Mohon tunggu...
Khalid Walid Djamaludin
Khalid Walid Djamaludin Mohon Tunggu... Social Researcher

My name is Khalid Walid Djamaludin. I am an Independent Social Researcher from PRODES Institute Indonesia. my research interests are Economic Anthropology, Political Economy, Corruption Studies, and Social Empowerment.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Resistensi Ekonomi Bazzar dan Sektor Informal di Perkotaan

26 Januari 2021   12:22 Diperbarui: 26 Januari 2021   12:50 112 2 0 Mohon Tunggu...

Kita amati dari konsep perekonomian di kota terdapat dua bagian dari  struktur perekonomian, yakni bagian pertama perekonomian firma di mana perniagaan dan industri berlangsung melalui seperangkat pranata sosial yang impersonal dengan memperhatikan tujuan-tujuan produk dan distribusi yang utama, kemudian bagian kedua, yakni perekonomian bazaar.

Geertz menjelaskan tentang konsep ekonomi bazaar, bahwa ekonomi bazaar didasarkan atas kegiatan-kegiatan tidak terikat yang dilakukan oleh sekumpulan pedagang komoditi yang bersaing ketat dan berhubungan satu sama lain melalui sejumlah besar transaksi yang tidak menentu atau ad hoc. Higgins juga mengatakan bahwa konsep perekonomian bazaar dapat dikatakan konsep ekonomi yang padat karya (Manning, dkk, 1985: 36).

Apa yang dikemukakan Higgins, terlihat dari kondisi di kota-kota dunia ketiga yang notabene mengandalkan struktur ekonomi yang padat karya. Dan pada dasarnya konsep perekonomian bazaar merupakan penopang bagi masyarakat menengah ke bawah.

Di Indonesia sendiri kegiatan perekonomian bazaar telah menjadi sebuah hal yang tidak tabuh, tidak hanya di desa, di kotapun dua model yang dijelaskan di paragraf sebelumnya telah berjalan dengan sendirinya. Ketika kita telaah masalah kesenjangan dari kedua model tersebut dengan karakteristik masing-masing model menjadi sebuah hal yang unik. Tidak mutlak di dalam struktur perkotaan model perekonomian firma sebagai peran tunggal dalam perekonomian.

Kemudian di dalam perekonomian bazaar peran kaum wanita menjadi suatu hal yang unik, karena masalah genderpun berkenaan dengan masalah perekonomian bazaar. Kebanyakan kaum wanita mendominasi sektor perdagangan dan pelayanan rumah tangga. Ekonomi bazaarpun memainkan perannya dalam  perekonomian khususnya di perkotaan. Perekonomian bazaar sangat erat kaitanya dengan sektor informal yang berada dalam zona ekonomi berskala kecil.

S.V Sethuraman (Manning, dkk, 1985: 90) menjelaskan, bahwa sektor informal dianggap sebagai suatu manifestasi dari situasi pertumbuhan kesempatan kerja di negara sedang berkembang, karena itu mereka yang memasuki kegiatan berskala kecil ini di kota, terutama bertujuan untuk mencari kesempatan kerja dan pendapatan daripada memperoleh keuntungan. Karena mereka yang terlibat dalam sektor ini pada umumnya miskin, berpendidikan rendah, tidak terampil, dan kebanyakan para migran.

Jelas bahwa mereka bukanlah seorang kapitalis yang mencari investasi yang menguntungkan. Seharusnya mindset mereka tidak terbatas hanya dalam memperoleh kesempatan kerja yang mudah dan pendapatan bagi dirinya, tidak sebatas menjadi kaum migran yang berasumsi akan dapat bertahan hidup dan memiliki kehidupan yang layak di kawasan urban nanti. Tetapi dimungkinkan mereka dapat terbuka wawasanya dan mereka akhirnya tidak selalu termarjinalkan.

Semakin terdegradasinya perekonomian bazaar dan sektor informal menjadi sebuah hal yang penting untuk dikaji dalam proses pembangunan nasional, karena terdapat peluang yang besar dalam pemberdayaan perkonomian bazaar dalam sektor informal, salah satunya dengan bentuk butir-butir kebijakan yang protektif dan progresif.

Pembangunan ekonomi pada dasarnya dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian proses kegiatan yang dilakukan oleh suatu negara untuk mengembangkan kegiatan atau aktivitas ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup atau kemakmuran (income per kapita) dalam jangka panjang (Subandi, 2011: 78).

Kemudian Meier menjelaskan pembangunan ekonomi (Subandi, 2011: 9), yaitu suatu proses di mana pendapatan per kapita suatu negara meningkat selama kurun waktu yang panjang, dengan catatan bahwa jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan absolut tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak semakin timpang. 

Definisi tersebut merupakan definisi yang paling banyak diterima, karena jelas ketika faktor ekonomi, yakni persentase jumlah pendapatan perkapita, kemudian faktor lain, seperti pertumbuhan jumlah penduduk miskin bertambah, maka akan bertambah bebannya. Distribusi pendapatan akan semakin tidak merata. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN