Mohon tunggu...
Keterva Q
Keterva Q Mohon Tunggu... Freelancer - Keterva Qizeta

Keterva Qizeta

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Reynhard Sinaga dan Kotak Pandora Gay Indonesia?

13 Januari 2020   20:55 Diperbarui: 13 Januari 2020   20:57 2987
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ramainya pemberitaan mengenai kasus pemerkosaan pria di Inggris yang dilakukan oleh salah satu pelajar pria Indonesia beberapa hari yang lalu menggemparkan masyarakat. Walaupun pada awalnya saya merasa tidak terlalu peduli terhadap isu LGBT karena saya berpikiran bahwa itu adalah keputusan dan pilihan hidup setiap orang, keunikan kasus ini dan banyaknya pertanyaan yang mecuat di dalam pikiran mengantarkan saya untuk melakukan penjelajahan lebih dalam yang mana secara tidak sengaja menemukan banyak kejutan mengenai dunia LGBT di Indonesia.
Pada tulisan ini saya tidak akan membahas apakah menjadi pelaku LGBT di Indonesia itu berdosa atau melanggar sila pertama ideologi dasar Indonesia. Di tulisan ini saya hanya menfokuskan bagaimana seks bebas serta infiltrasi alias penyuntikan pornografi LGBT di social media,  keterkaitan institusi Pendidikan dengan LGBT di Indonesia hingga apakah benar bahwa Indonesia secara tidak langsung melegalkan LGBT. 


A. LGBT in social media

  1. Peraturan akses konten dewasa pada Twitter memang mengherankan, sosial media tersebut dapat berkamuflase menjadi situs porno yang paling mudah diakses. Tak perlu akun atau bahkan VPN, dengan mengetik kata kunci berbau hal dewasa di kolom pencarian maka platform tersebut akan menyediakan  gambar hingga video yang sangat cabul. Kominfo perlu menangani ini dengan serius dan sesegera mungkin. Sebagai catatan bahwa ini bukan hanya menjadi isu pornografi LGBT, ini juga menyangkut semua isu pornografi bertemakan heteroseksual.

  2. Twitter hanya memberikan peringatan "Caution: This profile may include potentially sensitive content" yang mudah dilewati. Video pendek pornografi, baik dari cuplikan video porno profesional ataupun video porno amatir, dapat ditemukan secara praktis pada akun-akun cabul di Twitter. Video cabul mudah diputar dengan cukup menekan tombol "Lihat" dan tentunya kalimat pajangan "media berikut mengandung konten yang mungkin sensitif" tidak cukup menjegal anak dibawah umur melihatnya. 

    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri

  3. Akun gay yang mengatasnamakan kelompok SMP, SMK ataupun SMA marak ditemukan di berbagai macam sosial media, dari  grup Facebook, Line hingga Twitter. Tak hanya itu, terkadang beberapa akun juga menyematkan nama daerah/kota. Salah satu contohnya adalah  terbongkarnya grup Facebook gay di Garut yang anggotanya mencapai 2600 orang lebih. Tentu ini sangat mengerikan, terutama apabila terdapat banyak anak dibawah umur yang terlibat. Dikhawatirkan mereka dapat terjerumus dan disalahgunakan oleh oknum penggila cabul.

    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri

  4. Terdapat banyak akun gay di Twitter yang diikuti oleh ratusan ribu orang, kemudian yang membuat hal ini menjadi parah adalah kebanyakan dari akun-akun tersebut  menyebarkan video cabul bahkan memberikan tata cara melakukan hubungan seks bebas.  Kemudian akun yang mengatasnamakan "gay Indonesia" aktif menyebarkan gambar bugil hingga video tidak senonoh. Beberaa video telah ditonton ratusan ribu kali hingga jutaan kali.

    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri

    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri

  5. Tak hanya Twitter, Youtube pun perlu dilakukan perbaikan mengenai mekanisme konten berbau dewasa. Anak-anak yang salah kaprah  dan masa remaja yang sedang mencari jati diri dikhawatirkan dapat terjerumus dalam tindakan pornografi atau bahkan seks bebas. Jika anda perhatikan banyak dijumpai konten yang seharusnya tidak patut dijadikan thumbnail atau konten video.

    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri

  6. Pergerakan pelaku penyuka sesama jenis ini semakin berani dan terbuka. Mulai dari pembuatan vlog hingga video series berbahasa Indonesia berjudul bianglala(konten ini sudah tidak ada pada channel YT).Tak hanya itu, mereka dimanjakan aplikasi-aplikasi pencari jodoh penyuka sesama jenis. Walaupun telah dilarang kominfo untuk tersedia di Playstore, aplikasi tersebut tetap dapat mudah diunduh melalui link yang disediakan oleh pembuat aplikasi tersebut atau dari beberapa akun yang aktif menyebarkan cabul.

    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri

  7. Video porno LGBT di jual bebas secara mudah di sosial media dan dipasang berbagai macam tarif. Sekali lagi, ini tidak hanya menjadi isu bertemakan homoseksual. Namun dari sini kita dapat melihat bagaimana porno LGBT telah merambah ke dunia bisnis.
    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri

    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri

  8. Satu hal yang perlu diingatkan kepada orang tua adalah pengawasan terhadap anak dalam menggunakan sosial media. Dengan kemudahan komunikasi melalui sosial media,terkadang pelaku LGBT membuat sekelompok grup gay yang mengatasnamakan perkumpulan anak gay SMP ataupun SMA. perlu ditekankan kembali, itu adalah pilihan anda ingin menjadi pelaku LGBT atau tidak. Konsekuensi dan ajaran masing-masing agama telah memperingatkan apa peluang yang terjadi jika anda memilih jalan tersebut.

    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri

    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri

  9. Terdapat komik berbahasa Indonesia mengandung konten LGBT yang diunggah oleh salah satu akun yang menyematkan nama Indonesia.

Kolase - blued_id
Kolase - blued_id

B. Oknum LGBT di universitas?

  1. Mayoritas universitas di Indonesia tidak menyetujui aktivitas LGBT di dalam kampus.

    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri
    Kolase - detik.com
    Kolase - detik.com

  2. Beberapa dari oknum pelaku LGBT membentuk suatu komunitas serta mencatutkan nama institusi dimana oknum berkuliah. Beberapa kelompok tersebut ada yang terbentuk menjadi kelompok yang mana agendanya disampaikan secara terang-terangan.
  3. Adapula situs berbahasa Indonesia yang menyediakan grup chat untuk memudahkan para pelaku  berkomunikasi, yaitu boyzforum.com, beberapa dari ruang chat mencatutkan nama institusi-institusi pendidikan di Indonesia. Situs tersebut tidak dapat diakses dengan "browser biasa". Namun sebenarnya ada cara yang mudah untuk melihat sekilas mengenai kepastian grup chat tersebut, anda tingal ketik saja di Google dengan mengetik boyzforum yang diikuti nama institusi. Beberapa  grup chat masih aktif sampai sekarang.
    (warning: tidak bijak apabila menjustifikasi suatu institusi karena hanya terdapat sekelompok oknum yang melakukannya, oknum dari institusi lain yang tidak ditampilkan di bawah ini bukan berarti tidak ada, barangkali mereka menggunakan nama samara/kode yang lebih sulit dilacak).

    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri

    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri
    picture6-5e1c54ab097f36411b77ec55.png
    picture6-5e1c54ab097f36411b77ec55.png

    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri

    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri

  4. Terdapat SGRC UI
    Sejauh Ini SGRC UI adalah organisasi yang paling terbuka mengenai LGBT untuk mengetahui lebih dalam silahkan cek ask.fm/SGRCUI.
    Kolase - dokpri
    Kolase - dokpri


C. Indonesia secara tidak langsung melegalkan LGBT? 

  1. Terdapat situs berbahasa Indonesia yaitu melela.org yang mana di situs tersebut menyediakan fasilitas bagi para pelaku LGBT untuk mengekspresikan dan membenarkan perilaku mereka. Istilah melela itu sendiri mirip dengan coming out dan ini merujuk pada tindakan pengakuan kepada publik atau orang terdekat atas hasrat seksualnya.
    Kolase - melela.org
    Kolase - melela.org

  2. Selain melela.org terdapat situs berbahasa Indonesia yang serupa dalam membagikan informasi pembenaran LGBT yaitu suarakita.org.

    HALAMAN :
    1. 1
    2. 2
    Mohon tunggu...

    Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
    Lihat Humaniora Selengkapnya
    Beri Komentar
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

    Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun