Ada pula jenis kamp yang lebih spesifik. Misalnya kamp pemuridan (discipleship) dengan intensitas tinggi pada sisi membangun pribadi unggul melalui pembinaan kepribadian dan karakter. Lainnya, kamp dasar (basic) atau tematik sesuai kebutuhan institusi atau komunitas.

[caption caption="Bukan cara ceramah, sebagian besar waktu digunakan di lapangan (Foto: @angtekkhun)"]

[/caption]Namun, ada jenis kamp lain yang tanpa meminta pengakuan sebagai satu-satunya jenis ini yang eksis di tanah air, dan telah memasuki Batch V. Program lengkapnya berlabel "Sustainable Mining Newmont Bootcamp". Kamp ini jauh lebih paripurna dari kamp-kamp yang mampu saya candra atau alami di Indonesia. Setidaknya ada tiga keunggulan kamp ini:

  • Dari sisi platform, Newmont Bootcamp (NBC) memadukan kamp, dengan aktivitas magang dan wisata.
  • Dari sisi rentang waktu, ini jenis kamp dalam durasi waktu dua bahkan tiga kali lebih panjang dari kamp biasa.
  • Dari sisi Pengembangan Kapasitas (capacity building), ini adalah kamp yang tuntas. Tiga area manusia utuh dicakup olehnya: Kognitif, Konatif, Afektif.

[caption caption="Kurikulum Newmont Bootcamp versi saya (@angtekkhun)"]

[/caption]

[caption caption="Tampak peserta kamp tekun mencatat (Foto:@angtekkhun)"]

[/caption]Secara sederhana Anda dapat membelah Newmont Bootcamp ini dalam tiga bagian. Bagian pertama, pengenalan dan pengetahuan akan sistem kerja perusahaan dari hulu hingga hilir. Kedua, aktivitas sosial kemasyarakatan. Ketiga, wisata alam dan kuliner. Untuk mengulik lebih jauh, mari kita dalami butir ketiga di atas yang menyimpan harta karun yang tak ternilai:

  • Kognitif (pengetahuan, wawasan): Peserta diperkenalkan pada Standard Operating Procedure (SOP) Newmont yang harus diakui berada di level tertinggi dalam menjalankan operasi tambang. Bukan dengan metode ceramah, melainkan sekadar pengantar dan tinjauan dan diskusi di lapangan. Di sini peserta dibawa ke standar kualitas tanpa kompromi. Apa yang disebut Baik (good) dan Bagus (best) tidak cukup, karena level untuk dicapai adalah Unggul (excellence) dengan tingkat toleransi nol (zero tolerant).

[caption caption="Peserta kamp bak wartawan menguber narsum (Foto: @angtekkhun)"]

[/caption]

[caption caption="Peserta kamp diizinkan blusukan hingga ke dalam (Foto: @angtekkhun)"]

[/caption]Konatif (tindakan, perilaku): Peserta diajak meninjau, mengalami, dan terlibat dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat dengan metode live in mirip KKN mahasiswa, selama dua malam menginap di rumah penduduk dengan gaya tidur seadanya melantai. Berinteraksi dengan masyarakat serta mengisi kegiatan dan berbagi di sekolah sebagai pengajar. Di sini peserta berkesempatan memberi inspirasi (sharing) mengenai kekayaan pilihan masa depan yang dapat ditempuh oleh para siswa dan terlibat dalam tindakan nyata mewujudkan kepedulian (caring).

[caption caption="Peserta kamp berbagi informasi di depan kelas SMA Sekongkang (Foto: @angtekkhun)"]

[/caption]

[caption caption="Peserta kamp berbagi informasi hingga ke halaman sekolah (Foto: @angtekkhun)"]

[/caption]Afektif (perasaan, emosi): Peserta diajak menikmati keindahan alam dan kekayaan kuliner dengan cara unik. Bukan sekadar piknik untuk membayar lelah atau rileksasi menghibur diri. Program ini berupaya membangun dan memekarkan perasaan positif menyangkut apresiasi kekayaan alam nusantara dan lingkungan hidup sekitar, serta menyelami aneka olahan kuliner khas lokal tanpa mengumbar kemewahan. Dan yang tak ternilai mahalnya adalah keping sisi lain saat peserta berinteraksi dengan masyarakat pelaku, sehingga membangunkan sisi humanitas yang telah jarang kita alami dalam masyarakat urban. Ada kekaguman sekaligus keterharuan saat menyelami pergulatan hidup penduduk setempat dan memahami jalan berliku Newmont dalam merangkul mereka sebagai bagian dalam keluarga besar perusahaan.

[caption caption="Peserta kamp melepas tukik di Pantai Maluk (Foto: @angtekkhun)"]

[/caption]

[caption caption="Sate kerang disajikan oleh penduduk kampung Kertasari (Foto: @angtekkhun)"]

[/caption]Seribu Terima Kasih dan Berjuang Move On

ITULAH urai ringkas nilai tinggi dan sisi-sisi paripurna program Bootcamp yang diusung Newmont tanpa memungut biaya sepeser pun dari peserta—kecuali kesediaan untuk berdisplin, mendengarkan dan terlibat dalam diskusi, serta berlelah-lelah dalam perjalanan panjang berpayungkan terik mentari yang menyengat kulit dalam program yang padat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2