Khasbi Abdul Malik
Khasbi Abdul Malik Mengajar, Menulis.

Penulis Muda

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengajar Itu Seni

15 November 2017   08:33 Diperbarui: 15 November 2017   08:54 367 1 1
Mengajar Itu Seni
dokumenpribadi

Menjadi Guru adalah sesuatu sangat menyenangkan, saya sudah merasakannya selama 3 tahun mengajar di Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 3 Darul Ma'rifat, Kediri. Bertempat di Desa Sumbercangkring, Kecamatan Gurah, Kediri, Jawa Timur.

Memang tidak mudah mengajarkan ilmu pada orang lain, khususnya murid. Karena penyampaian yang disampaikan oleh guru belum tentu akan diterima langsung oleh murid. Dan semua kendala terlihat dari dua faktor: dari guru ataupun murid.

Pertama, dari faktor Guru. Dapat diprediksikan bahwa faktor terbesar dari kurangnya respon murid pada penyampaian guru adalah cara mengajar guru yang tidak sesuai kepada murid. Jika mengajar anak TK atau SD tidak bisa kita gunakan untuk mengajar di tsanawiyah-Aliyah, ataupun sebaliknya. Tetapi, guru dituntut untuk melihat karakter muridnya masing-masing agar ilmu yang disampaikan dapat diterima.

Kedua, faktor Murid. Hal ini sudah menjadi permasalah umum diberbagai sekolah di dunia, bahwa beberapa murid belum mampu menerima ilmu yang disampaikan oleh guru. Apabila ini terjadi, guru tidak sebatas perannya di sekolah saja-bisa jadi murid tersebut memiliki masalah di luar kelas (di rumah)-guru memiliki peran lebih besar mengetahui permasalah murid dan memberi arahan motivasi. Karena menjadi guru adalah menjadi sosok orang tua di sekolah.

Kendatinya demikian, saya akan berbagi beberapa pengalaman mengajar tsanawiyyah-aliyyah di dalam kelas. Kalau di Gontor di kenal dengan KMI (kulliyyatul mu'alimiinal islamiyyah). Bagi saya, mengajar memiliki dua kategori berbeda: Indoor dan outdoor. Tetapi, saya hanya akan berbagi pengalaman mengajar di dalam kelas.  

Mengajar di dalam kelas, sebuah tantangan bagi seorang guru untuk mengalihkan perhatian murid pada penjelasan materi. Demikian adalah hal tersulit dilakukan oleh banyak guru, karena tidak semua guru mampu melakukannya. Saya memiliki 3 cara untuk mengalihkan perhatian murid pada pelajar di kelas;

Petama, ketika masuk kelas di awal salam. Guru hendaknya melakukan pertanyaan yang telah diajarkan dipertemuan sebelumnya. Caranya, guru melontarkan pertanyaan, lalu menunjuk kepada salah satu murid untuk menjawab. Patut diingat, ketika menunjuk murid, harus dengan sebutan nama yang lengkap. Karena ini adalah wujud dari perhatian guru.  

Apabila guru telah menunjuk salah satu murid dan dia menjabnya salah. Guru hendaknya memberi hukuman. Saran saya untuk hukuman ini, cukup diberdirikan dengan kedua tangan memegang telinga agar sedikit menarik diantara murid lainnya. Setelah itu, menunjuk murid lain yang paling pintar di kelas. Saya yakin, pasti dia mampu untuk menjawab, walaupun sedikit salah. Ini akan menjadi respon baik untuk semua murid.

Selain itu, jangan dilupakan bahwa guru memiliki murid yang tidak bisa menjawab pertanyaan tadi. Sebaiknya, guru menyuruh murid tersebut untuk mengulangi jawaban yang telah disampaikan oleh temannya. Spontan, murid akan bisa menjawab. Apabila masih belum bisa menjawab, pilih teman yang sama untuk menjawab. Catatan: Ulangi berkali-kali jawaban jika murid masih belum bisa menjawab (diulangi oleh murid lainnya).

Kedua, setelah kita berhasil mengambil perhatian murid dengan pertanyaan tadi. Tahap berikutnya sedikti sulit, karena mengambil perhatian murid ketika penjelasan pada materi baru. Sebenarnya mudah saja, hanya cukup mengmbil beberapa dekit untuk pertanyaan pada materi yang sedang diajarkan. Misalnya, ketika guru sudah menjelaskan beberapa materi baru di kelas. Saya yakin, ada beberapa murid berkurang konsentrasinya pada materi ini. Dan guru harus terfokus pada beberapa murid tersebut, jangan sampai lengah.

Dalam hal ini, guru bisa dapat memperhatikan raut wajah dari para murid. Apabila terlihat beberapa murid yang demikian, guru harus melontarkan satu soal pada materi yang sedang dijelaskan kepada murid tersebut agar dia kembali fokus pada penjelasan materi guru. Bagaimana apabila dia tidak bisa menjawabnya? Maka, guru menjawabnya bersamaan dengan semua murid di kelas. Wal-hasil, murid akan mendapatkan pemahaman dan mulai fokus kembali.

Ketiga, penjelasan materi baru sudah berlalu. Kini menuju pada memorize pelajaran. Tepatnya mengingat kembali pelajaran yang telah dijelaskan oleh guru. Dalam hal ini guru bisa lebih kreatif dalam memberikan soal-soal. Contoh, saya memberikan soal dalam bentuk permainan. Jadikan satu gumpalan kertas untuk permainan ini, lalu siapkan soal-soal materi. Caranya, soal dilontarkan terlebih dahulu, guru menghitung dalam hitungan sepuluh dalam keadaan kertas sudah berpindah dari tangan satu murid ke murid lain.

Selanjutnya, guru sudah menghitung pada hitungan ke-10, bagi murid yang masih memegang kertas, dia berhak untuk menjawab pertanyaan pertama dari saya tadi. Tetapi cara ini tidak muthlak bisa dipakai oleh semua guru. Karena masing-masing memiliki seni dalam mengajar murid-muridnya. 

Dalam sebuah pembelajaran, cara mengajar lebih penting daripada materi, sedangkan guru lebih penting daripada cara dia mengajar, dan jiwa seorang guru jauh lebih penting daripada guru itu sendiri. Niatkan dengan jiwa seorang guru lillahi ta'ala, tanpa selalu mengingat-ingat awal bulan. Mari kita renungkan bahwa "Guru adalah pekerjaan paling mulia setelah Nabi dan Rasul". Somoga bermanfaat...