Mohon tunggu...
Ketut Suasti
Ketut Suasti Mohon Tunggu... -

Karyawan Swasta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kisah Mistis dibalik Pementasan Calon Arang di Bali

21 Oktober 2015   10:38 Diperbarui: 21 Oktober 2015   10:58 7893 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pementasan drama tari calon arang yang sudah dilakukan selama puluhan tahun lamanya di Bali, merupakan salah satu tari yang bersifat spiritual selain sebagai hiburan bertema horor. Tari calon arang dipentaskan dalam upacara Odalan di pura Dalem (pura tempat berstananya Dewa Siwa dan istrinya Dewi Durga). Pementasan drama tari ini pun dilakukan pada tengah malam, tanpa nyala lampu sedikit pun, di pinggir kuburan dekat pura Dalem. Sehingga bisa dibayangkan horornya menonton pementasan drama tari ini, apalagi dengan adegan-adegan tertentu yang mampu membuat bulu kuduk berdiri. Namun pementasan drama tari ini selalu ditunggu masyarakat Bali karena mampu memberikan hiburan yang menaikkan adrenalin dan menjadi salah satu prasyarat spiritual dalam menutup upacara Odalan di pura Dalem. Kisah mistis apa saja yang terdapat dalam pementasan drama tari ini?  

Drama tari yang sebenarnya inti sarinya berkisah tentang kematian akibat ilmu hitam dan kemudian  dilawan dengan ajaran agama ini memang sangat relevan dipentaskan dalam upacara di pura Dalem untuk memuliakan Dewa Siwa yang bertugas mencabut nyawa manusia dan mengayomi para arwah setelah meninggal, dengan istrinya Dewi Durga, dewi yang mengayomi manusia penggemar dunia mistik, baik yang bersifat baik maupun jahat.

Kemistisan drama tari ini salah satunya karena menyertakan adegan kematian yang dipentaskan secara live oleh seorang penari khusus. Penari yang mementaskan adegan ini adalah seseorang yang memang memiliki kelebihan (taksu) tertentu, sebab konon penari ini memang betul-betul “meninggal” pada saat pentas, namun kemudian “dihidupkan” kembali pada adegan lainnya. Jika apes, penari ini bisa tidak “bangun” lagi alias meninggal betulan! Dalam masyarakat Bali kisah-kisah kematian dengan cara seperti ini dianggap hal lumrah, sebab si penari memang sudah “ditunjuk” oleh Tuhan dan jika setiap saat nyawanya hilang akibat kerja luhur/suci ini, maka ia pun telah siap. Keluarga dan handai taulan tidak pernah meributkan atau mempermasalahkannya sebab meninggal akibat menari spiritual sejenis ini, dianggap sebagai pengorbanan suci (yadnya).

Kisah mistis lainnya dalam drama tari ini adalah adegan para murid yang mempelajari ilmu hitam dengan gurunya yaitu Si Calon Arang. Para penari ini benar-benar mengalami kesurupan seperti para murid ilmu hitam yang nyata. Adegan ini pun mengundang para “leak” atau manusia yang suka dengan ilmu hitam untuk datang, sehingga adalah hal lumrah terjadi pemandangan mistis, di mana terjadi bola-bola api yang meluncur di sekitar kuburan atau yang disebut “perang api”. Bola-bola api yang meluncur di udara itu diyakini sebagai wujud lain dari “leak”. Bola-bola api ini dapat dilihat dengan mata telanjang oleh para penonton, dan sampai saat ini belum didengar kabar dapat melukai penonton. Bola api hanya “berperang” dengan sesama bola api lainnya.

Kisah mistis lainnya adalah adanya larangan bagi penonton untuk pulang di tengah drama tari ini. Seorang penonton harus siap mengikuti adegan demi adegan dari awal hingga akhir (tengah malam hingga dini hari, pukul 4 atau 5 pagi). Jika seorang penonton pulang atau meninggalkan areal sebelum drama tari ini berakhir, maka si penonton mesti siap “dicegat”  oleh para “leak”. Tentu saja horor jika sampai dihadang “leak” di jalan, kan? Sehingga tak heran para penonton dengan tekun mengikuti gelar drama ini, dan tentu saja anak-anak dan bagi pengidap jantung dilarang menonton drama ini.

Selain hal-hal di atas, rumah-rumah di sekitar areal pementasan dilarang menghidupkan lampu, sebab para “leak” memang sangat menyukai keadaan gelap gulita. Jika ada nyala lampu, maka ilmu hitam mereka tidak “jadi” alias melempem. Demikian pula tidak ada satu kendaraan pun yang diijinkan lewat di jalan umum yang melalui areal pekuburan. Suara bising serta nyala lampu kendaraan dapat pula menganggu konsentrasi para “leak”. Para pelanggar tentu saja mesti bersiap dicari atau dihadang para “leak”. Mau?

Demikianlah beberapa cerita mistis dibalik pementasan drama tari Calon Arang. Pada intinya masyarakat Bali bukanlah pemuja setan sebab mementaskan adegan-adegan ilmu hitam serta secara tidak langsung “mengundang” para penggemar ilmu hitam (leak) untuk hadir. Namun dalam filosofi budaya Hindu Bali, dipercayai bahwa dunia ini terdiri dari dunia yang hitam (ilmu hitam) dan putih (ilmu putih). Kedua dunia yang hitam-putih itu menciptakan harmoni (balance) dalam kehidupan. Kedua ilmu hitam dan putih itu, yang akan menimbulkan kesucian pada dunia ini. Pada akhirnya dipercayai bahwa ilmu putihlah yang menang, seperti juga yang tertuang pada epilog drama tari Calon Arang ini.    

Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan